Nasional

Bentuk Rasa Kebhinnekaan, Ketua PHDI Bandung Ajak Tumbuhkan Ide Kreatif Anak Muda


Bandung, PancarPOS | Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bandung Barat I Nyoman Lasiana,. S.Sos., MM., mengajak masyarakat menumbuhkan ide – ide kreatif anak muda untuk membentuk persamaan rasa dalam kebhinnekaan. Oleh karena, kebhinekaan atau pluralitas masyarakat Indonesia sangat tinggi, dimana agama, ras, etnis, bahasa, tradisi budaya, penuh perbedaan. Dalam keberagaman dibutuhkan kedewasaan seluruh warga negara. Menjadikan perbedaan sebagai khasanah bangsa yang harus direkatkan dengan persatuan yang kuat, saling memberi, saling mengisi.

1bl#ik-21/8/2021

Indonesia negara yang Bhinneka Tunggal Ika tentu perbedaan itu adalah hal yang wajar “Mari kita bersatu, jangan sampai tercerai berai,” kata Lasiana bertepatan pada Hari Raya Saraswati di Bandung Barat, Sabtu (28/8/2021). Dikatakan pula, menjadikan perbedaan sebagai bunga-bunga yang beranekaragam yang menghiasi taman nusantara. Masyarakat sangat penting di berikan rasa kebersamaan di dalam perbedaan.Menumbuhkan kebersamaan dalam situasi yang penuh persaingan di butuhkan insan insan yang mau berkorban, berani berkorban. Upaya itu sebagai bentuk perjuangan dalam mengisi kemerdekaan Indonesia sudah memasuki usia 76 tahun.

1bl#ik-17/8/2021

Memang berkorban dalam situasi persaingan global dibutuhkan jiwa-jiwa yang tulus. Hal itu memang sangat langka di temukan kalau tidak dibibit dari sedini mungkin. Selain itu, jiwa rela berkorban juga dibutuhkan, dimana persaingan begitu ketat bahkan mungkin tidak sehat, maka sangat di perlukan sportifitas, merasa senasib sepenanggungan, menjadikan tat twam asi sebagai bagian dari jiwanya. Menimbulkan rasa itu dibutuhkan waktu, kebersamaan dan situasi yang mendukung apalagi situasi saat ini yang serba tidak menentu, penghidupan sulit, dimasa pandemi Covid-19 yang tidak tau kapan akan berakhir, penyelesaiannya bagaimana?

1bl#bn-17/8/2021

Saat inilah di butuhkan pemimpin – pemimpin yang berjiwa besar, hatinya murni untuk menyelamatkan umatnya walaupun dia mengorbankan, waktu, perasaan, materi, bahkan mungkin kehidupannya. Disaat inilah pemimpin itu dibutuhkan kehadiraannya, atau negeri ini akan hancur. Dalam situasi sulit ada dua kemungkinan, negeri itu akan hancur atau akan melahirkan orang – orang besar. Dalam situasi sulit itu seperti seorang ibu sedang hamil, penuh perjuangan, penuh perhatian, selalu waspada dan tidak pernah lengah, tidak pernah bosan mengoreksi diri dan menyiapkan diri. “Menunggu kelahiran orang – orang besar. Yang akan membesarkan negerinya, daerahnya, agamanya, untuk membawa kedamaian diseluruh negeri,” ungkapnya.

1bl#ik-16/8/2021

Untuk itu, pihaknya mengajak berdoa semoga orang – orang besar dalam kebhinekaan segera terlahir sehingga umat tidak lama dalam penderitaan, dalam ketidakpastian, dalam moril yang rendah. Kepemimpinan yang gagal akan berakibat penderitaan lama pada umatnya, pada masyarakatnya. “Seperti negeri – negeri yang dulu adi kuasa tapi sekarang hanya tinggal sejengkal, bahkan mungkin hanya tinggal nama,” ungkapnya. Dalam mencegah nasi sudah jadi bubur, sebaiknya evaluasi diri, koreksi diri, supaya tidak kecemplung pada lubang yang sama. “Berebut menjadi pemimpin saat enak adalah sifat-sifat penikmat, tetapi berani memimpin saat sulit itulah sifat pemimpin sejati,” ungkapnya.

1bl#ik-13/8/2021

Mempertahankan jauh lebih berat daripada merebut, itulah kata – kata pejuang jaman dulu. “Sekaranglah masa kita menunjukan pengabdian, berjuang mempertahankan keutuhan dalam kebhinnekaan dalam bingkai NKRI yang maju, khususnya di pulau dewata yang kita sayangi,” tutupnya. aya/ama/ksm

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Back to top button
Website is Protected by WordPress Protection from eDarpan.com.

Close