Gianyar, PancarPOS | Kabar menggembirakan datang dari Desa Mas, Ubud, Kabupaten Gianyar. Salah satu seni tradisional yang sempat meredup dan nyaris dilupakan, kini kembali dihidupkan oleh masyarakat setempat. Seni tersebut adalah Cak Godongan, sebuah pertunjukan khas yang memadukan suara “cak” seperti pada tari kecak dengan sentuhan unik yang disebut “godogan”. Kebangkitan seni ini menjadi angin segar, tidak hanya bagi pelestarian budaya, tetapi juga bagi pengembangan pariwisata berbasis kearifan lokal di Bali.
Re-launching atau peluncuran kembali Cak Godongan ini digelar di Njana Tilem Museum, Banjar Kawan, Desa Mas. Tempat ini dipilih bukan tanpa alasan. Selain memiliki nilai historis dan artistik, museum tersebut juga dikenal sebagai ruang kreatif yang kerap menjadi wadah bagi tumbuh dan berkembangnya berbagai bentuk seni tradisional Bali. Suasana yang kental dengan nuansa budaya menjadikan lokasi ini sangat tepat untuk menandai kebangkitan kembali seni yang pernah menjadi kebanggaan masyarakat Desa Mas.
Cak Godongan sendiri memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh pertunjukan lain. Jika pada umumnya seni kecak mengandalkan suara “cak” sebagai elemen utama, maka dalam Cak Godongan terdapat tambahan unsur “godogan” yang memberikan warna tersendiri. Perpaduan ini menciptakan ritme yang lebih dinamis, sekaligus menghadirkan pengalaman menonton yang berbeda bagi penonton. Tidak hanya sekadar hiburan, pertunjukan ini juga mengandung nilai-nilai kebersamaan, kekompakan, serta semangat gotong royong yang tercermin dari harmonisasi para penampil.

Pementasan perdana dalam rangka re-launching ini telah dilaksanakan pada 22 April 2026. Sejak sore hari, masyarakat mulai berdatangan ke lokasi acara. Tidak hanya warga lokal, sejumlah wisatawan juga terlihat antusias ingin menyaksikan langsung pertunjukan yang sempat lama tidak tampil ini. Suasana penuh kehangatan terasa sejak awal, seolah menjadi pertanda bahwa Cak Godongan masih memiliki tempat di hati masyarakat.
Saat pertunjukan dimulai, puluhan penampil duduk melingkar, melantunkan suara “cak” secara serempak. Irama yang dihasilkan terdengar kompak dan menggema, menciptakan atmosfer yang begitu hidup. Di tengah-tengah lingkaran, beberapa penari tampil dengan gerakan yang selaras dengan ritme suara yang dihasilkan. Unsur “godogan” yang menjadi ciri khas pertunjukan ini semakin memperkaya dinamika, menghadirkan sensasi yang tidak biasa bagi penonton.
Para penonton tampak terpukau. Beberapa di antaranya bahkan terlihat mengabadikan momen tersebut melalui kamera ponsel. Tepuk tangan meriah berkali-kali terdengar, menandakan apresiasi yang tinggi terhadap penampilan para seniman. Bagi sebagian masyarakat, momen ini bukan hanya sekadar tontonan, tetapi juga menjadi ajang nostalgia yang mengingatkan mereka pada masa lalu, ketika Cak Godongan masih sering dipentaskan.
Kebangkitan Cak Godongan ini tidak lepas dari peran aktif masyarakat Desa Mas, khususnya Banjar Kawan, yang memiliki komitmen kuat untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya. Pemerintah Desa Mas juga turut memberikan dukungan penuh, baik dari segi fasilitasi maupun koordinasi dengan berbagai pihak terkait. Upaya ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak bisa dilakukan secara sendiri-sendiri, melainkan membutuhkan kerja sama dari berbagai elemen masyarakat.

Dalam acara tersebut, sejumlah pejabat turut hadir memberikan dukungan. Di antaranya Sekretaris Daerah Kabupaten Gianyar, jajaran kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Camat Ubud, Danramil, hingga Kapolsek Ubud. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa pemerintah daerah memberikan perhatian serius terhadap upaya pelestarian seni dan budaya.
Selain itu, dukungan juga datang dari pihak Bank BPD Bali Cabang Ubud hadir sebagai sponsor dalam kegiatan ini. Peran dunia usaha dalam mendukung kegiatan budaya seperti ini dinilai sangat penting, terutama dalam hal pembiayaan dan keberlanjutan program. “Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta diharapkan dapat menjadi model yang efektif dalam menjaga eksistensi seni tradisional di tengah perkembangan zaman,” ungkap Kepala Bank BPD Bali Cabang Ubud, Anak Agung Ngurah Trisna Andayana., S.H., di Ubud pada Rabu (29/4/2026).
Lebih jauh, kebangkitan Cak Godongan juga membuka peluang baru bagi pengembangan pariwisata di Desa Mas. Selama ini, Desa Mas dikenal sebagai sentra seni ukir kayu yang telah mendunia. Namun, dengan hadirnya kembali Cak Godongan, desa ini kini memiliki tambahan daya tarik yang dapat menarik minat wisatawan, khususnya mereka yang ingin menikmati pertunjukan seni tradisional secara langsung.
Pengembangan pariwisata berbasis budaya seperti ini dinilai lebih berkelanjutan, karena tidak hanya mengandalkan keindahan alam, tetapi juga mengangkat nilai-nilai lokal yang menjadi identitas masyarakat. “Selain itu, kegiatan ini juga dapat memberikan dampak ekonomi bagi warga setempat, mulai dari pelaku seni, pengelola tempat pertunjukan, hingga pelaku usaha kecil di sekitar lokasi,” imbuhnya.
Ke depan, masyarakat Desa Mas berharap agar Cak Godongan dapat dipentaskan secara rutin, tidak hanya pada momen-momen tertentu. Dengan demikian, seni ini dapat terus hidup dan berkembang, sekaligus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Generasi muda juga diharapkan dapat terlibat aktif, baik sebagai penampil maupun sebagai penggerak, sehingga keberlanjutan seni ini dapat terjamin.

Upaya pelestarian ini juga menjadi tantangan tersendiri. Di tengah arus modernisasi dan globalisasi, minat generasi muda terhadap seni tradisional kerap mengalami penurunan. Oleh karena itu, diperlukan inovasi dalam penyajian, tanpa menghilangkan nilai-nilai asli yang terkandung di dalamnya. Pendekatan yang lebih kreatif dan adaptif diharapkan dapat menarik minat generasi muda untuk kembali mencintai budaya mereka sendiri.
Selain itu, promosi juga menjadi faktor penting. Dengan memanfaatkan media sosial dan platform digital, Cak Godongan dapat diperkenalkan kepada khalayak yang lebih luas, termasuk wisatawan mancanegara. Dokumentasi yang baik, baik dalam bentuk foto maupun video, dapat menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan keunikan seni ini ke dunia luar.
Tidak kalah penting, dukungan dari pemerintah daerah juga diharapkan terus berlanjut, baik dalam bentuk kebijakan maupun program-program yang mendukung pelestarian budaya. Pelatihan, pembinaan, hingga pemberian bantuan fasilitas menjadi beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk memastikan bahwa seni tradisional seperti Cak Godongan tetap eksis.
Kebangkitan Cak Godongan ini menjadi bukti bahwa budaya tidak pernah benar-benar hilang, selama masih ada yang peduli dan berusaha untuk menghidupkannya kembali. Apa yang dilakukan oleh masyarakat Desa Mas patut menjadi contoh bagi daerah lain, bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan pengembangan pariwisata. ama/ksm/kel





