Bangkit dari Desa Adat, Trihita Trans Galang 29 Desa Adat Wujudkan Transportasi Milik Krama Bali

Denpasar, PancarPOS | Sebuah gagasan besar tengah bergerak dari akar kehidupan masyarakat Bali. Di tengah dominasi platform transportasi digital nasional dan global yang selama ini menguasai pasar di Pulau Dewata, sebuah inisiatif lokal bernama Trihita Trans mulai menancapkan langkah untuk membangun sistem transportasi berbasis teknologi yang lahir dari kekuatan masyarakat Bali sendiri.
Gerakan ini tidak sekadar berbicara tentang aplikasi transportasi online. Lebih dari itu, Trihita Trans membawa sebuah visi besar, yakni mengembalikan posisi krama Bali sebagai tuan rumah dalam ekosistem ekonomi digital di tanahnya sendiri.
Dengan semangat kebangkitan ekonomi lokal, Trihita Trans kini menggandeng desa adat sebagai fondasi utama dalam membangun ekosistem transportasi digital yang berakar pada nilai budaya Bali. Langkah ini bukan tanpa alasan. Desa adat selama ratusan tahun telah menjadi pilar sosial masyarakat Bali. Di sanalah kehidupan budaya, spiritual, dan ekonomi masyarakat berakar kuat.

Ketua Umum Yayasan Trihita Bali Dwipa, I Ketut Widiana Karya, SE., MBA., menegaskan bahwa Trihita Trans lahir dari kesadaran bahwa Bali tidak boleh terus-menerus hanya menjadi pasar bagi sistem ekonomi digital milik pihak luar. Menurutnya, Bali memiliki kekuatan sosial yang sangat besar yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal dalam pembangunan ekonomi berbasis teknologi.
“Trihita bukan sekadar aplikasi transportasi. Ini adalah gerakan kebangkitan ekonomi krama Bali. Kita ingin masyarakat Bali tidak hanya menjadi pekerja dalam sistem milik orang lain, tetapi menjadi pemilik ekosistem ekonomi digitalnya sendiri,” ujar Widiana Karya, saat dihubungi PancarPOS, Jumat (6/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa konsep Trihita Trans berangkat dari filosofi kehidupan masyarakat Bali yang telah menjadi panduan hidup selama berabad-abad, yakni Tri Hita Karana. Filosofi ini menekankan keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia, serta manusia dengan alam.
Nilai-nilai tersebut kemudian diterjemahkan dalam sistem ekonomi modern yang berbasis teknologi digital. Trihita Trans mencoba menggabungkan kemajuan teknologi transportasi dengan kekuatan sosial masyarakat Bali agar modernisasi tidak menggerus identitas budaya yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat Pulau Dewata.

Salah satu strategi utama dalam pengembangan Trihita Trans adalah melibatkan desa adat secara langsung dalam pembangunan ekosistem transportasi digital tersebut. Dalam tahap awal pengembangan, Trihita Trans telah menjajaki kerja sama dengan 29 desa adat di Bali. Langkah ini dilakukan melalui pendekatan dialog dan komunikasi langsung dengan para pemimpin desa adat.
Beberapa desa adat yang telah dijajaki kerja samanya antara lain Desa Adat Tanah Lot, Beraban, Nyanyi, Cemagi, Seseh, Pererenan, Canggu, Berawa, Tandeg, Padonan, Seminyak, Legian, Kuta, Tuban, Kelan, Bualu, Kampial, Kedonganan, Jimbaran, Kutuh, Pecatu, Unggasan, Tengkulung, Peminge, Tanjung Benoa, Serangan, Intaran, Sanur, hingga Kesiman.
Dari puluhan desa adat tersebut, sejumlah desa bahkan telah melakukan audiensi langsung dengan tim Trihita Trans. Di antaranya Desa Adat Beraban, Desa Adat Canggu, Desa Adat Tanjung Benoa, serta Desa Adat Serangan. Sementara itu, beberapa desa lainnya seperti Jimbaran dan Pecatu telah menerima surat resmi terkait penjajakan kerja sama pengembangan transportasi digital berbasis krama Bali.
Widiana Karya menegaskan bahwa pendekatan berbasis desa adat ini merupakan langkah strategis dalam membangun sistem transportasi digital yang berakar kuat pada masyarakat Bali. “Desa adat adalah jantung kehidupan masyarakat Bali. Kalau kita ingin membangun sistem ekonomi yang kuat dan berkelanjutan, maka desa adat harus menjadi bagian dari sistem itu,” katanya.
Dalam konsep Trihita Trans, desa adat tidak hanya menjadi penonton perkembangan ekonomi digital. Sebaliknya, desa adat ditempatkan sebagai mitra strategis dalam pengelolaan ekosistem transportasi berbasis aplikasi. Melalui skema yang sedang dirancang, desa adat dapat terlibat melalui Badan Usaha Padruwen Desa Adat (BUPDA) maupun koperasi desa.
Dengan model ini, manfaat ekonomi dari aktivitas transportasi digital tidak hanya dinikmati oleh pengemudi secara individu, tetapi juga dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan desa adat. Widiana Karya menilai model ini sebagai pendekatan ekonomi baru yang memadukan teknologi modern dengan sistem sosial tradisional Bali.
Menurutnya, Bali memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak daerah lain di dunia. Struktur sosial desa adat yang kuat memungkinkan pembangunan ekonomi berbasis komunitas yang berkelanjutan. “Kalau desa adat bersatu dengan teknologi digital, Bali bisa membangun sistem ekonomi yang sangat kuat,” ujarnya.

