Politik dan Sosial Budaya

700 Hektar per Tahun Lahan Pertanian Menghilang, Made Urip: Apakah Bali Betul-Betul Surplus Beras?

Genjot Bimtek Sosialisasikan LP2B dan Produksi Pembenah Tanah di Gianyar


Gianyar, PancarPOS | Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Drs. I Made Urip, M.Si., kembali melanjutkan agenda bimbingan teknis (Bimtek) yang mengangkat Sosialiasi Perlindungan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) dan Pemanfaatan Media Alternatif Produksi Pembenah Tanah di Green Kubu, Tegallalang, Gianyar, pada Kamis (25/5/2023). Wakil Rakyat Sejuta Traktor yang akrab disapa M-U ini, tetap bersemangat melanjutkan terjun ke tengah masyarakat, khususnya untuk menambah wawasan dan kapasitas petani dan krama subak di seluruh Bali. Made Urip yang masih menjabat Ketua DPP PDI Perjuangan membidangi Pertanian, Lingkungan Hidup dan Kehutanan itu, sebelumnya menggenjot kegiatan Bimtek) untuk mengangkat kapasitas petani dan krama subak di Bumi Makepung, Jembrana.

1bl#ik-041.14/5/2023

Pelaksaaan Bimtek ini, kembali bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Prasana dan Sarana Pertanian (Ditjen PSP) Kementerian Pertanian. Kehadiran M-U mendapat respon yang luar biasa dari para kelompok petani dan krama subak, seperti yang dikatakan salah satu peserta Bimtek, I Wayan Sabar. Mantan Pekaseh Subak Susut itu, mengucapkan terima kasih kepada Made Urip yang sangat konsisten mendukung sektor pertanian. Bahkan, juga telah memfasilitasi kegiatan Bimtek untuk mengangkat ilmu dan pengetahuan para pahlawan pejuang pangan itu. “Kami sangat berharap makin banyak bantuan dan perhatian Pak Made Urip, agar kita bisa ikut menjaga perlindungan lahan pertanian berkelanjutan, termasuk mengolah lahan menjadi lebih baik,” ujarnya.

Selaku tuan rumah, Plt. Kabid PSP, Dinas Pertanian Gianyar, I Gusti Nyoman Raka, SE., menyampaikan ucapan selamat datang kepada Made Urip bersama jajaran Ditjen PSP Kementerian Pertanian untuk menggelar Bimtek di Kabupaten Gianyar. Mewakili Kadis Pertanian Gianyar, pihaknya mengaku sangat mengapresiasi pelaksanaan Bimtek untuk mendukung pengembangan potensi pertanian, khusus lahan sawah. Apalagi sektor pertanian ini sangat penting mengawal ketahanan pangan, sehingga butuh pengembalian kwalitas tanah, akibat penggunaan pupuk kimia yang perlu dicarikan solusi bersama lewat Bimtek ini. “Kami berharap petani dan penyuluh di Kabupaten Gianyar dapat mengikuti Bimtek ini dengan baik untuk mengembangkan sektor pertanian di masa mendatang,” tandasnya.

1th#ik-039.15/5/2023

Sementara itu, Kabid Sumber Daya mewakili Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Bali, Ir. Sang Ayu Ketut Sri Wahyuni, M.Agb., juga berharap agar Bimtek yang difasilitasi langsung oleh Made Urip ini, bisa dimanfaatkan dan diaplikasikan dengan baik di lapangan. Apalagi Made Urip telah terbukti secara konsisten dan terus menerus mendukung para petani dan penyuluh untuk mengelola lahan pertanian menjadi lebih baik. Harus juga disadari, potensi pariwisata Bali sebagai tujuan wisata yang tetap menjadi primadona dunia, sehingga diharapkan bisa terus berdampingan dan seirama dengan sektor pertanian. “Karena itu kami sangat mendukung kegiatan Bimtek yang terus digencarkan oleh Bapak Made Urip ini, agar juga bisa terus berlanjut di masa mendatang,” bebernya.

Di sisi lain, Koordinator Perlindungan Lahan, Dr. Dede Sulaeman mewakili Dirjen PSP Kementerian Pertanian menegaskan sektor pertanian sangat penting untuk mendukung kepentingan pariwisata di Bali yang posisinya saling berdampingan. Karena itulah, dukungan Made Urip selama ini di sektor pertanian sangat dirasakan, karena sudah hampir 25 tahun atau 5 periode sebagai Anggota DPR RI yang terpilih dengan 255.130 suara terbanyak Dapil Bali dan peringkat ke-7 di seluruh Indonesia. Seperti program kegiatan Bimtek yang diinisiasi Made Urip ini, dirasakan sangat luar biasa untuk mengembangkan sekaligus menambah efektifiitas sektor pertanian di Bali. Ditegaskan kegiatan ini akan menguatkan kontribusi sektor pertanian, agar semakin maju, mandiri dan modern ke depan.

1bl#ik-016.4/4/2023

Apalagi Bimtek telah mendatangkan narasumber dari Kepala Badan Standardisasi Instrumen Pertanian (BSIP) Bali, Dr.Drh. I Made Rai Yasa, MP., dan praktisi pertanian, I Ketut Punia. “Kami berharap agar Bimtek ini bisa dikuti dengan baik, untuk memajukan sektor pertanian, khususnya di Kabupaten Gianyar,” tegasnya. Hal senada disampaikan Made Urip yang mengakui Bimtek ini, sangat penting diikuti oleh ratusan anggota kelompok tani dan krama subak di Gianyar, sebagai wujud kerja sama dengan Kementerian Pertanian. Terkait tema yang diangkat untuk melindungi lahan pertanian di Bali harus diperhatikan secara serius sesuai dengan adanya UU No.41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, agar bisa diproteksi bersama. Apalagi jika lahan kelas 1 ini tidak dilindungi, maka di masa mendatang kebutuhan Bali akan tergantung kepada pangan impor.

“Apakah betul-betul beras kita di Bali surplus? Kita harus jujur, karena beras dari Jawa dan Lombok terus datang ke Bali. Makanya lahan pertanian ini harus dipertahankan bersama jangan sampai habis untuk kepentingan pariwisata,” tegas mantan Anggota Badan Kerja Jasa Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI ini, seraya menyadari ke depan masyarakat di Bali akan hidup berhimpitan akibat hilangnya lahan, apalagi para pendatang terus berbodong-bodong ke Bali setiap tahunnya. Karena itu, betapa pentingnya konversi atau alih fungsi lahan ini harus dibendung akibat para pendatang ini. Di samping itu, sekitar 700 hektar lahan pertanian di Bali per tahunnya terus menghilang. Padahal untuk membuka lahan pertanian baru sudah tidak mungkin lagi di Bali.

1th#bn-20/2/2022

“Sebagai petani maupun penyuluh beri informasi yang benar kepada masyarakat. Karena sebagian besar sebagai petani gurem yang hanya memiliki lahan di bawah 0,25 hektar. Inilah pentingnya Bimtek ini untuk memberikan pemahaman bagaimana menjaga efektifitas sektor pertanian kita?,” tegas M-U. Terutama tentang penyehatan kembali lahan pertanian akibat penggunaan pupuk kimia. Namun anehnya, malah sudah diklaim 70 persen sudah menerapkan pertanian organik di Bali. “Apakah betul 70 persen yang sudah menggunakan pupuk organik? Karena juga harus didukung dengan produksi pupuk organik yang mencukupi,” sentilnya. Karena itulah, M-U akan terus menggenjot bantuan dan program pertanian, terutama UPPO (Unit Pengolahan Pupuk Organik), termasuk bantuan bibit sapi betina produktif untuk menambah produksi pupuk organik di Bali.

“Kita harus terus menjaga dan melestarikan sektor pertanian ini, sebagai akar budaya melalui subak abian dan subak basah. Jangan hanya bisa mengagung-agungkan sektor pariwisata saja. Tapi sektor pertanian ini, juga harus dijaga, karena sudah terbukti tetap tumbuh, saat terjadi pandemi Covid-19 beberapa waktu lalu,” pungkas M-U. ama/ksm

Baca Juga :

Tinggalkan Balasan


Back to top button