Daerah

Sejak Wabah Covid-19, Kematian Babi di Bali Menurun Siginifikan


Denpasar, PancarPOS | Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali tidak lagi menerima laporan kasus kematian babi mati yang diduga karena suspect flu babi Afrika atau African Swine Flu (ASF) dari masyarakat. Untuk bulan April secara kumulatif di kabulaten/kota di Bali tingkat kematian Bali tergolong sangat rendah bila dibandingkan dengan kasus kematian babi mati di Bali yang terjadi pada akhir tahun 2019 lalu saat awal wabah ASF.

1bl-bn#23/3/2020

Saat dikonfirmasi, Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Ir. Ida Bagus Wisnuardhana. M.Si., ditemui Senin (20/4/2020) mengatakan, kematian babi di Bali yang dilaporkan peternak dan masyarakat pada bulan April sampai tanggal 19 sebanyak 40 ekor. Jumlah ini memperlihatkan terjadinya penurunan babi mati secara signifikan, bila dibandingkan dengan kematian babi pada bulan desember 2019 saat awal merebaknya isu ASF yakni dengan jumlah kematian babi sebanyak 65 ekor.

“Satu balan terakhir ada penurunan babi mati, sesuai laporan harian. Satu, dua, tiga ekor babi mati itupun belum dipastikan suspect ASF atau karena penyakit lain. Sejak secara intensif dilaksanakan pengendalian Covid-19 atau kebijakan social/physical distancing, ada penyemprotan disinfektan sangat berpengaruh tehadap penurunan kematian babi. Penyemprotan secara serentak juga membunuh virus babi tidak hanya virus Corona,” terang Wisnuardhana.

1bl-ik#8/3/2020

Ditambahkan, berkurangnya aktifitas masyarakat keluar rumah yang juga berpengaruh pada penurunan lalu lintas babi antar daerah juga mengakibatkan babi sehat tidak terjangkit ASF. Faktor ini yang menjadi catatan pada bulan Januari dan Februari babi mati masing-masing sebanyak 1.324 dan 1.518 ekor di seluruh Bali, karena tingginya aktivitas penjualan babi antar daerah. Bahkan kondisi ini membuat kematian babi yang dilaporkan nihil di tiga kabupaten (Badung, Buleleng dan Tabanan) pada bulan April 2020.

“Pergerakan babi sangat berkurang sehingga dua hal ini berpengaruh terhadap kematian babi karena suspect ASF. Mudah-mudahan segera bisa dikendalikan penyakit babi ini. Tapi di luar itu kita sekarang sedang memfasilitasi agar babi-babi di perternak karena harganya relatif menurun. Karena kondisi sama juga terjadi pada komoditi pertanian, perkebunan dan peternakan relatif mengalami penurun. Kecuali beberapa komoditi pokok yang meningkat harganya. Kita fasilitasi perdagangan babi antar pulau,” ungkap Wisnuardhana.

1bl-ik#12/3/2020

Secara terpisah, Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali DR. drh. Ketut Gede Nata Kesuma, MMA., membenarkan pernyataan Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali bahwa tingkat kematian babi saat ini sudah sangat rendah. Untuk memastikan harga babi tidak jatuh pihaknya telah memfasilitasi penjualan babi ke luar pulau Bali yakni ke Jawa Barat dan Jakarta. “Suplai dari daerah Lampung, Medan, Bali dan Jawa Tengah. Medan sudah hilang, sekarang masih Jawa Tengah dan Bali. Kita kejar peluang pasar. eja/ama/jmg

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Website is Protected by WordPress Protection from eDarpan.com.

Close