Ribuan Warga Padati Pasar Badung, Festival Harmoni Imlek 2026 Jadi Panggung Harmoni Kota

Denpasar, PancarPOS | Hujan turun tanpa jeda sejak sore menyelimuti Pelataran Ida Ratu Mas Melanting, Pasar Badung, Minggu (22/2/2026). Langit Kota Denpasar kelabu, angin berembus membawa butir-butir air yang semakin deras. Namun satu hal yang tak ikut runtuh adalah semangat. Festival Harmoni Imlek 2026 bertajuk “Suara Pasar: Merajut Keberagaman dalam Bingkai Kebhinekaan” tetap berlangsunga penuh daya, penuh nyala, dan tetap menggetarkan kota.
Sejak awal acara dimulai, rintik sudah jatuh membasahi kursi, panggung, dan pelataran pasar. Panitia bergegas menutup sebagian peralatan dengan terpal, teknisi memastikan sistem suara tetap aman, sementara para penampil menunggu aba-aba dengan wajah mantap. Tak ada pembatalan. Tak ada penundaan. Festival tetap dibuka.
Tari penyambutan dari Sanggar Puri Agung Jro Kuta menjadi pembuka yang simbolik. Di bawah guyuran hujan yang kian deras, para penari tetap melangkah anggun. Gerak tangan dan tatapan mata mereka tak goyah, seakan menantang cuaca. Tepuk tangan penonton menggema, bercampur dengan suara hujan yang memukul tenda.
Inilah wajah sejati “Suara Pasar”. Pasar Badung bukan ruang steril yang hanya indah saat cerah. Ia adalah ruang hidup yang sejak dulu akrab dengan panas terik, banjir, hujan, dan hiruk pikuk kehidupan. Dari subuh hingga malam, suara langkah pedagang, riuh tawar-menawar, lantunan doa, hingga gelak tawa menyatu menjadi harmoni. Hujan sore itu justru menegaskan karakter tersebut: kehidupan tetap berjalan.
Penonton tak beranjak. Payung-payung terbuka membentuk lautan warna. Sebagian mengenakan jas hujan plastik, sebagian lagi rela basah kuyup. Anak-anak tetap berdiri di barisan depan, menatap panggung dengan mata berbinar. Orang tua menggenggam tangan mereka, memastikan tetap aman, namun tak menarik mereka pulang.

Galaxy Wushu Sport Academy tampil penuh determinasi. Kitara, Ken, Ashira, Evelin, Keenan, dan Ryu melangkah ke panggung yang mulai licin. Dengan disiplin tinggi, mereka tetap menunjukkan jurus-jurus presisi. Tendangan tinggi, putaran cepat, dan gerak akrobatik tetap dilakukan dengan kontrol matang.
Prestasi emas yang pernah mereka raih di International Wushu Singapore Championship dan International Wushu Malaysia Championship, perak di POPNAS, serta emas di kejuaraan daerah Bali, terasa nyata dalam ketenangan mereka menghadapi situasi sulit. Hujan tak mengurangi kualitas. Sorak penonton justru semakin keras, memberi energi tambahan.
Air yang mengalir di sisi panggung memantulkan cahaya lampu, menciptakan efek dramatis. Setiap hentakan kaki terasa lebih berat, namun juga lebih bermakna. Di tengah kondisi yang tak ideal, profesionalisme dan dedikasi diuji. Dan mereka lulus.
Sanggar Pusering Bhuana kemudian menghadirkan Wana Wimba. Ironisnya, karya tentang hutan dan napas alam itu tampil dalam suasana yang begitu alamiah. Hujan menjadi bagian dari komposisi. Gerak penari yang lentur seolah menyatu dengan air yang turun dari langit.
Tubuh-tubuh itu bergerak seperti batang pohon yang diterpa badai namun tak tumbang. Musik yang mengiringi terasa magis, sementara rintik hujan menjadi irama tambahan. Penonton terdiam, larut dalam suasana kontemplatif. Tak ada yang beranjak meski pakaian mulai basah.
Karya berikutnya, Mati Tan Tumut Pejah, menghadirkan semangat Pasukan Ciung Wanara yang dipimpin I Gusti Ngurah Rai dengan silat Bakti Negara. Dalam kondisi hujan deras, filosofi “mati raga, hidup jiwa; raga sirna, warisan abadi” terasa semakin relevan. Raga boleh diguyur, tetapi semangat tak boleh runtuh.
Gerakan para penari penuh tenaga, mengisahkan perjuangan dan pengorbanan. Ketika adegan klimaks tiba, penonton berdiri memberi aplaus panjang. Beberapa wajah tampak terharu. Di bawah hujan, spirit perjuangan terasa lebih nyata.
Harmoni Langit dan Bumi menjadi penutup yang memukau. Kisah Srikandi yang mencari keseimbangan dan bertemu Naga Antaboga disajikan dengan kuat. Pesan tentang keberanian yang harus disertai kebijaksanaan menjadi refleksi bagi semua yang hadir.
Air hujan yang membasahi panggung justru memantulkan cahaya, menciptakan lanskap visual dramatis. Srikandi tak hanya digambarkan sebagai ksatria, tetapi penjaga harmoni antara manusia dan alam. Dalam konteks festival, ia menjadi simbol Denpasar yang berusaha menjaga keseimbangan keberagaman.
Satu momen yang tak terelakkan adalah batalnya pertunjukan barong sai. Demi keselamatan pemain dan menghindari risiko pada kostum serta peralatan, panitia memutuskan tidak menampilkan atraksi tersebut. Keputusan itu diambil dengan pertimbangan matang, mengingat hujan semakin deras menjelang malam.
Meski demikian, pembatalan itu tidak mengurangi semangat keseluruhan festival. Penonton memahami situasi. Tak terdengar keluhan. Justru yang terdengar adalah tepuk tangan apresiatif atas seluruh penampilan yang tetap digelar.

