Ekonomi dan Bisnis

Saat Bali Dikepung Sampah, Made Hiroki Tawarkan Mesin Canggih Tanpa Asap


Denpasar, PancarPOS | Di tengah darurat sampah yang kian mengancam Bali, sebuah terobosan radikal muncul dari tangan anak muda Gianyar. Made Hiroki, pengusaha properti yang bergerak di bawah bendera Aksara Cristy Legal, meluncurkan mesin pemusnah sampah tanpa asap, sebuah teknologi yang digadang-gadang mampu menjadi jawaban konkret atas krisis yang selama ini hanya berputar dalam wacana.

Mesin ini bukan sekadar alat pembakaran biasa. Dirancang dengan sistem pembakaran tertutup serta pengaturan alur udara yang presisi, teknologi ini mampu memusnahkan sampah tanpa menghasilkan asap, salah satu persoalan paling krusial dalam pengolahan limbah selama ini. Dengan pendekatan efisiensi tinggi, ramah lingkungan, serta berbasis konsep ekonomi sirkular, mesin asal Jepang ini menawarkan paradigma baru dalam tata kelola sampah Bali yang selama ini dinilai stagnan.

Situasi Bali sendiri kini berada di ujung tanduk. Penutupan TPA Suwung, tempat pembuangan akhir terbesar di Pulau Dewata yang ditargetkan rampung pada Maret 2026, menjadi pemicu utama memburuknya kondisi. Dampaknya bukan hanya teknis, tetapi juga sistemik: Bali kehilangan “katup terakhir” pembuangan sampahnya.

Made Hiroki, pengusaha muda Bali pemilik Aksara Property. (foto: ist)

Data menunjukkan, volume sampah di Bali telah mencapai sekitar 4.281 ton per hari. Ironisnya, hampir 50 persen di antaranya berasal dari kawasan Sarbagita atau Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan yang notabene merupakan pusat ekonomi dan pariwisata. Tanpa solusi cepat dan konkret, Bali terancam lumpuh oleh sampahnya sendiri.

Kondisi ini bahkan telah menarik perhatian langsung Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Artinya, krisis sampah Bali bukan lagi isu lokal, melainkan persoalan nasional yang mendesak untuk ditangani secara serius dan terintegrasi.

Melihat urgensi tersebut, Made Hiroki tak ingin hanya menjadi penonton. Ia mengambil langkah progresif dengan menghadirkan teknologi pengolahan sampah dari Jepang, sebagai negara yang dikenal disiplin dan maju dalam manajemen limbah. “Ini bukan sekadar bisnis. Ini panggilan untuk ikut menyelamatkan Bali,” ungkap langkah Hiroki yang kini mulai mengonsolidasikan kekuatan lintas sektor.

Sebagai bentuk keseriusan, Hiroki mengundang berbagai stakeholder penting, mulai dari kepala daerah di Bali, pelaku industri pariwisata yang tergabung dalam PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia), hingga tokoh masyarakat. Pertemuan strategis ini dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 17 April 2026, di Pamela Restaurant.

Agenda tersebut diproyeksikan bukan hanya sebagai ajang presentasi teknologi, tetapi juga forum konsolidasi gagasan dan aksi nyata dalam mencari solusi atas persoalan sampah yang semakin kompleks.

Made Hiroki angkat bicara secara terbuka menyusul viralnya unggahan di media sosial. (foto: ist)

Dalam perjalanannya, Made Hiroki juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada Anggota DPD RI, Arya Wedakarna (AWK), yang dinilainya menunjukkan sikap terbuka dan bijak saat menerima kunjungannya di Rumah Aspirasi Masyarakat Bali. “Saya sangat berterima kasih atas penerimaan beliau yang sangat humble. Semoga beliau selalu sehat dan mampu memimpin Bali ke arah yang lebih baik,” ungkap Hiroki.

Langkah Hiroki ini menjadi sinyal kuat bahwa solusi terhadap krisis sampah tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah. Dibutuhkan keberanian, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor.

Jika teknologi ini benar-benar bisa diimplementasikan secara luas, bukan tidak mungkin Bali akan bertransformasi dari wilayah krisis sampah menjadi model pengelolaan limbah modern berbasis teknologi bersih. Namun satu hal yang pasti waktu tidak lagi berpihak. Bali tidak butuh wacana. Bali butuh aksi. ang/ama/ksm


Back to top button