Minggu, April 5, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
BerandaEkonomi dan BisnisSampah Organik Disulap Jadi "Emas" Cair, Komunitas Angen dan BTID Dorong Revolusi...

Sampah Organik Disulap Jadi “Emas” Cair, Komunitas Angen dan BTID Dorong Revolusi Lingkungan di Serangan

Denpasar, PancarPOS | Di tengah persoalan sampah yang kian mengkhawatirkan, secercah harapan lahir dari pesisir Desa Serangan. Komunitas Angen, binaan PT Bali Turtle Island Development (BTID), menunjukkan bahwa limbah bukanlah akhir, melainkan awal dari nilai baru. Melalui inovasi pengolahan sampah organik menjadi Eco-Enzyme, mereka tidak hanya membersihkan lingkungan, tetapi juga menggerakkan ekonomi sirkular berbasis komunitas.

Sejak akhir Desember 2025, gerakan ini mulai berjalan nyata. Limbah buah-buahan dari warung kuliner dan sisa sarana upacara (persembahan) dikumpulkan, diolah, dan difermentasi menjadi cairan multifungsi yang dikenal sebagai Eco-Enzyme. Produk ini bukan sekadar hasil eksperimen, melainkan solusi konkret yang menjawab dua persoalan sekaligus: penanganan sampah dan kebutuhan produk ramah lingkungan.

Eco-Enzyme sendiri merupakan cairan hasil fermentasi limbah dapur organik seperti sisa buah dan sayuran. Manfaatnya beragam, mulai dari pembersih alami, pupuk organik, hingga penjernih air. Di tangan Komunitas Angen, inovasi ini menjadi simbol perubahan paradigma: dari membuang menjadi memanfaatkan, dari masalah menjadi peluang.

1bl#ik-007.16/3/2026

Pembina Komunitas Angen, I Wayan Patut, mengungkapkan bahwa proses produksi Eco-Enzyme membutuhkan ketelatenan dan waktu. “Prosesnya sekitar tiga bulan. Dimulai dari pengumpulan limbah, pencacahan, lalu difermentasi dalam galon air bekas,” jelasnya.

Namun yang membuat inovasi ini unik bukan hanya prosesnya, tetapi juga sentuhan lokal yang dihadirkan. Komunitas Angen menambahkan bunga-bunga khas Bali seperti bunga kenanga dan kantil dalam proses fermentasi. Hasilnya, Eco-Enzyme yang dihasilkan tidak hanya fungsional, tetapi juga memiliki aroma harum alami yang jauh dari kesan limbah.

“Kami ingin menghilangkan stigma bahwa sampah itu kotor dan bau. Dengan tambahan bunga, aromanya justru segar dan menenangkan. Ini murni organik tanpa bahan kimia,” tegas I Wayan Patut.

Lebih jauh, inovasi ini juga menerapkan prinsip zero waste. Ampas hasil penyaringan Eco-Enzyme tidak dibuang begitu saja. Sebaliknya, dimanfaatkan kembali sebagai kompos, bahan pembersih, bahkan pupuk padat alami yang langsung dapat digunakan untuk tanaman.

1th#ik-001.1/3/2026

Artinya, tidak ada residu yang terbuang. Semua kembali ke alam dalam bentuk yang lebih bermanfaat.

“Harapan kami sederhana, kesadaran itu dimulai dari rumah tangga. Tidak semua sampah adalah limbah. Sebagian bisa menjadi sumber daya,” tambahnya.

Gerakan ini juga tidak berjalan sendiri. Kolaborasi menjadi kunci. I Wayan Patut menegaskan bahwa keberlanjutan program ini tidak lepas dari dukungan Kura Kura Bali sebagai mitra strategis.

“Market utama kami saat ini adalah di Kura Kura Bali dan UID. Dari sana kami diberi ruang, diberi tempat untuk berkembang, bahkan dilibatkan dalam berbagai event,” ungkapnya.

Dukungan tersebut juga ditegaskan oleh Kepala Departemen BTID, Zefri Alfiraqy. Ia menyampaikan apresiasi atas inisiatif Komunitas Angen yang dinilai sejalan dengan komitmen perusahaan dalam menjaga lingkungan.

“Kami ingin komunitas lokal memiliki ruang untuk tumbuh dan berinovasi. Terutama kegiatan yang berdampak langsung pada kebersihan lingkungan seperti di Serangan ini,” ujarnya.

BTID, lanjutnya, memastikan akan terus memberikan dukungan fasilitas, termasuk workshop dan sarana produksi, agar gerakan ini tidak berhenti di tengah jalan.

1th#ik-039.1/12/2025

Saat ini, workshop Komunitas Angen di kawasan Kura Kura Bali telah mampu memproses sekitar 150 galon Eco-Enzyme, dengan kapasitas 15 liter per galon, serta satu drum berkapasitas 100 liter. Ke depan, produksi ditargetkan meningkat hingga mencapai 2.000 hingga 5.000 liter.

Target tersebut bukan tanpa alasan. Selain untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal, peningkatan produksi juga menjadi langkah strategis dalam memperluas dampak lingkungan yang dihasilkan.

Melalui gerakan ini, Komunitas Angen dan BTID tidak hanya menciptakan produk, tetapi juga membangun kesadaran kolektif. Bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil: memilah sampah, mengolahnya, dan mengembalikannya ke alam dalam bentuk yang lebih baik. Di Serangan, perubahan itu sudah dimulai. Dan dari sana, harapannya akan menyebar ke seluruh Bali. ama/ksm/kel

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments