Olahraga dan Pendidikan

“Putra Mahkota” KONI Bali Melenggang, Cok Arka Angkat Topi


Denpasar, PancarPOS | Pada hari terakhir pendaftaran, Rabu (16/3/2022) hanya tercatat empat nama kandidat yang maju memperebutkan kursi Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (Ketum KONI) Provinsi Bali periode 2022-2026. Keempat bakal calon itu, yakni I Gusti Ngurah Oka Darmawan yang juga Sekum KONI Bali mendaftar pukul 09.30 Wita, kemudian disusul sekitar pukul 12.15 giliran I Dewa Putu Susila yang hampir bersamaan dengan kedatangan Togar Situmorang. Sedangkan Anak Agung Kompiang Gede menjadi pendaftar terakhir pada pukul 13.30 Wita.

1bl#ik-2/3/2022

Sayangnya dari keempat nama kandidat yang mendaftar sebagai bakal calon Ketum KONI Bali ini, hanya Oka Darmawan yang melampirkan surat dukungan sebanyak 27 dukungan dari total 67 voter, selaku pemegang hak suara pada Musyawarah Olaharaga Provinsi (Musorprov) KONI Bali yang rencananya berlangsung di Gedung Wiswa Sabha Kantor Gubernur Bali pada Sabtu (19/3/2022). Jika mengacu syarat minimal 20 persen dukungan hak suara tersebut ditetapkan dalam Musorprov, maka ketiga kandidat lainnya dipastikan akan gugur, sehingga Oka Darmawan bisa melenggang dengan mudah untuk ditetapkan menjadi Ketum KONI Bali secara aklamasi.

Oka Darmawan yang juga Sekum KONI Bali yang sempat menjadi mantan Waketum KONI Bali, serta mantan Ketua Umum Pengprov Perbasi Bali selama dua periode itu, memang terus digadang-gadang menjadi “Putra Mahkota” Ketum KONI Bali, Ir. I Ketut Suwandi yang sempat menjadi sorotan dari berbagai cabang olahraga (Cabor). Salah satunya, Ketua Pengkot POSSI (Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia) Kota Denpasar, Togar Situmorang yang akhrinya maju sebagai bakal calon Ketum KONI Bali, karena merasa tidak bisa menerima isu yang berhembus berkaitan dengan sorotan tidak transparannya pertanggungjawaban dana KONI Bali.

1bl#ik-1/3/2022

Selain itu, sebelumnya Pemerhati dan Pecinta Olahraga, Drs I Wayan Suata juga menuding Ketum KONI Bali tidak transparan terhadap semua cabang olahraga, karena tidak adil terhadap bantuan pembinaan yang diberikan. Untuk itu, Suata meminta agar siapapun Ketum KONI yang terpilih nantinya tidak hanya nyongkoin tain kebo alias hanya mengandalkan dana APBD Provinsi Bali saja. Terkait penggunaan dana KONI Bali itu, Suwandi mengakui selama ini KONI Bali memang hanya bisa mengandalkan dana dari APBD Bali. Namun pihaknya beralasan di daerah lain juga belum bisa mandiri dan hanya mengandalkan bantuan dana dari APBD.

Tanggapan Suwandi tersebut sempat menyulut tanggapan miring berbagai pihak di kalangan olahraga di Bali. Bahkan, selama ini di internal KONI Bali dituding banyak oknum yang bermain layaknya mafia. Karena itu, selama kroni-kroni baik pegawai maupun pengurus dari Ketum KONI Bali masih bercokol apalagi maju sebagai Ketum KONI Bali berikutnya, maka KONI Bali tidak akan pernah bersih para mafia ini. “Harus bersih semua mafia disitu. Orang luar pinggirkan. Manfaatkan orang lokal yang punya prestasi. Selama ini mafia di KONI menjamur sampai keenakan menikmatinya,” beber salah satu pelatih yang juga pengurus salah satu Cabor yang menolak namanya disebutkan itu, saat menghubungi PancarPOS.com belum lama ini.

1bl#ik-28/2/2022

Sementara itu, berkaitan dengan penggunaan anggaran KONI Bali yang tidak transparan selama ini, langsung dibenarkan oleh sumber tersebut. Alhasil banyak Cabor yang memilih tidak mengajukan anggaran ke KONI Bali. “Anggaran juga kurang transparan. Masih berbau suka tidak suka dan kenal tidak kenal kaitanya dengan pemberian bantuan. Selama ini yang saya tahu Cabor males berurusan sama KONI. Kalau pun berurusan hanya sebatas penting saja,” sentilnya. Untuk itu, pihaknya juga ikut mendesak aparat terkait untuk serius mengaudit angggaran KONI Bali, karena banyak yang diduga dimanipulasi. “Kalau sampai diaudit bisa ketahuan penggunaan anggaranya. Saya jadi wasit PON hanya dapat bantuan Rp3 juta. Semua Cabor wasit yang bertugas tapi tidak menandatangani apa-apa. Dari situ aja timbul tanda tanya, kok bisa masuk rekening tanpa saya tandatangan?,” tandasnya.

