Ekonomi dan Bisnis

Bermodal Nekat, Usaha Siomay Naning Bisa Cuan Puluhan Jutaan Rupiah

Awalnya Pontang Panting Cari Pinjaman, Ternyata KUR BRI Sangat Mudah dan Cepat


Denpasar, PancarPOS | Seorang ibu rumah tangga asal Jember, Jawa Timur berbagi kisah inspiratifnya. Ia memilih bermodal nekat merantau bersama suaminya sejak tahun 2017 untuk mencoba mengubah nasib ke Bali. Langkah beraninya itu, memang sudah ia niatkan, agar bisa segera terjun membuka usaha kecil-kecilan untuk membantu kehidupan keluarganya. Karena itulah, perputaran roda kehidupan tengah dialami oleh Naning Mambaul Ulum dengan mencoba usaha pembuatan Siomay. Walau begitu, usaha yang dijalankan perempuan berusia 39 tahun tersebut, awalnya tidak selalu berjalan mulus dan banyak menemui hambatan. Namun berkat kerja keras bersama beberapa pegawai telah mendorong usaha Siomaynya mampu sukses di pasaran dan terjual di warung-warung kenalannya. Ide usaha Siomay sebenarnya kini tengah banyak digeluti lantaran bisa menghasilkan cuan yang cukup menjanjikan. Bukan hanya itu, ide bisnis Siomay juga sangat mudah untuk dijalankan usahanya, karena siapa saja bisa berjualan Siomay. Menariknya lagi, dengan bisnis Siomay ini, sebenarnya tidak perlu mengeluarkan modal yang besar. Selain itu, Siomay sendiri merupakan salah satu kuliner yang banyak digemari di kalangan masyarakat. Apalagi, rasanya yang enak sangat cocok disantap sebagai makanan ringan atau menu utama.

Ia mengisahkan, awal mulanya setelah tiba di Bali, perempuan dua anak ini mengaku membuka usaha angkringan di sekitar kawasan Renon, Denpasar. Meskipun usaha angkringannya yang hanya menjualan lalapan, bakso dan jus ini berjalan mulus, namun Naning sapaan akrabnya itu dipaksa tetap memutar otak, karena juga harus mengurus kedua anaknya yang masih belia. “Saya punya dua anak waktu itu, yang satu usia 8 tahun, dan yang satu lagi usia 2 tahun. Saya bingung gimana membagi waktu untuk bekerja dan menjaga anak-anak,” kenangnya. Namun, gairah wirausaha yang membara dalam diri telah mengantarnya untuk mencari usaha yang baru, agar bisa mengatur waktu untuk menjaga anak-anaknya. Ia menyadari bahwa dirinya lebih memiliki potensi untuk menjadi pengusaha mandiri. Apalagi, semangat kewirausahaannya, juga tidak bisa ditahan oleh rutinitas sehari-hari. Tanpa ragu, Naning kemudian mencoba mengembangkan keahliannya dengan membuat Siomay. Tanpa membuang waktu, ia memutuskan untuk mengambil langkah besar dengan membuka usaha sendiri untuk membuat Siomay di rumahnya yang juga berada di bilangan Renon. “Usaha produksi Siomay itu, dimulai sekitar tahun 2019. Jadi saya mengembangkan skill yang saya punya dengan minim modal usaha. Awalnya saya memulai usaha produksi Siomay ini, dari nol dengan bermodalkan skill dan minimal modal saja,” jelasnya.

Tentu saja, bagi Naning selama awal perjalanan sebagai pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) tidaklah bisa berjalan mudah. Ia menghadapi berbagai tantangan dan rintangan yang menguji ketekunan serta keuletannya. Saat memulai usahanya, dia mengakui bahwa tidak langsung terjadi penjualan besar-besaran. Bahkan, dalam beberapa hari pertama, penjualannya hanya mencapai beberapa kilogram saja. Namun, Naning tidak menyerah begitu saja, karena dengan semangat pantang menyerah, ia terus berusaha dan berinovasi untuk meningkatkan kualitas produk dan strategi pemasarannya. Dari niat coba-cobanya tersebut, usaha kecil Naning mulai dikenal hingga saat ini. Produksi Siomaynya ini bisa laris manis, karena cita rasanya yang dominan daging ikan. Keberhasilan Naning tidak lepas dari dedikasi dan komitmen yang ia tanamkan dalam setiap langkahnya. Karena itu, sehari bisa menghabiskan sekitar 15kg daging ikan tenggiri, di mana seporsi Siomay biasanya dijual oleh pedangan Rp15.000. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, usahanya mulai menarik perhatian para pelanggannya. Rasa penasaran terhadap produknya, juga membuat penjualan Siomaynya terus meningkat pesat. Dalam satu bulan, saat ini Naning sudah berhasil mencatatkan omset luar biasa, hingga bisa mencapai tembus Rp8 juta sampai Rp10 juta.

Kunci kesuksesannya adalah ketekunan, keuletan, dan kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi dengan perubahan pasar. Selain itu, Naning juga memiliki visi yang jelas dan semangat pantang menyerah yang kuat untuk meraih kesuksesan. Ia membuktikan bahwa dengan tekad dan kerja keras, siapapun dapat mengubah nasib dan meraih kesuksesan di bidang yang mereka geluti. Bagi Naning, perjalanan masih panjang dan tantangan masih menanti di depan. Namun, dengan semangat dan keyakinan yang dimilikinya, ia yakin bahwa tidak ada hal yang tidak mungkin untuk diraih. Karena itulah, sebelumnya ia memberanikan diri untuk meminjam pembiayaan melalui kredit usaha rakyat atau KUR dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., atau BRI. Sebenarnya kucuran modal KUR dari BRI itu, awalnya digunakan untuk membantu menambah modal untuk berjualan di angkringan, sebelum banting setir membuka usaha produksi Siomay. Ia mengajukan pinjaman KUR sebesar Rp25 juta dengan cicilan Rp1.187.500 per bulannya, pada tahun 2018 dengan masa tenor 2 tahun. Saat itu, program KUR merupakan program strategis dan dapat dikategorikan sebagai upaya penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan UMKM, dengan meningkatkan akses permodalan dan sumber daya lainnya dengan suku bunga 7% per tahun. “Saya sangat berharap program KUR ini, dapat membantu meningkatkan usaha saya,” bebernya.