Trihita Trans juga memiliki visi untuk mengubah cara pandang terhadap profesi pengemudi transportasi online. Dalam ekosistem ini, pengemudi tidak hanya dipandang sebagai driver yang mengantar penumpang dari satu titik ke titik lain. Lebih dari itu, mereka diposisikan sebagai duta budaya Bali.
Widiana Karya menjelaskan bahwa pengemudi transportasi sering kali menjadi orang pertama yang berinteraksi dengan wisatawan ketika mereka tiba di Bali. Karena itu, mereka memiliki peran penting dalam menciptakan kesan pertama tentang Bali. “Driver adalah wajah pertama Bali bagi wisatawan. Karena itu kita ingin driver Bali tidak hanya profesional dalam pelayanan, tetapi juga memahami nilai budaya Bali,” katanya.
Dalam sistem Trihita Trans, pengemudi diharapkan mampu memberikan pelayanan yang tidak hanya ramah dan profesional, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai budaya Bali seperti sopan santun, keramahan, dan penghormatan kepada tamu. Untuk menjaga standar pelayanan tersebut, Trihita Trans menetapkan sejumlah kriteria bagi calon driver yang ingin bergabung.
Salah satu syarat utama adalah calon driver harus merupakan krama Bali yang memiliki identitas KTP Bali. Selain itu, calon driver juga diharapkan memiliki kecintaan terhadap adat dan budaya Bali. Program ini membuka peluang bagi masyarakat dengan rentang usia 20 hingga 60 tahun. Dari sisi legalitas berkendara, calon driver diwajibkan memiliki SIM A atau SIM B yang masih aktif.
Menurut Widiana Karya, standar ini penting untuk memastikan keamanan dan profesionalisme pelayanan kepada penumpang. Namun ia juga menyadari bahwa banyak masyarakat yang memiliki keinginan untuk bergabung tetapi terkendala masalah modal. Karena itu, Trihita Trans juga memfasilitasi akses pembiayaan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Program ini memungkinkan calon driver memperoleh pembiayaan untuk memiliki kendaraan atau modal operasional dengan persyaratan yang relatif ringan. Beberapa dokumen yang diperlukan untuk pengajuan KUR antara lain KTP suami dan istri, Kartu Keluarga, NPWP, serta Nomor Induk Berusaha (NIB). Dengan adanya fasilitas ini, masyarakat yang sebelumnya tidak memiliki kendaraan tetap memiliki peluang untuk bergabung sebagai driver Trihita Trans.
“Kalau kita ingin krama Bali benar-benar bangkit secara ekonomi, maka akses terhadap modal harus dibuka. Jangan sampai peluang hanya dinikmati oleh mereka yang sudah memiliki kendaraan,” ujar Widiana Karya. Ia juga menegaskan bahwa Bali memiliki potensi ekonomi yang sangat besar dari sektor pariwisata.
Kebutuhan transportasi wisatawan tentu sangat tinggi. Jika peluang ekonomi ini dapat dikelola oleh masyarakat lokal melalui sistem transportasi digital yang mereka miliki sendiri, maka dampak ekonominya akan sangat besar bagi kesejahteraan krama Bali. Trihita Trans diharapkan menjadi salah satu langkah awal menuju arah tersebut.
Ke depan, platform ini tidak hanya menyediakan layanan transportasi reguler, tetapi juga berbagai layanan transportasi wisata. Mulai dari layanan antar-jemput bandara, perjalanan wisata, hingga transportasi untuk kegiatan budaya dan event pariwisata. Dengan model ini, driver tidak hanya memperoleh penghasilan dari perjalanan harian, tetapi juga dari layanan wisata yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Widiana Karya menegaskan bahwa Trihita Trans akan terus melakukan pengembangan teknologi aplikasi agar mampu bersaing dengan platform transportasi digital yang sudah lebih dulu hadir. Namun yang paling penting, menurutnya, adalah membangun kesadaran kolektif masyarakat Bali bahwa mereka memiliki kekuatan untuk membangun sistem ekonomi sendiri.

“Trihita adalah aplikasi duwen iraga. Ini milik kita bersama. Kalau krama Bali bersatu, kita bisa membangun sistem ekonomi yang kuat untuk masa depan Bali,” katanya. Ia pun mengajak masyarakat Bali yang memenuhi kriteria untuk segera bergabung sebagai driver Trihita Trans. Pendaftaran dapat dilakukan melalui kontak resmi yang tertera pada brosur Trihita Trans.
Selain itu, bagi desa adat yang telah memiliki Badan Usaha Padruwen Desa Adat (BUPDA) atau koperasi desa, proses pendaftaran driver juga dapat dilakukan melalui desa adat masing-masing. Melalui mekanisme ini, keterlibatan desa adat dalam sistem transportasi digital diharapkan semakin kuat. Dengan langkah ini, Trihita Trans berharap dapat membuka babak baru dalam pengelolaan transportasi digital di Bali. ama/ksm/kel









