Jumat, April 17, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
BerandaHukum dan KriminalKeamanan Dipertanyakan, Kaca Lapangan Amare Kembali Makan Korban

Keamanan Dipertanyakan, Kaca Lapangan Amare Kembali Makan Korban

Denpasar, PancarPOS | Insiden kecelakaan kembali terjadi di lapangan padel Amare pada 11 Februari 2026. Seorang pemain dilaporkan mengalami luka setelah tubuhnya menghantam dan menembus kaca pembatas lapangan saat pertandingan berlangsung. Peristiwa ini memicu pengaduan resmi dari korban dan rekan-rekannya, bahkan laporan polisi telah diajukan atas kejadian tersebut.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, insiden terjadi saat permainan berlangsung dalam kondisi normal. Korban disebut tidak melakukan benturan keras, namun kaca pembatas lapangan pecah dan menyebabkan luka pada bagian tangan. Video yang beredar memperlihatkan darah mengucur di lengan korban akibat pecahan kaca. Rekan-rekan korban menilai kualitas kaca dan standar keamanan lapangan perlu dipertanyakan.

“Ini sudah ketiga kalinya ada yang menembus kaca di tempat itu,” ujar salah satu rekan korban dalam percakapan internal komunitas saat dikutif awak media, pada Minggu (22/2/2026). Mereka menyebut kondisi ini tidak bisa lagi dianggap sebagai insiden biasa, melainkan masalah keselamatan serius.

Sejumlah pemain juga mengeluhkan kualitas fasilitas dan mendesak pengelola untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap standar keamanan, termasuk jenis kaca yang digunakan. Dalam olahraga padel, umumnya digunakan kaca tempered atau laminated yang dirancang agar tidak membahayakan saat pecah. Namun dalam kasus ini, korban tetap mengalami luka cukup serius.

Atas kejadian tersebut, pihak korban telah mengajukan pengaduan dan membuat laporan resmi ke kepolisian. Langkah hukum ditempuh sebagai bentuk pertanggungjawaban serta untuk memastikan tidak ada lagi korban berikutnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola Amare belum memberikan keterangan resmi terkait insiden 11 Februari tersebut. Para pemain berharap ada audit keselamatan, transparansi hasil pemeriksaan, serta jaminan standar keamanan sebelum lapangan kembali digunakan secara normal.

Korban dan pihak keluarga juga menyampaikan kekecewaan karena hingga saat ini tidak ada permintaan maaf resmi maupun bentuk ganti rugi dari pihak pengelola atas insiden yang terjadi pada 11 Februari tersebut. Situasi ini semakin memperkuat tuntutan agar aspek keselamatan dan tanggung jawab hukum dalam pengelolaan fasilitas olahraga benar-benar ditegakkan.

Insiden ini menjadi peringatan keras bagi pengelola fasilitas olahraga di Bali untuk memastikan setiap sarana memenuhi standar keselamatan internasional. Keselamatan pemain harus menjadi prioritas utama, bukan sekadar pelengkap fasilitas. ama/ksm

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular

spot_img
spot_img
spot_img