Badung, PancarPOS | Di tengah rencana besar peluncuran aplikasi transportasi berbasis kearifan lokal Tri Hita Trans, suara dukungan justru datang dari sosok tak terduga. Seorang warga negara asing asal Prancis, Bagus Punarbawa yang telah menetap puluhan tahun di Bali, secara terbuka menyampaikan kritik tajam terhadap wajah transportasi pariwisata saat ini sekaligus memberikan apresiasi tinggi terhadap kehadiran Tri Hita Trans.
Bagus Punarbawa bukan turis biasa. Perjalanannya dengan Bali dimulai sejak tahun 1997, ketika ia pertama kali datang hanya untuk berlibur selama tujuh hari. Namun siapa sangka, pengalaman singkat itu justru mengubah arah hidupnya. Ia memutuskan untuk menetap, membangun kehidupan, dan menjadi bagian dari Bali hingga hari ini.
Ia mengaku jatuh cinta pada Bali bukan karena kemewahan fasilitas, tetapi karena hal sederhana yang justru kini mulai memudar, yakni senyum masyarakatnya. Menurutnya, keramahan orang Bali adalah identitas utama yang membuat pulau ini berbeda dari destinasi lain di dunia. “Saya datang hanya tujuh hari, tapi tidak pernah pulang. Saya jatuh cinta dengan Bali karena orangnya selalu senyum, ramah, dan hangat. Itu yang tidak saya temukan di banyak tempat lain,” ujarnya di Canggu, Badung, pada Minggu (19/4/2026).

Namun setelah hampir tiga dekade tinggal di Bali, ia mulai merasakan perubahan yang cukup mengkhawatirkan, terutama dalam sektor transportasi pariwisata. Ia menyebut bahwa pengalaman tamu wisatawan saat ini sering kali tidak mencerminkan nilai-nilai budaya Bali yang sesungguhnya.
Bagus secara tegas mengkritik praktik transportasi berbasis aplikasi global yang dinilainya semakin tidak sehat. Ia bahkan mengaku sering mengalami langsung kekecewaan saat menggunakan layanan tersebut. “Saya sering pesan transportasi, bisa sampai enam kali, sepuluh kali dibatalkan. Kalau dapat pun, sering ada yang minta harga di luar aplikasi, bisa sampai 500 ribu sampai satu juta. Mereka tidak mau pakai harga resmi,” ungkapnya.
Menurutnya, praktik semacam ini tidak hanya merugikan pengguna, tetapi juga merusak citra Bali di mata wisatawan. Ia menilai bahwa ketidakpastian harga dan perilaku pengemudi yang tidak profesional menjadi masalah serius yang harus segera diselesaikan. “Ini sangat berbahaya untuk pariwisata Bali. Tamu datang dengan harapan tinggi, tapi yang pertama mereka temui adalah sopir. Kalau sopir tidak ramah, tidak senyum, bahkan bermain harga, itu langsung merusak image Bali,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa dalam banyak kasus, wisatawan justru merasa kaget dan kecewa karena pengalaman pertama mereka di Bali tidak sesuai dengan ekspektasi. Padahal, interaksi pertama dengan pengemudi sering kali menjadi pintu awal dalam membangun kesan terhadap sebuah destinasi. “Tamu ke Bali itu cari budaya, cari keramahan, cari adat. Tapi kalau yang pertama ditemui sopir yang tidak mencerminkan itu, mereka bisa langsung kecewa,” katanya.
Bagus juga menyoroti bahwa persoalan ini bukan sekadar individu, tetapi sistem yang tidak berjalan dengan baik. Ia melihat bahwa platform global cenderung tidak mampu mengakomodasi nilai-nilai lokal yang menjadi kekuatan utama Bali. Dalam konteks inilah, ia menyambut kehadiran Tri Hita Trans dengan penuh optimisme. Menurutnya, konsep aplikasi berbasis desa adat yang mengedepankan nilai budaya merupakan sesuatu yang belum pernah ia temukan di belahan dunia mana pun.
“Selama ini saya keliling dunia, belum pernah lihat aplikasi seperti ini. Ini luar biasa. Ini bukan hanya aplikasi, tapi sistem yang mendukung tamu dan masyarakat Bali sekaligus,” ujarnya. Ia menilai bahwa pendekatan yang diusung Tri Hita Trans sangat relevan dengan karakter Bali. Dengan melibatkan desa adat, sistem ini dinilai mampu menjaga keseimbangan antara modernisasi dan pelestarian budaya. “Ini sangat bagus. Karena Bali punya sistem sendiri, desa adat. Kalau ini dipakai sebagai dasar, pasti lebih kuat dan lebih diterima,” katanya.

Bagus juga melihat bahwa Tri Hita Trans berpotensi menjadi solusi atas berbagai persoalan yang selama ini terjadi. Dengan sistem yang lebih terorganisir, transparan, dan berbasis komunitas, ia yakin konflik transportasi bisa ditekan. Ia berharap bahwa aplikasi ini benar-benar dijalankan secara konsisten dan tidak menyimpang dari tujuan awalnya. Menurutnya, keberhasilan Tri Hita Trans akan sangat bergantung pada komitmen semua pihak. “Kalau ini dijalankan dengan benar, ini bisa jadi contoh untuk dunia. Tapi harus konsisten. Jangan sampai berubah di tengah jalan,” ujarnya.
Sebagai seseorang yang telah lama hidup di Bali, Bagus merasa memiliki tanggung jawab moral untuk ikut menjaga citra pulau ini. Ia menilai bahwa pariwisata Bali tidak boleh hanya dilihat sebagai industri, tetapi sebagai bagian dari identitas budaya. “Bali itu bukan hanya tempat wisata. Bali itu budaya. Kalau budaya rusak, pariwisata juga akan rusak,” tegasnya.
Ia juga berharap bahwa kehadiran Tri Hita Trans dapat mengembalikan nilai-nilai dasar yang selama ini menjadi kekuatan Bali, terutama dalam hal pelayanan dan interaksi dengan wisatawan. “Senyum itu penting. Ramah itu penting. Itu yang membuat Bali berbeda. Saya harap Tri Hita Trans bisa membawa kembali itu,” katanya.

Bagus bahkan menyatakan bahwa dirinya siap mendukung penuh keberadaan aplikasi ini. Ia melihat bahwa sistem yang dibangun tidak hanya menguntungkan driver, tetapi juga memberikan rasa aman dan nyaman bagi wisatawan. “Ini bagus untuk semua. Untuk driver, untuk tamu, untuk Bali. Saya sangat senang ada ini,” ujarnya. Dukungan dari warga asing seperti Bagus menjadi sinyal kuat bahwa persoalan transportasi Bali bukan hanya dirasakan oleh masyarakat lokal, tetapi juga oleh komunitas internasional yang hidup dan berinteraksi langsung dengan sistem tersebut.
Dalam konteks ini, Tri Hita Trans tidak hanya diuji oleh masyarakat lokal, tetapi juga oleh ekspektasi global. Jika berhasil, aplikasi ini tidak hanya akan mengubah wajah transportasi Bali, tetapi juga memperkuat posisi Bali sebagai destinasi wisata berbasis budaya yang autentik.
Bagi Bagus, ini adalah momentum penting yang tidak boleh disia-siakan. Ia percaya bahwa Bali memiliki semua modal untuk membangun sistemnya sendiri, asalkan ada keberanian untuk berubah. “Bali punya semuanya. Tinggal bagaimana kita jalankan dengan benar,” pungkasnya. ama/ksm






