Siklus Harga Menurun, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali Kembangkan Sentra Bawang Merah 20 Ha di Desa Kedisan

Bangli, PancarPOS | Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali melaksanakan kegiatan pengembangan bawang merah seluas 20 Ha di Desa Kedisan, Kintamani, Bangli. Pengembangan bawang merah ini merupakan hasil kajian yang didanai dari alokasi APBN pada kawasan pengembangan bawang merah yang tujuannya agar pengembangan dan budidaya dapat dilaksanakan dengan menggunakan input teknologi anjuran, sehingga dapat meningkatkan produktivitas tanaman.

Sarana yang dibantu berupa benih, mulsa, pupuk organik dan sarana pengendali hayati. “Kami sangat gembira bisa menjadikan Kintamani sebagai kawasan sentra bawang merah. Saat ini Kita terus membina petani bawang merah pada kawasan sentra di Desa Kedisan, Desa Abang Batu Dinding dan Desa Soongan. Saat ini tercatat besarnya luas panen periode September sampai Desember 2023 diperkirakan seluas 340 ha dengan produksi sebanyak 7.480 ton,” beber Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Dr. I Wayan Sunada, SP., M.Agb., kepada PancarPOS.com, Jumat (29/9/2023).
Salah seorang petani bawang merah di Desa Kedisan, Made Broto, mengucapkan terimakasih kepada Pemerintah Provinsi Bali yang telah membantu bibit bawang merah dan lengkap dengan sarananya secara gratis. Selain itu hasil panen dan penjualan bawang merah tidak dikembalikan ke pemerintah melainkan dipakai bibit sebagian untuk ditanam kembali. “Saya bersyukur panen perdana bawang merah cukup bagus. Mudah-mudahan ke depan hasilnya panennya jauh meningkat dari sekarang,” harapnya.

Dijumpai di sela sela kegiatan salah satu petani dari Desa Soongan, Harman mengatakan sesuai dengan siklus tahunan saat ini, produksi bawang merah yang dihasilkan dari budidaya sangat baik, berkat bimbingan dari Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten Bangli sebagai upaya meningkatkan hasil pertanian. Hanya sayang kondisi saat ini berdasarkan siklus harga jual bawang merah yang sudah berlangsung beberapa tahun harga bawang merah pada saat bulan bulan Agustus – September mengalami penurunan.
Hal itu diakibatkan terjadi panen raya yang bersamaan di beberapa daerah. Untuk menyiasati penurunan harga, sebagian petani memilih untuk menahan stok hasil panen hingga kondisi membaik. Penimbunan itu maksimal hanya 3 bulan dari masa panen. Selanjutnya Sunada menegaskan Hal ini juga yang menyebabkan Dinas Pertanian Provinsi senantiasa tak henti hentinya mensosialisaikan pentingnya melaksanakan budidaya yang baik, termasuk memilih varietas yang dikembangkan.

Varietas bawang merah jenis Bali Karet (Batu Ijo) merupakan salah satu dari 25 jenis varietas bawang merah unggulan yang diresmikan oleh Kementerian Pertanian, sehingga bawang merah jenis ini sudah dilakukan observasi untuk dikaji, dievaluasi, dikarakterisasi dan diadaptasikan di beberapa sentra produksi, agar produksi bawang merah yang dihasilkan dapat bersaing di pasaran. “Lantaran kualitas yang dihasilkan mampu bersaing dengan produk yang lainnya,” tegasnya.
Dari Hasil Pantauan di lapangan bersama Harman, sebagai petani bawang merah di Desa Songan mengatakan harga bawang merah saat ini berkisar Rp10 ribu sampai Rp11 ribu/kg. Harga tergantung jenis dan besar kecilnya ukuran. Padahal pada Kondisi normal harga jual bawang merah di tingkat petani Rp.20 ribu/kg, sedangkan di tingkat grosir sekitar Rp23 ribu Rp25 ribu/kg.

Menyikapi hal ini, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali langsung memerintahkan jajarannya untuk meningkatkan kepedulian pada petani bawang merah dengan memborong bawang merah sebanyak 2,2 ton yang selanjutnya mewajibkan semua karyawan untuk membeli guna memenuhi kebutuhan rumah tangga. ama/ksm









