Ogoh-Ogoh Bli Braya III Lahirkan Maestro Muda Bali, Rektor Unmas: Ini Bukti Taksu Tak Pernah Padam

Denpasar, PancarPOS | Gema kreativitas generasi muda Bali kembali mengguncang panggung seni tradisi melalui ajang Lomba Ogoh-Ogoh Bli Braya ke-3. Dalam atmosfer penuh semangat dan energi kebudayaan, karya-karya spektakuler lahir dari tangan-tangan yowana yang tidak hanya piawai secara teknis, tetapi juga mampu menghadirkan kedalaman makna filosofis yang kuat.
Rektor Universitas Mahasaraswati Denpasar, Prof. Dr. I Ketut Sukewati Lanang Putra Perbawa, menegaskan bahwa ogoh-ogoh bukan sekadar karya visual, melainkan representasi nilai-nilai luhur yang hidup dalam masyarakat Bali. Menurutnya, setiap detail dalam ogoh-ogoh mencerminkan ajaran Tatwa yang berpadu dengan konsep estetika Satyam, Sivam, Sundaram—kebenaran, kesucian, dan keindahan.
“Ogoh-ogoh bukan hanya patung dari bambu dan kertas. Ia adalah pengejawantahan filosofi hidup masyarakat Bali. Apa yang ditampilkan para peserta hari ini menunjukkan bahwa seni tradisi kita terus berkembang tanpa kehilangan jati dirinya,” tegasnya.
Ajang ini sekaligus menjadi ruang pembuktian bahwa kreativitas generasi muda Bali tidak pernah surut oleh arus zaman. Justru sebaliknya, mereka mampu mengolah tradisi menjadi karya monumental yang relevan, hidup, dan penuh taksu. Rektor Unmas pun memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh peserta, khususnya para pemenang yang dinilai berhasil memadukan detail, proporsi, dan penjiwaan dalam satu kesatuan karya yang utuh.
Berikut para juara dalam Lomba Ogoh-Ogoh Bli Braya ke-3:
Juara 1 diraih oleh STT Witta Ragha dengan skor 392, tampil memukau dengan komposisi yang presisi dan narasi visual yang kuat.
Juara 2 diraih oleh STT Tunas Teratai Tunjung Mekar dengan skor 384, menghadirkan karya dengan dinamika gerak dan ekspresi yang hidup.
Juara 3 diraih oleh STT Sarikumuda dengan skor 372, menunjukkan kekuatan pada detail artistik dan kekayaan simbolik.
Keberhasilan para pemenang ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi sekaa teruna masing-masing, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa seni ogoh-ogoh terus berevolusi menjadi medium ekspresi generasi muda Bali yang sarat makna dan inovasi. “Matur suksma atas karya-karya luar biasa yang telah dipersembahkan. Ini bukan sekadar tontonan visual, tetapi juga sumber inspirasi bagi kita semua. Teruslah berkarya untuk tanah kelahiran,” tutup Rektor Unmas.
Ajang Bli Braya ke-3 ini pun menegaskan satu hal: di tengah derasnya modernisasi, taksu Bali tetap hidup—berdenyut dalam kreativitas yowana yang tak pernah berhenti mencipta. ama/ksm









