Perjuangkan Rp100 Juta Bangun Kori Pura Griya Pasek Kediri, Oka Winaya dan Usmantari Hadiri Mejaya-jaya Mangku Subagia

Tabanan, PancarPOS | Semangat ngayah dan kebersamaan umat Hindu kembali terpancar di Banjar Pande, Desa Kediri, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan. Pada Rabu (15/10/2025). Warga umat Pasek Maha Gotra Sanak Sapta Rsi melaksanakan upacara Mejaya-jaya dan Pawintenan Tapak Gana di Merajan Agung Griya Pasek Kediri, yang berlangsung khidmat, dan sarat makna spiritual. Upacara yang dipuput oleh Ida Pandita Mpu Griya Pemenang dari Griya Bongkasa ini menjadi momen penting bagi Jero Mangku I Putu Gede Subagia, S.H., M.H., yang resmi menjalani prosesi penyucian diri dan pengukuhan kepemangkuan setelah menamatkan Diklat Sanak Sapta Rsi.
Upacara suci ini juga dirangkai dengan pelaksanaan Piodalan Puja Wali, Mapetik, dan Pawintenan Sari, yang menjadi puncak yadnya di Merajan Agung Griya Pasek. Sejak pagi, suasana Griya Pasek dipenuhi oleh semeton Pasek dari berbagai wilayah, tokoh masyarakat, dan pemangku yang datang untuk ikut ngayah dan ngaturang bakti.

Yang menarik, prosesi ini turut dihadiri oleh anggota DPRD Tabanan Fraksi PDI Perjuangan, I Gede Oka Winaya, S.E., bersama I Nyoman Kartika sebagai perwakilan anggota DPRD Bali, Ni Made Usmantari alias M-U. Keduanya hadir tidak hanya sebagai tamu undangan, namun juga sebagai bentuk dukungan nyata terhadap kegiatan keagamaan dan pelestarian tradisi leluhur di tengah masyarakat. Kehadiran mereka menjadi wujud nyata kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat adat dalam menjaga warisan budaya Bali yang adiluhung.
Dalam kesempatan itu, Oka Winaya menyampaikan bahwa dirinya bersama Usmantari yang juga istri dari tokoh PDI Perjuangan Tabanan yang menjadi anggota DPR RI lima periode, Drs. I Made Urip, M.Si., telah memperjuangkan bantuan sosial senilai Rp100 juta dari Bupati Tabanan, Dr. I Komang Gede Sanjaya, S.E., M.M., untuk pembangunan tembok penyengker dan kori pura di Merajan Agung Griya Pasek Kediri. “Bantuan ini adalah bentuk perhatian nyata Pemerintah Kabupaten Tabanan terhadap kegiatan keagamaan dan kebudayaan masyarakat. Kami akan terus berjuang agar tempat-tempat suci seperti ini tetap lestari dan dapat digunakan dengan nyaman untuk yadnya,” ujarnya disambut tepuk tangan hangat para warga.
Lebih lanjut, Oka Winaya berharap agar Jero Mangku Subagia dapat menjalankan tugas kepemangkuannya dengan penuh tanggung jawab dan ketulusan. “Menjadi seorang pemangku bukan hanya tentang ritual, tetapi juga tentang dharma, tentang pengabdian tanpa pamrih kepada umat dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Semoga beliau senantiasa diberikan tuntunan dan keteguhan hati dalam menjalankan swadharma-nya,” tambahnya.

Oka Winaya yang juga pengusaha dari Hiswana Migas Provinsi Bali ini, juga mengapresiasi kekompakan warga Pasek Kediri yang mampu menjaga nilai-nilai gotong royong dan kebersamaan dalam setiap kegiatan yadnya. “Kami bangga melihat semangat masyarakat di sini yang terus melestarikan adat dan tradisi leluhur. Apa yang dilakukan oleh warga Pasek di Kediri ini adalah teladan bagi kita semua bahwa kemajuan daerah harus selalu sejalan dengan pelestarian spiritual dan budaya,” ungkapnya.
Ketua Diklat sekaligus Sekjen Maha Gotra Pasek Pusat, Mangku Wayan Wenen, yang turut hadir menyaksikan prosesi tersebut, menjelaskan bahwa Jero Mangku I Putu Gede Subagia telah lulus Diklat Sanak Sapta Rsi di Yayasan Santayana Dharma setelah menempuh pendidikan selama enam bulan. Sebagai penutup diklat, beliau menjalani Pawintenan Papat Dana di Pura Silayukti yang dipuput oleh Ida Pedanda dari Griya Bongkasa, Badung. Dengan demikian, mejaya-jaya di Griya Pasek Kediri ini menjadi puncak perjalanan spiritualnya sebelum resmi menjalankan tugas kepemangkuan di wilayah Kediri.
Dalam suasana penuh haru, Jero Mangku Subagia menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas perhatian dan dukungan semua pihak. “Saya mewakili keluarga besar Pasek Maha Gotra Kediri mengucapkan terima kasih atas kehadiran Bapak Oka Winaya dan Ibu Usmantari, serta seluruh semeton Pasek yang telah mendukung kami. Bantuan yang telah diperjuangkan sangat berarti bagi kami, dan menjadi wujud nyata sinergi antara pemerintah dan umat,” ujarnya.

Dia juga menambahkan bahwa yadnya ini bukan sekadar upacara, tetapi juga bentuk penyatuan rasa, pengabdian, dan tanggung jawab spiritual. “Kami akan ngayah sepenuh hati, menjaga kesucian pura, dan melanjutkan dharma kepemangkuan demi keharmonisan umat dan kelestarian budaya Bali,” tegasnya. Prosesi sakral ini ditutup dengan persembahyangan bersama sebagai simbol penyerahan diri sepenuhnya kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Ratusan umat Pasek yang hadir tampak larut dalam suasana spiritual, mengiringi setiap tahapan dengan penuh keheningan.
Upacara Mejaya-jaya dan Pawintenan di Merajan Agung Griya Pasek Kediri ini menjadi bukti bahwa semangat kebersamaan, pengabdian, dan pelestarian nilai-nilai agama masih kuat berakar di tengah kehidupan masyarakat Bali. Dengan dukungan para tokoh seperti Oka Winaya dan Usmantari, harapan akan kesinambungan spiritual dan budaya umat Hindu di Bali semakin bertambah. ama/ksm