Di sepanjang Jalan Kartini, bazar UMKM tetap ramai. Uap dari makanan hangat mengepul, menciptakan kontras dengan udara dingin akibat hujan. Kue keranjang, bakpao, mie panjang umur, hingga jajanan Bali tetap laris. Interaksi antara penjual dan pembeli terus berlangsung.
Suara tawar-menawar bercampur tawa menjadi latar alami. Hujan tak menghentikan transaksi, sebagaimana pasar tak pernah benar-benar tidur. Tema “Suara Pasar” menemukan bentuk nyatanya di sana.
Sehari sebelumnya, parade budaya di kawasan heritage Jalan Gajah Mada telah menghadirkan ribuan lampion dan pernak-pernik Imlek. Kini, dalam kondisi basah, lampion-lampion itu tetap menyala. Pantulan cahaya merah di genangan air menciptakan pemandangan yang justru lebih puitis.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa dalam pembukaan sehari sebelumnya menegaskan komitmen menjadikan Denpasar sebagai kota toleransi. Pada Minggu sore yang basah itu, komitmen tersebut terlihat nyata: masyarakat dari berbagai latar belakang tetap bertahan hingga acara usai.
Festival Harmoni Imlek 2026 bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah pernyataan sikap. Pernyataan bahwa Denpasar adalah kota toleransi, kota kolaborasi, kota yang tak mudah surut oleh cuaca maupun perbedaan.
Penonton bertahan hingga acara benar-benar ditutup. Tak ada pembubaran dini. Tak ada kursi kosong sebelum waktu berakhir. Bahkan ketika hujan belum juga reda, tepuk tangan panjang tetap menggema.
Basah kuyup, namun tak surut. Itulah wajah Festival Harmoni Imlek 2026. Hujan menjadi saksi keteguhan warga menjaga ruang kebersamaan. Pasar Badung kembali membuktikan dirinya sebagai jantung kota yang terus berdetak, apa pun cuacanya.
Ketika lampu panggung perlahan dipadamkan dan pengunjung mulai melangkah pulang dengan pakaian lembap, satu hal tertinggal di udara malam Denpasar: rasa bangga. Bangga telah menjadi bagian dari perayaan yang tak menyerah.
Festival ini mungkin diguyur hujan dari awal hingga akhir. Namun semangatnya justru semakin deras. Dan dari pelataran Pasar Badung, suara pasar kembali bergema, menggetarkan kota, mengingatkan bahwa harmoni dalam keberagaman bukan hanya slogan, melainkan kenyataan yang hidup, bahkan ketika langit sekalipun sedang mengguyur tanpa ampun. ama/mas/ksm/kel









