Daerah

Masalah Sampah Sangat Krodit, Gung De Minta Pemerintah Jadi Contoh Memilah Sampah


Denpasar, PancarPOS | Permasalahan sampah di Kota Denpasar, dan khususnya Bali secara umum menjadi sangat krodit dan komplek. Hal ini terjadi menurut Politisi Partai Perindo, A A Gede Agung Aryawan, ST., akibat kesalahan fatal dari awal, ketika banyaknya Investor datang ke Bali pada tahun 1993 banyak wisatawan kena Kolera di Bali. Oleh Pemerintah Jepang kala itu banyak membuat proyek di Bali, antara lain IPAL DSDP untuk pengolahan air limbah WC, proyek TPS 3R dengan keranjang Takakura untuk pemilihan sampah menjadi kompos dan peningkatan TPA Suwung yang saat itu masih belum isi geomembran serta IPAL pengolahan air Lindi.

[democracy id=”3″]

“Proyek tersebut semua dikerjakan oleh kontraktor Jepang yang JO dengan BUMN dimulai tahun 2003 setelah Bom Bali 1;” ungkap Gung De, sapaan akrab mantan Kepala Pelanggan BLU-PAL Provinsi Bali yang puluhan tahun bergelut dengan masalah edukasi sampah dan sanitasi. Oleh karena itu, himbauan Pj Gubernur Bali, Sang Made Mahendra Jaya terkait masyarakat harus memilah sampah adalah sebuah himbauan yang baik. Tapi menurutnya, semestinya akan lebih baik lagi Pj Gubernur memerintahkan kepada seluruh Kantor Dinas, Kantor Satker, Kantor Walikota, Camat, Lurah termasuk Rumah jabatan dan pribadinya untuk memilah sampah mengurangi residu yang terbuang ke TPA Suwung atau TPST.

“Mengapa kantor Pemerintah harus melakukan contoh awal? Karena masyarakat paling sering ke tempat itu mengurus surat atau ijin lainnya. Mereka akan melihat langsung cara pengolahan sampah dengan memilah yang sangat bermanfaat sehingga dicontoh,” beber bakal Caleg DPRD Bali nomor urut 1 dari Partai Perindo di Dapil Denpasar ini, kepada PancarPOS, pada Jumat malam (3/11/2023). Kemudian sekolah masih bisa diedukasi, agar siswa dipaksa memilah sampah dengan sanksi tertentu untuk mendidiknya.

1th#ik-072.21/8/2023

“Permasalahan sampah itu bukan hanya sepele di masalah alat canggih, akan tetapi mengubah pola hidup masyarakat dalam melihat sampah itu. Contoh saat kami dengan SK Gubernur Mangku Pastika jadi Kepala Pelanggan BLU-PAL Bali mengelola jaringan limbah DSDP yang sana sini meluap, karena sampah dimasukan ke dalam Jaringan pipa termasuk air hujan di musim banjir. Tiap menit dikomplin masyarakat awal mulai berjalan tahun 2008, tapi kami tetap jelaskan dengan sejelas-jelasnya ke masyarakat memakai alat peraga sticker, leaflet dan bufleat. Arisan Banjar kami datangi langsung, gotong royong Banjar, sekolah sekolah kami undang ke IPAL dari SD, SMP sampai SMA silih berganti,” katanya.

“Hujatan dan cibiran masyarakat yang komplin sudah biasa kami hadapi hampir 5 tahun lebih. Faktanya sekarang kan itu berjalan dengan baik,” pungkas Gung De Aryawan. wan/ama/ksm


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button