Olahraga dan Pendidikan

Api Berkobar di Kampus, Rektor Dwijendra Langsung Ambil APAR


Denpasar, PancarPOS | Kobaran api tiba-tiba muncul di lingkungan Yayasan Dwijendra, Kamis (27/8/2026). Namun, suasana bukan kepanikan yang terjadi. Di hadapan dosen dan mahasiswa, Rektor Dwijendra University Prof. Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc., MMA langsung mengambil Alat Pemadam Api Ringan (APAR) dan mempraktikkan cara memadamkan api.

Aksi tersebut merupakan bagian dari sosialisasi dan demonstrasi penggunaan APAR yang digelar Dwijendra University melalui Tim Kampus Siaga Bencana bekerja sama dengan Perusahaan Servvo dari Banten. Kegiatan ini menjadi langkah nyata memperkuat kesiapsiagaan sivitas akademika dalam menghadapi potensi kebakaran dan kondisi darurat di lingkungan kampus.

Rektor Dwijendra University Prof. Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc., MMA mengatakan kondisi keamanan, keselamatan dan kesehatan atau K3 di lingkungan kampus merupakan hal yang wajib diwujudkan oleh setiap perguruan tinggi.

Menurutnya, kampus harus menjadi ruang yang aman bagi seluruh sivitas akademika. Gedung, ruang kelas, laboratorium hingga berbagai fasilitas fisik harus memenuhi standar keselamatan serta terbebas dari potensi bahaya, baik fisik, elektrikal maupun risiko lainnya.

“Perguruan tinggi memiliki kewajiban untuk memastikan seluruh sarana dan prasarana yang digunakan sivitas akademika memenuhi aspek keamanan, keselamatan dan kesehatan. Kesiapsiagaan terhadap kebakaran menjadi salah satu bagian penting yang harus kita bangun bersama,” ujar Prof. Gede Sedana seusai kegiatan.

Komitmen terhadap K3 kampus tersebut, kata dia, juga sejalan dengan Pasal 48 ayat (7) Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nomor 53 Tahun 2023 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi.

Regulasi tersebut mengatur bahwa penjaminan dan penyediaan akses terhadap sarana dan prasarana perguruan tinggi harus memenuhi ketentuan keamanan, keselamatan dan kesehatan, termasuk kelengkapan pencegahan dan pemadam kebakaran serta kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat akibat bencana.

Karena itu, kegiatan tidak berhenti pada penyampaian teori. Para peserta langsung diajak melihat dan mencoba bagaimana menggunakan APAR saat menghadapi kebakaran kecil.

Dalam simulasi tersebut, Rektor Dwijendra University juga turun langsung memperagakan tahapan penggunaan APAR. Mulai dari cara membawa alat, mengoperasikannya, memegang selang, memperhatikan arah angin hingga mengarahkan semprotan ke titik api.

Kobaran api yang semula menyala dapat dipadamkan dalam waktu singkat. Demonstrasi tersebut sekaligus memberikan gambaran bahwa penggunaan APAR pada dasarnya tidak rumit, namun membutuhkan pengetahuan dan keberanian untuk bertindak cepat dan tepat.

“Penggunaan APAR sebenarnya sangat sederhana. Kalau kita mengetahui prosedurnya dan bertindak dengan benar, api dalam skala kecil bisa segera dikendalikan sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar,” jelas Sedana.

Tak hanya menyaksikan, dosen dan mahasiswa, baik perempuan maupun laki-laki, juga diberikan kesempatan mencoba secara langsung menggunakan APAR untuk memadamkan api. Antusiasme peserta terlihat saat mereka bergantian mempraktikkan keterampilan dasar yang mungkin suatu saat sangat dibutuhkan dalam kondisi darurat.

Bagi Prof. Gede Sedana, pengalaman langsung tersebut jauh lebih bermakna karena memberikan pengetahuan sekaligus keterampilan praktis kepada sivitas akademika.

“Melalui sosialisasi dan demonstrasi ini, kami merasakan manfaat yang signifikan. Sivitas akademika memiliki tambahan pengetahuan dan keterampilan dasar untuk menggunakan APAR dalam menghadapi situasi mendadak dan darurat, khususnya kebakaran kecil, sehingga risiko yang lebih besar dapat dicegah,” ungkapnya.

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa keselamatan di lingkungan pendidikan bukan hanya soal tersedianya fasilitas, tetapi juga kesiapan manusianya untuk bertindak ketika situasi darurat terjadi.

Sebab, dalam kondisi kebakaran, beberapa detik pertama bisa menjadi penentu. Dengan pengetahuan yang tepat dan keberanian menggunakan APAR, api kecil dapat dihentikan sebelum berubah menjadi bencana besar. ama/ksm


Back to top button