Ekonomi dan Bisnis

Fenomena Biasa Diluar! Beli 3 Bungkus Rokok Per Hari Bisa, Beli Komposter Langsung Lupa


Denpasar, PancarPOS | Fenomena sosial yang kian mengakar di tengah masyarakat perkotaan Bali kini memunculkan ironi yang sulit dibantah, yakni warga dengan mudah menghabiskan uang untuk rokok setiap hari, namun ketika ditawari solusi pengelolaan sampah seperti komposter, justru memilih diam, menunda, bahkan lupa. Lucu sampah malah dibakar di depan rumah sehingga mengganggu kesehatan mereka sendiri.

Padahal jika dihitung secara sederhana, pola konsumsi ini menunjukkan ketimpangan logika ekonomi rumah tangga yang nyata. Data harga rokok di Indonesia tahun 2025–2026 menunjukkan bahwa harga per bungkus rokok berada pada kisaran Rp14.200 hingga Rp52.500, dengan rata-rata sekitar Rp17.000–Rp25.000 per bungkus . Bahkan untuk merek populer, banyak dijual di kisaran Rp23.000–Rp35.000 per bungkus .

Jika seorang perokok menghabiskan 3 bungkus per hari, maka pengeluaran hariannya berada di kisaran Rp20.000 x 3 = Rp60.000 per hari (rata-rata konservatif). Dalam sebulan: Rp60.000 x 30 hari = Rp1.800.000. Dalam setahun: Rp1.800.000 x 12 = Rp21.600.000. Artinya, tanpa disadari, satu orang bisa menghabiskan lebih dari Rp20 juta per tahun hanya untuk rokok.

Bandingkan dengan harga komposter rumah tangga. Data pasar menunjukkan harga komposter ember untuk skala rumah tangga berkisar antara Rp60.000 hingga Rp300.000, tergantung kapasitas dan kelengkapan . Bahkan paket komposter siap pakai rata-rata dijual sekitar Rp150.000–Rp300.000. Dengan kata lain biaya 3 hari merokok sama dengan cukup untuk beli 1 komposter. Namun realitas di lapangan berkata lain.

Kesadaran lingkungan masih kalah oleh kebiasaan konsumtif yang sudah mengakar. Banyak warga masih memilih cara instan dalam mengelola sampah, termasuk membakar sampah rumah tangga, meskipun dampaknya jelas merugikan kesehatan dan lingkungan.

Padahal kondisi Bali, khususnya Denpasar, sedang berada dalam tekanan serius akibat persoalan sampah. Penutupan TPA Suwung untuk pengolahan sampah organik menjadi salah satu titik balik yang seharusnya mendorong perubahan perilaku masyarakat. Komposter sebenarnya bukan sekadar alat. Ia adalah solusi konkret untuk mengurangi volume sampah organik rumah tangga yang selama ini menjadi beban sistem pengelolaan sampah kota.

Dengan satu komposter, sampah dapur seperti sisa makanan, sayur, dan daun bisa diolah menjadi pupuk organik. Ini bukan hanya mengurangi sampah, tetapi juga menghasilkan nilai tambah. Namun persoalannya bukan pada harga. Persoalannya adalah prioritas. Ketika pengeluaran Rp60 ribu per hari untuk rokok dianggap biasa, tetapi pengeluaran Rp150 ribu untuk komposter dianggap mahal, maka yang bermasalah bukan daya beli, melainkan pola pikir.

Fenomena ini juga memperlihatkan adanya gap antara kesadaran dan tindakan. Banyak warga memahami pentingnya lingkungan bersih, tetapi tidak siap berinvestasi dalam solusi nyata. Lebih ironis lagi, biaya kesehatan akibat rokok jauh lebih besar dibanding biaya membeli komposter. Belum lagi dampak sosial dari pencemaran udara akibat pembakaran sampah yang sering dilakukan sebagai jalan pintas.

Sekretaris Ormas Arun Bali, Anak Agung Gede Agung Aryawan, S.T., sebelumnya juga menegaskan pentingnya perubahan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah. Ia mendorong penggunaan komposter dan konsep tebe modern sebagai solusi konkret di tingkat rumah tangga.

Menurutnya, persoalan sampah tidak bisa hanya dibebankan pada pemerintah. Tanpa partisipasi masyarakat, sistem sebaik apa pun akan tetap gagal. Apa yang terjadi hari ini menunjukkan bahwa Bali tidak kekurangan solusi, tetapi kekurangan kesadaran kolektif untuk bertindak. Jika satu rumah tangga saja mampu mengurangi sampah organik melalui komposter, maka dalam skala kota dampaknya akan sangat signifikan.

Namun jika pola konsumsi tetap seperti sekarang, maka krisis sampah hanya akan terus berulang. Pada akhirnya, pertanyaan sederhana ini layak diajukan kepada publik: Jika setiap hari mampu membeli rokok, mengapa untuk lingkungan sendiri justru tidak mampu membeli komposter? ama/ksm


Back to top button