Wajar saja selama ini, banyak pihak yang mempertanyakan penggunaan anggaran KONI Bali. Bahkan, baru-baru ini setelah berita ini tersebut, mendadak siang malam pegawai dan staf KONI Bali dikabarkan sibuk membuat laporan keuangan. “Kemarin-,kemarin teman wasit juga pakrimik (jadi pembicaraan, red). Kok bisa tanpa tanda tangan uang masuk rekening? Ya itu perlu dibongkar habis, agar ke depan lebih transparan. begituah permainnya di KONI. Sudah rahasia umum di sana banyak mafia. Makanya mereka menikmati betul berada di badan KONI,” jelasnya, seraya mengatakan saat ini seluruh wasit yang bertugas di PON Papua sudah membentuk komunitas namanya PERWARI Bali. “Saya selama ujian wasit ke.luar negeri tidak pernah mendapat bantuan dari KONI, padahal sudah mengajukan. Akhirnya dana pribadi Ketum Cabor dan dana pribadi keluar demi Bali,” tutupnya.

1bl#ik-26/2/2022

Secara terpisah, Sekum Pengprov Keluarga Olahraga Tarung Derajat (Kodrar) Provinsi Bali, Anak Agung Bagus Tri Candra Arka memilih wait and see. Sikap ini ia tunjukkan untuk memberikan kesempatan kepada para senior. Meski demikian, Gung Cok tak menampik ia sangat was-was dengan status Bali sebagai 5 besar PON XX/Papua. Jika salah memilih nakhoda, maka prestasi Bali menjadi taruhannya. “Kami dari cabor tarung derajat dan cricket lebih condong wait and see aja. Karena kami ingin melihat figur calon ketua KINI. Intinya saya lebih memberikan kesempatan kepada yang lebih senior dari segala aspek untuk memimpin koni ke depan. Walaupun tidak dipungkiri, sangat sulit mempertahankan prestasi olahraga di Bali saat ini,” ucap Cok Arka sapaan akrab akrab pelatih dan official yang mendulang total 7 emas, 3 perak dan 4 perunggu saat PON XX Papua itu, saat dihubungi, Kamis (17/3/2022) siang.

Menariknya, Cok Arka mengingatkan kepada semua pihak bahwa KONI Bali sejatinya tidak memiliki atlet. Atlet-atlet yang menjadi tulang rusuk kesuksesan KONI Bali di PON XX/Papua adalah milik cabor. Jika cabor-cabor tempat bernaungnya para atlet belum mutlak menentukan pilihan, maka Musprov KONI Bali akan berjalan tidak ideal. Menilai tantangan ke depan akan lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya, Gung Cok menekankan hubungan yang harmonis antara KONI dan cabor harus ditingkatkan lagi. Terlebih peserta cabor beregu di PON ke depan sudah pasti bertambah. Kondisi ini nantinya akan berdampak pada pendanaan dan lain-lain. “Kalau para senior olahraga sudah memikirkan hal ini, saya sebagai junior di olahraga angkat topi dan pasti mendukung karena KONI hanya sebatas melakukan pembinaan melalui program-program yang menunjang persiapan olahraga dan lebih bisa memperjuangkan nasib atau kesejahteraan pelatih dan atlet. Jangan sampai nanti banyak atlet yang hengkang dari Bali ke daerah lain,” tegasnya.

1bl#ik-25/2/2022

Cok Arka menambahkan bagaimanapun Ketua KONI Bali terpilih harus orang yang bisa lebih jeli melihat cabor-cabor ke depan, khususnya yang mampu menambah pundi-pundi emas pada PON. “Tiang lebih Legowo dan menghormati senior untuk memimpin KONI, tapi jangan juga lupa senior harus mampu mempersiapkan juniornya; diberikan kesempatan untuk mengasah kemampuannya dalam organisasi. KONI Bali ke depan kami harapkan bisa membenah diri di internal dan eksternal yang baik dari hari ini yang sejatinya juga sudah baik,” cetusnya. “Saya pribadi mengucapkan terima kasih kepada Bapak Ketua KONI Bali saat ini, Ketut Suwandi yang sudah memberikan dukungan dan bimbingan selama ini dan kebetulan saya dilibatkan dalam kepengurusan KONI Bali selama Beliau memimpin di KONI Badung dan berlanjut KONI Bali,” ujar Cok Arka seraya meminta agar para mantan pelatih maupun atlet yang sudah berjuang mendukung prestasi dan menjaga keharuman nama Bali bisa direkrut menjadi pegawai ataupun staf KONI Bali. ama/tim/ksm


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button