Nasional

Terpesona Bali, Bupati Wakatobi Temui Gubernur Koster Belajar Dongkrak Produk Lokal dan Pariwisata


Denpasar, PancarPOS | Keberhasilan Bali menata pariwisata sekaligus mengangkat produk lokal hingga memiliki nilai ekonomi tinggi menarik perhatian daerah lain di Indonesia. Kali ini, Bupati Wakatobi Haliana datang langsung menemui Gubernur Bali Wayan Koster untuk belajar dari pengalaman Pulau Dewata.

Pertemuan berlangsung di Rumah Jabatan Gubernur Bali, Jaya Sabha, Denpasar, Rabu (26/8/2026). Wakatobi ingin menggali pengalaman Bali dalam membangun pariwisata berbasis potensi daerah sekaligus menjadikan produk lokal sebagai penggerak ekonomi masyarakat.

Bupati Haliana mengakui Bali telah menjadi salah satu destinasi pariwisata yang diakui dunia. Karena itu, berbagai kebijakan yang berhasil diterapkan di Bali dinilai layak dipelajari dan diadaptasi sesuai dengan karakter serta potensi yang dimiliki Wakatobi.

“Program yang bagus di Bali bisa kita implementasikan juga di Wakatobi,” ujar Haliana.

Dalam pertemuan tersebut, Gubernur Koster memaparkan sejumlah kebijakan yang telah diterapkan Bali untuk melindungi sekaligus mengembangkan produk lokal. Salah satu yang menjadi perhatian adalah keberhasilan Bali menata keberadaan arak Bali.

Menurut Gubernur Koster, produk tradisional tidak harus dimatikan atau dilarang. Yang terpenting adalah bagaimana pemerintah hadir untuk menata, memberikan kepastian hukum, serta memastikan produk tersebut berkembang dengan standar yang baik dan memberikan manfaat bagi masyarakat lokal.

“Jangan dilarang, tapi kita atur,” tegas Gubernur Koster.

Dari Produk Tradisional Menuju Pasar yang Lebih Luas

Koster menjelaskan, produksi arak Bali kini terus berkembang dan memiliki kualitas yang mampu bersaing dengan berbagai produk minuman beralkohol kelas dunia. Pemerintah Provinsi Bali memberikan ruang bagi masyarakat untuk memproduksi secara legal dan aman sepanjang memenuhi ketentuan yang berlaku.

Namun, legalitas bukan berarti produk tersebut dapat diperdagangkan secara bebas tanpa aturan. Tata kelola tetap diberlakukan secara ketat, mulai dari proses perizinan, standar pengemasan dan pelabelan hingga sistem distribusi melalui koperasi maupun distributor resmi.

“Kita tidak memberikan izin untuk korporasi besar. Kita fasilitasi UMKM lokal Bali untuk mengambil bagian,” ujar Gubernur Koster.

Kebijakan tersebut menjadi salah satu bentuk keberpihakan pemerintah terhadap masyarakat dan pelaku usaha kecil. Produk lokal yang sebelumnya bergerak dalam ruang terbatas kini didorong untuk memiliki nilai tambah dan memasuki pasar yang lebih luas.

Pengaturan tersebut sejalan dengan Pergub Bali Nomor 1 Tahun 2020 tentang Tata Kelola Minuman Fermentasi dan/atau Destilasi Khas Bali, yang menjadi dasar perlindungan sekaligus pengembangan produk tradisional khas Bali seperti arak, brem, dan tuak.

Dampak positifnya pun mulai terlihat. Koster menyebut arak Bali kini telah menjadi salah satu produk yang memiliki penjualan tinggi di gerai kedatangan maupun keberangkatan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.

Selain arak, Gubernur Koster juga menyoroti potensi garam lokal Bali yang memiliki kualitas tinggi dan layak terus dikembangkan menjadi produk unggulan daerah.

Bagi Koster, potensi lokal akan memberikan manfaat ekonomi lebih besar apabila pemerintah mampu membangun sistem yang melindungi masyarakat sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas.

Wakatobi Siap Belajar dari Bali

Tidak hanya membahas produk lokal, pertemuan tersebut juga menjadi ruang berbagi pengalaman mengenai pengembangan pariwisata.

Gubernur Koster mendorong Wakatobi untuk memperkuat paket pariwisatanya. Menurutnya, sebuah daerah tujuan wisata harus memiliki daya tarik yang jelas dan didukung oleh ekosistem pariwisata yang lengkap.

“Kita bisa berlakukan paket pariwisata untuk menarik kunjungan wisatawan ke Wakatobi. Harus ada objek yang ditawarkan, hotel, restoran, dan destinasi yang indah,” jelas Gubernur Koster.

Haliana menyambut baik berbagai masukan tersebut. Ia mengatakan Wakatobi kini memiliki konektivitas penerbangan langsung dengan Bali sebanyak dua kali dalam sepekan. Kondisi itu menjadi peluang besar untuk memperkuat hubungan kedua daerah, khususnya di sektor pariwisata.

Menurut Haliana, pengalaman Bali dalam membangun pariwisata dan memanfaatkan potensi produk lokal dapat menjadi referensi berharga bagi Wakatobi.

“Saya mohon izin ke Pak Gubernur, kita nanti akan studi banding terkait pemanfaatan produk lokal,” ujarnya.

Pertemuan antara Gubernur Koster dan Bupati Haliana membuka peluang kerja sama yang lebih luas antara Bali dan Wakatobi. Pengalaman Bali dalam menata produk tradisional, memperkuat UMKM hingga membuka akses pasar menjadi inspirasi yang ingin dipelajari Wakatobi.

Bali pun kembali menunjukkan bahwa kekuatan daerah tidak hanya terletak pada keindahan alam dan pariwisatanya. Ketika produk lokal ditata dengan baik dan masyarakat menjadi pelaku utama, potensi tradisional dapat tumbuh menjadi kekuatan ekonomi yang membanggakan. mas/ama/*


Back to top button