Berjuang Bersama di Masa Pandemi, Hari Jadi ke-47 PRSSNI Optimis Bangkit dari Krisis

Denpasar, PancarPOS | Tepat pada 17 Desember 2021 lalu, Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia atau disingkat PRSSNI telah genap berusia 47 tahun. Wadah pengusaha radio swasta itu, kini telah bergabung dengan 21 anggota di Bali dan 581 di seluruh Indonesia. Ketua Pimpinan Daerah Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PD PRSSNI) Provinsi Bali, Nyoman Agus Satuhedi, saat dihubungi di hari jadi PRSSNI, meskipun masih terasa dampak pandemi Covid-19, namun sangat optimis strategi bisnis pengelolaan Radio siaran di tengah perkembangan teknologi Internet bisa tetap bertahan. Ia menyadari saat ini media massa semakin beragam. Apalagi jika berbicara tentang perkembangan teknolog perlu diflashback ke tahun 1896, ketika saat itu seorang ilmuwan Italia, Guglielmo Marconi mematenkan temuannya mengenai telegraf nirkabel, dimana teknologi itu menjadi cikal bakal penciptaan radio. “Sejak penciptaannya, teknologi radio itu terus berkembang, beradaptasi serta membuktikan kemampuannya untuk tetap bertahan hingga hari ini atau sudah lebih dari 126 tahun,” beber Komang Agus sapaan akrab Direktur Utama Radio Barong tersebut, Jumat (24/12/2021).

Setelah itu, juga banyak yang meramalkan munculnya TV, maka bisnis radio akan mati, namun ternyata masih tetap bersiaran hingga saat ini. Di samping itu, ada juga disrupsi digital radio juga akan mati, tapi nyatanya dengan kehadiran teknologi internet atau digital tersebut justru membantu radio menutupi kekurangannya. Misalnya dengan Internet, Radio kini sangat mungkin menjangkau pendengar yang lebih luas melalui radio streamingnya tidak hanya pendengar Pinguin yang berdomisili di Denpasar atau Bali, Sahabat Pinguin yang ada di seluruh Indonesia, bahkan dunia dapat di jangkau. “Kalau dahulu ketika sahabat Pinguin ingin berinteraksi dengam penyiar, mereka harus datang mengisi kupon request. Kemudian berkembang melalui SMS dan kini teknologi digital menyediakan sosial media untuk radio lebih dekat dengan audiencenya tidak hanya berinteraksi via suara, tetapi lebih beragam audio, video, gambar dan juga text,” papar pengusaha asal Desa Banyuatis, Kecamatan Banjar, Buleleng itu.

Perubahan tersebut harus disadari oleh seluruh praktisi radio, maupun pengelola radio. Setiap perubahan yang terjadi harus diantisipasi dengan bijak dipelajari, dan dipahami, sehingga mampu menghadirkan program unggul yang relevan saat ini. “Kuncinya radio harus cerdas, kreatif dan mau bekerja keras,” imbuh Ketua Umum Kadin Buleleng ini, seraya menambahkan, sebagai ketua organisasi radio mengakui setiap anggota PRSSNI tentu memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing, sehingga melalui organisasi PRSSNI semuanya bersatu untuk saling membantu masalah yang dihadapi, baik itu dalam hal perijinan, SDM maupun teknologi. “Kami sangat menyadari bahwa untuk memajukan industri radio tidak mungkin dilakukan oleh Radio Pinguin saja, atau Radio Barong saja, tetapi ini harus dilakukan secara bersama-sama. Tidak hanya radio-radio yang tergabung dalam PRSSNI saja, tetapi juga oleh seluruh radio di Bali. Berkali-kali kita membuat Radio Academy untuk seluruh radio di Bali dengan tujuan meningkatkan kapabilitas serta keahlian SDM radio di dalam mendukung kemajuan industri radio,” tegas Wakil Ketua Hubungan Organisasi Kemasyarakatan DPD Partai Golkar Bali tersebut.

Pihaknya mengingatkan, pandemi Covid-19 kali ini merupakan musibah yang luar biasa dan tidak hanya dialami di Bali, tetapi seluruh dunia juga merasakan dampaknya. Dijelaskan, PRSSNI dalam kondisi seperti ini tentu sangat prihatin, sehingga pengurus berupaya secara bersama-sama dengan anggota untuk berupaya mengatasi dampak pandemi ini. Beberapa program sudah berjalan dan terlaksana dengan baik, mulai dari bantuan sembako ke Insan/ pekerja radio anggota PRSSNI, progam iklan bersama, serta banyak program penguatan SDM radio yang akan dilakukan di tahun 2022. “Semoga melalui program tersebut, upaya meningkatkan daya saing radio-radio anggota PRSSNI dapat terwujud, sehingga anggota mampu bangkit dari krisis ini,” paparnya. Di sisi lain, berkaitan dengan regulasi radio diharapkan mampu mengatur serta menjaga tatanan menjadi lebih baik, meskipun setiap munculnya regulasi baru tentu ada dinamikanya. Namun bagi radio, regulasi sudah cukup baik walau masih belum ideal. Misalnya dengan UU Cipta Kerja, pemerintah kembali menjadi regulator tunggal dan ini baik dari sisi proses perjinan yang semakin simple, tetapi PRSSNI tetap berupaya melalui pengurus pusat untuk terus berjuang, berkontribusi lahirnya peraturan yang mendukung industri radio.

“Kami pengurus daerah menjaga hubungan baik dengan pemeritah, KPID sehingga radio mampu menghasilkan siaran sehat, mencerdaskan dan bermanfaat bagi masyarakat Bali. Happy Anniversary Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia – PRSSNI ke-47. Semoga semakin solid dan radio tetap menjadi bagian keseharian masyarakat Indonesia,” tutup Komang Agus. ama/ksm









