Minggu, April 19, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
BerandaEkonomi dan BisnisDekranasda Aceh Utara Kepincut Terobosan Ny. Putri Koster Bangkitkan Kerajinan Lokal

Dekranasda Aceh Utara Kepincut Terobosan Ny. Putri Koster Bangkitkan Kerajinan Lokal

Denpasar, PancarPOS | Kunjungan kerja Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Aceh Utara ke Bali bukan sekadar agenda seremonial. Di balik pertemuan itu, tersimpan satu tujuan besar: membongkar rahasia kebangkitan sektor kerajinan Bali yang dinilai berhasil bangkit, berdaya saing, dan mendunia.

Dipimpin langsung oleh Ny. Musliana Asmail, rombongan Dekranasda Aceh Utara disambut oleh Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Putri Koster, di kawasan Pameran IKM Bali Bangkit, Taman Budaya Denpasar, Kamis (16/4/2026). Suasana pertemuan berlangsung hangat, namun sarat muatan strategis dan pembelajaran lintas daerah.

Musliana secara terbuka mengakui bahwa Bali telah melangkah jauh dalam pengembangan sektor kerajinan. Ia bahkan tak ragu memuji berbagai terobosan yang dilakukan Putri Koster dalam membangkitkan kembali kejayaan industri kreatif berbasis budaya lokal.

“Kami datang untuk belajar. Aceh Utara punya potensi besar, mulai dari bordir, anyaman pandan, hingga kerajinan eceng gondok. Tapi kami sadar, pengelolaannya belum sekuat Bali,” ungkapnya lugas.

Aceh Utara sendiri merupakan salah satu wilayah luas di Indonesia, dengan 27 kecamatan dan sekitar 850 desa. Potensi sumber daya melimpah, namun menurut Musliana, tantangan terbesar terletak pada manajemen, inovasi, serta penguatan ekosistem industri kerajinan.

Karena itu, kunjungan ini menjadi momentum penting untuk menggali strategi konkret. Mulai dari pembinaan perajin, perlindungan produk lokal, hingga bagaimana membangun kepercayaan diri pelaku industri agar mampu bersaing di pasar global.

Di sisi lain, Putri Koster memaparkan perjalanan panjang Dekranasda Bali yang tidak instan. Ia mengakui, saat awal menjabat, dirinya juga tidak memiliki pemahaman mendalam tentang lembaga tersebut. Namun, pendekatan kolaboratif menjadi kunci.

“Kami belajar cepat, berkoordinasi dengan OPD seperti Disperindag, lalu mengambil peran kontrol. Ketika ada masalah di lapangan, langsung kami tindaklanjuti bersama stakeholder,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, salah satu persoalan krusial yang sempat menghantam kerajinan Bali adalah lemahnya perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Bahkan, kain endek khas Bali sempat diproduksi di luar daerah, yang berdampak langsung pada merosotnya kesejahteraan perajin lokal.

“Era 1990-an hingga awal 2000-an menjadi masa sulit. Banyak pelanggaran, dan industri tenun Bali sempat terpuruk,” tegasnya.

Namun kondisi itu tidak dibiarkan berlarut. Melalui berbagai intervensi strategis, Dekranasda Bali mulai membangun kembali fondasi industri kerajinan. Salah satu langkah paling menonjol adalah penyelenggaraan Pameran IKM Bali Bangkit, yang kini menjadi etalase utama produk lokal Bali.

Tak hanya itu, Bali juga agresif membawa desainer lokal ke panggung internasional. Bukan semata untuk ekspansi pasar, tetapi lebih dalam: membangun mental, wawasan, dan rasa percaya diri pelaku industri kreatif.

“Kami ingin mereka percaya diri. Bahwa produk Bali tidak kalah. Bahkan bisa berdiri sejajar di dunia,” kata Putri Koster dengan nada tegas.

Upaya tersebut diperkuat dengan event seperti Dekranasda Bali Fashion Week dan Dekranasda Bali Fashion Day, yang menjadi ruang ekspresi sekaligus akselerasi branding produk lokal.

Menariknya, pendekatan pembangunan yang dilakukan Putri Koster tidak parsial. Ia juga mengintegrasikan peran TP PKK dan TP Posyandu dalam membangun ekonomi berbasis keluarga dan komunitas.

Melalui program seperti Menyapa dan Berbagi, Berbelanja dan Berbagi, hingga Membina dan Berbagi, pendekatan sosial dipadukan dengan penguatan ekonomi rakyat. Strategi ini terbukti efektif dalam menciptakan dampak berlapis: dari peningkatan kesejahteraan hingga penguatan budaya lokal.

Kunjungan kerja ini kemudian ditutup dengan pertukaran cendera mata yang sarat makna simbolik. Putri Koster menyerahkan kain endek dan tas ate beraksen perak—produk khas Bali yang mencerminkan identitas budaya. Sementara Musliana membalas dengan kain tenun khas Aceh, sebagai representasi warisan daerahnya.

Interaksi itu bukan sekadar seremoni, melainkan penegasan awal dari potensi kolaborasi lintas daerah yang lebih luas. Sebuah sinyal bahwa kebangkitan industri kerajinan tidak bisa berjalan sendiri, tetapi harus dibangun melalui sinergi, pertukaran pengetahuan, dan keberanian berinovasi.

Peninjauan stan-stan Pameran IKM Bali Bangkit menjadi penutup kunjungan, sekaligus membuka mata rombongan Aceh Utara terhadap kualitas, kreativitas, dan daya saing produk lokal Bali.

Kini, bola ada di tangan Aceh Utara. Apakah mampu menerjemahkan “ilmu Bali” menjadi gerakan nyata di daerahnya? Waktu yang akan menjawab. mas/ama/*

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular

spot_img
spot_img
spot_img