Uniknya, Naning ternyata baru mengetahui tentang kredit dengan bunga sangat ringan tersebut, setelah harus pontang panting mencari pinjaman untuk modal usahanya saat itu. Dia mengaku mendapat informasi terkait pengajuan beragam pembiayaan dari BRI dari rekan resellernya yang ternyata sudah lama mengajukan pinjaman KUR ke Kantor BRI Cabang Gajah Mada. “Singkat cerita, saya lagi butuh modal untuk mengembangkan usaha saya. Saya cerita sama salah satu reseller saya yang sudah menjadi anggota KUR terlebih dahulu. Dijelaskan jika KUR dari BRI sangat membantu pelaku UMKM, seperti kita ini dengan bunga yang sangat rendah. Jadi saya putuskan mengambil KUR untuk mengembangkan usaha saya,” tegas Istri dari Suhardi tersebut, seraya mengakui setelah usaha Siomay ramai pembeli, kemudian di tahun 2020 saat Bali dilanda pandemi Covid-19 dilirik BRI sebagai mitra UMKM binaan, sehingga kembali memberanikan diri mengajukan pinjaman ke BRI setelah pembayaran KUR dinyatakan lunas dengan mengambil kredit komersil sebesar Rp75 juta dengan jangka waktu 3 tahun. “Dulu awalnya dapat mengambil tawaran KUR. Setelah KUR selesai lunas, saya naik tingkat ke kredit komersil. Karena pada waktu pengajuan KUR saat itu, hanya boleh maksimal sampai Rp50 juta. Alhamdulillah, berkat adanya KUR usaha saya makin berkembang, sehingga saya mampu memenuhi kebutuhan keluarga,” bebernya.

Dia menceritakan kemudahannya mendapatkan KUR dari BRI, karena dalam hitungan 1×24 jam, suntikan modal dari BRI sudah dapat diterima. “Sangat mudah, cukup menyiapkan berkas ke BRI terdekat, yang penting ada surat yang menyatakan usaha tersebut milik sendiri. Lalu disurvei oleh marketingnya. Tidak lama kemudian uang pinjaman sudah ada di rekening,” ujarnya. Dia juga bercerita tentang usahanya yang sering bertransaksi dengan pembayaran menggunakan transfer BRI, sebab sering terjadi pelanggan yang kekurangan uang, saat akan membayar secara cash dan berujung pada pembayaran non tunai. Di sisi lain, perbaikan cita rasa terus dilakukan hingga bisa menemukan resep yang pas. Menu yang disediakan pun kini makin lengkap serta harganya pun terjangkau bagi pembeli. Jadi tidak heran jika bisnis terus mengalami kemajuan yang pesat hingga memiliki beberapa pegawai harian. Karena itulah, kini usaha Siomay yang dirintisnya itu, juga sudah memberikan imbas ekonomi bagi tetangga dan masyarakat di sekitarnya. Seperti, Ibu Mira dan Ibu Aqila yang sudah bekerja membantu mulai dari awal membuka usaha jualan Siomay. Mereka juga yang diajak ikut membuat, sekaligus menawarkan hasil produksi Siomay dari satu pedagang ke pedagang lainnya. “Kami bersyukur bisa bekerja di sini, karena bisa menambah uang untuk keluarga,” ujar Mira.

Sementara itu, Pemimpin Cabang BRI Gajah Mada, Yoggi Pramudianto Sukendro menuturkan, digitalisasi dalam UMKM adalah sebuah kebutuhan. Dari sisi pemilik UMKM seperti Naning misalnya, semua yang berhubungan dengan perbankan dan transaksi keuangan sebenarnya kini telah tersaji lengkap pada super Apps BRImo. Bayangan saja, berkas persyaratan pengajuan kredit bisa langsung diproses saat itu juga melalui smartphone. “Efisien tentunya, karena calon debitur tidak repot lagi mengantar berkas ke kantor. Sebenarnya semua cukup melalui smartphone. Tidak perlu ke kantor dulu kumpul berkas semua digitalisasi. Jadi digitalisasi ini mempercepat proses pengajuan kredit,” jelasnya. Apalagi KUR BRI selama ini memang dirasakan menjadi solusi bagi pelaku UMKM, khususnya yang belum bankable. Karena syaratnya mudah dan prosesnya cepat. Karena inilah, pinjaman KUR BRI sangat menguntungkan bagi pengusaha kecil yang membutuhkan dana tambahan untuk mengembangkan usaha, seperti jualan Siomay. Program KUR BRI ini, telah membantu banyak pengusaha kecil untuk meningkatkan produktivitas dan memperluas cakupan bisnis. “Program KUR BRI dirancang untuk membantu pemilik usaha kecil. Program ini, juga sangat cocok untuk usaha jualan Siomay yang seringkali dijalankan oleh perorangan, atau keluarga dan memiliki skala operasi yang relatif kecil,” tandasnya. ama/ksm

Baca Juga :

Tinggalkan Balasan


Back to top button