Ekonomi dan Bisnis

Sira Village Kura-Kura Bali Didorong Jadi Etalase Pangan Lokal Bali


Denpasar, PancarPOS | Rektor Dwijendra University, Prof. Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc., M.M.A., mendorong pengelola Sira Village–Grand Outlet Bali di kawasan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura-Kura Bali untuk menjadikan sektor kuliner berbasis pangan lokal sebagai bagian utama dalam pengembangan kawasan. Langkah tersebut dinilai mampu memperkuat sektor pertanian, perikanan, UMKM, sekaligus mendukung visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali.

Menurut Prof. Gede Sedana di Denpasar, Minggu (2/8/2026), keberadaan Sira Village tidak hanya perlu menjadi destinasi belanja dan gaya hidup bertaraf internasional, tetapi juga harus mampu memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi petani, nelayan, dan pelaku usaha lokal melalui pemanfaatan bahan baku pangan asal Bali.

“Konsep kuliner berbahan pangan lokal merupakan strategi penting untuk menyatukan destinasi lifestyle kelas dunia dengan identitas budaya serta prinsip keberlanjutan Bali. Kehadiran Sira Village harus mampu menjadi etalase produk pangan lokal yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, konsep ruang terbuka atau open-air waterfront yang diusung Sira Village sangat ideal dipadukan dengan konsep farm-to-table, yakni memanfaatkan hasil pertanian Bali sebagai sumber utama bahan baku restoran dan kafe di kawasan tersebut.

Menurutnya, kemitraan berkelanjutan antara pelaku usaha kuliner dengan kelompok tani perlu dibangun secara serius sehingga tercipta rantai pasok yang memberikan kepastian pasar bagi petani sekaligus menjamin ketersediaan bahan baku berkualitas bagi pelaku usaha.

Selain sektor pertanian, Prof. Gede Sedana juga mendorong diterapkannya konsep from ocean to table dengan memanfaatkan hasil perikanan dan kelautan Bali sebagai menu utama restoran. Dengan demikian, nelayan lokal juga memperoleh manfaat langsung dari berkembangnya industri pariwisata di kawasan KEK Kura-Kura Bali.

Ia menambahkan, restoran dan kafe di Sira Village semestinya mengutamakan penggunaan sayuran organik dari sentra pertanian Bali seperti Bedugul dan Tabanan. Begitu pula penggunaan bumbu dan rempah-rempah khas Bali, seperti basa genep, cabai, serai, daun jeruk purut, hingga garam laut tradisional Kusamba agar mampu menghadirkan cita rasa autentik yang menjadi daya tarik wisata kuliner.

“Untuk sektor minuman juga sebaiknya memanfaatkan produk lokal. Penyajian kopi hendaknya menggunakan biji kopi Kintamani maupun Pupuan, termasuk mengembangkan minuman herbal berbahan baku hasil pertanian Bali sehingga seluruh rantai nilai ekonomi dapat dinikmati masyarakat lokal,” katanya.

Prof. Gede Sedana menilai penggunaan bahan pangan lokal juga merupakan implementasi nyata berbagai kebijakan Pemerintah Provinsi Bali. Salah satunya Pergub Bali Nomor 99 Tahun 2018 tentang Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Pertanian, Perikanan, dan Industri Lokal Bali.

Melalui kebijakan tersebut, Sira Village diharapkan menjadi pasar yang mampu menyerap hasil pertanian Bali, mulai dari kopi Kintamani, sayuran organik Bedugul dan Tabanan, buah-buahan lokal, hingga hasil laut nelayan Serangan yang kemudian disajikan kepada wisatawan domestik maupun mancanegara.

Di sisi lain, penerapan Pergub Bali Nomor 24 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Sistem Pertanian Organik juga dapat diwujudkan melalui konsep farm-to-table. Restoran yang mengutamakan bahan baku organik akan mendorong petani Bali untuk semakin konsisten menerapkan sistem budidaya organik guna memenuhi standar restoran premium, fine dining, maupun gourmet outlet.

Menurut Prof. Gede Sedana, penguatan sektor kuliner berbasis pangan lokal juga sejalan dengan arah pembangunan Ekonomi Kerthi Bali yang menitikberatkan pada pembangunan ekonomi hijau dan berkelanjutan.

Ia menjelaskan, sektor pertanian dan perikanan harus menjadi penyokong utama industri pariwisata sehingga petani dan nelayan tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi memperoleh manfaat ekonomi yang nyata dari pertumbuhan sektor pariwisata Bali.

Selain itu, pelaku UMKM dan industri kreatif juga perlu diberi ruang lebih besar untuk menghadirkan berbagai produk olahan pangan, craft beverage, maupun bumbu tradisional Bali dalam kemasan modern yang memiliki daya saing di pasar global.

“Apabila seluruh rantai pasok pangan lokal mampu terintegrasi dengan kawasan Sira Village, maka kawasan ini tidak hanya menjadi destinasi belanja internasional, tetapi juga menjadi contoh pembangunan pariwisata berkualitas yang memperkuat ekonomi lokal, menjaga keberlanjutan lingkungan, serta mengangkat identitas budaya Bali melalui kekayaan kulinernya,” tegas Prof. Gede Sedana. ama/ksm


Back to top button