Ekonomi

Pariwisata Bali Ditutup, 600 Kg Sayuran Dibuang Per Hari


Denpasar, PancarPOS | Pelaku pertanian di kawasan Bedugul, I Gede Bingin Mustika ungkap nasib penani akibat penutupan sektor pariwisata Bali yang berkepanjangan. Bersama belasan petani plasma ia mengungkapkan ada potensi produksi pertanian jenis sayuran yang terbuang hingga 600 Kg per hari karena tidak bisa diserap pasar. “Kita ada petani plasma, yang kita bina. Sudah kasi target produksi sekitar 600 Kg per hari. Produksi di lahan sendiri juga ada tapi sekarang produksinya kita buang,” ujar Bingin Mustika saat dihubungi di Denpasar, Kamis (18/6/2020).

1bl-bn#15/6/2020

Menyikapi permasalahan yang dihadapi petani, ia berharap pemerintah segera membuka pariwisata Bali agar produksi mereka bisa kembali di serap pasar hotel dan restaurant. Dijelaskan sudah tiga bulan pihaknya bersama petani plasma telah mengalami kerugian, bahkan beberapa tanaman komoditi seperti paprika terpaksa dipangkas untuk menghindari biaya pemeliharaan yang tinggi. “Untuk plasma di setop dulu, hanya produksi 10 sampai 15 persen mereka jual sendiri. Bahkan karena beberapa komoditi tidak laku dipasaran akhirnya kita potong. Ketimbang kita rawat juga nanti biaya perawatan itu kan sangat-sangat tinggi seperti paprika,” jelasnya.

Baca |  Pengusaha Perikanan di Bali Banyak Gulung Tikar, Hasil Tangkapan Terus Menurun

Diterangkan, sebelum pandemi Covid-19 pihaknya bersama petani plasma mampu memproduksi kebutuhan sayur untuk hotel dan restaurant 700 Kg hingga 1 ton. Karena saat ini produksinya harus dibuang karena tidak bisa diterima pasar lokal dengan baik, pihaknya bersama petani plasma akhirnya mengalihkan komoditi sesuai permintaan pasar lokal. Namun tetap disayangkan tidak mampu diserap pasar dengan baik bahkan harganya dinilai masih sangat rendah. “Mencoba menanam yang dibutuhkan komsumen lokal seperti pakcoy, kangkung, bayam, namun akhirnya juga tidak laku. Kita buang juga. Kita kasi 50 Kg semua plasma per hari, itupun kita buang dan mereka dapat jualan sendiri barang 10 Kg,” beber pemilik Plaga Farm itu.

Baca |  Dibanjiri Ikan Tuna Luar Bali, Pelaku Usaha Perikanan di Bali Menjerit
1bl-ik#27/4/2020

Diakui Bingin Mustika, sayuran yang tidak terserap pasar lokal memang tidak dibuang begitu saja namun ada petani setempat yang memintanya untuk dijadikan pakan ternak. Disampaikan saat ini pihaknya hanya mampu menjual beberapa jenis komoditi sayur, seperti sayur hijau yang dijual Rp3.500-Rp4.000 per Kg langsung ke pasar dan warung-warung. Bahkan pakcoy saat ini hanya laku Rp 2.000 per Kg. “Sayur hijau masih mending laku 3.500-4000 per kilo, udah jual di warung. Pakcoy sekarang harganya cuma Rp2.000 per Kg, padahal sebelumnya sekitar Rp9.000-Rp11.000 per Kg di restaurant maupun di pasar biasa,” terangnya.

Baca |  Keunggulan Terbukti Teruji, Masyarakat Bali Makin Minati Kendaraan Listrik

Kondisi inilah yang dijelaskan Bingin Mustika memunculkan harapan dari para petani agar pemerintah mulai membuka sektor pariwisata untuk menjalankan new normal. Pada intinya nasib petani Bali tidak akan bisa dibantu bila pemerintah belum membuat regulasi atau kebijakan baru untuk mengizinkan hotel dan restaurant serta sektor terkait lainnya untuk kembali buka. Kondisi ini juga harus disadari pemerintah bahwa nasib yang sama juga dirasakan hampir seluruh petani di Bali khususnya yang memproduksi untuk kebutuhan hotel dan restaurant. “Yang jelas kedatangan tamu makan di restorant dan hotel, sehinggaa produk-produk pertanian ini terserap itu harapan kita,” tutupnya. eja/jmg

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Website is Protected by WordPress Protection from eDarpan.com.

Close