Persiapan Penataan Rampung 100 Pesen, Showcase Mangrove Jadi “Kunci” Kesuksesan KTT G20 di Bali

Denpasar, PancarPOS | Persiapan KTT Presidensi G20 dari Provinsi Bali untuk menata jalur koridor dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai sampai veneu utama di The Apurva Kempinski Bali, Nusa Dua, Kuta Selatan, Badung, hingga Showcase Konservasi Mangrove, pada Jumat, 11 November 2022 seluruhnya sudah rampung 100 persen. Dari pantauan pemasangan 2.500 penjor hias sepanjang jalan rute yang dilewati jalur G20, termasuk banner dan pamflet ucapan selamat datang peserta G20 sudah terpasang sesuai jadwal. Paling menarik persiapan G20 kali ini, yakni Taman Hutan Raya I Gusti Ngurah Rai menjadi salah satu kawasan yang mengalami penataan ulang, karena menjadi “kunci” kesuksesan untuk kepentingan kegiatan puncak KTT G20 yang berlangsung pada 15 hingga 16 November 2022. Sebab, kawasan konservasi dan wisata edukasi mangrove tersebut akan menjadi salah satu tujuan kunjungan para delegasi G20.

“Tahura Ngurah Rai Bali itu akan menjadi Showcase Konservasi Mangrove bagi delegasi yang hadir. Salah satu agenda pembahasan dalam KTT G20 memang terkait dengan lingkungan,” kata Dr.Eng. Ir. I Wayan Kastawan, ST., MA., Kelompok Ahli (Pokli) Gubernur Bali yang juga salah satu Konseptor Penataan KTT G20 Provinsi Bali, saat ditemui di Denpasar, Kamis (10/11/2022), seraya mengatakan selama ini, Tahura Ngurah Rai Bali sering dikunjungi wisatawan yang ingin melihat hutan mangrove beserta keragaman hayati di dalamnya. Flora dan fauna yang menjadi koleksi keanekaragaman hayati di area seluas 1.300 hektare itu terdiri dari hutan mangrove, aneka jenis burung dan hewan air. Disebutkan ada 33 jenis bakau atau mangrove di sana, namun paling banyak adalah Pidada Putih (Soneratia Alba) atau Prapat dalam Bahasa Bali. Jenis lainnya, yaitu Bakau Putih (Rhizophora Apiculata) dan Tancang (Bruguiera Gymnorhyza). “Kita lagi kumpulkan, tapi yang endemik atau yang asli adalah Pragat itu. Ribuan pohon bakau di sini tumbuh subur menghijau dan menjadi benteng pertahanan terbaik bagi kawasan pesisir selatan Bali,” ujar Ketua Architecture, Urban Design, and Built Environment (AUdBe) Research Studies di Pusat Penelitian Kebudayaan, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) – Universitas Udayana ini.
Pengunjung yang datang bisa menyusuri jalan kayu sepanjang 1,8 kilometer dan lebar 2 meter serta berada di ketinggian 2 sampai 3 meter di atas permukaan air dibangun membelah kawasan Tahura. Jalan kayu ini berujung di sebuah menara pandang (viewing deck) setinggi 20 meter. Saat berada di menara pandang ini, tampak hijaunya pohon bakau mengepung perairan dangkal pesisir selatan Teluk Benoa. Menara pandang dapat pula berfungsi sebagai tempat pengamatan aneka burung (bird watching) untuk para pecinta fauna. Cara lain menikmati Tahura adalah dengan naik perahu. Dengan menyusuri kawasan perairan dangkal Tahura, perahu-perahu itu bisa membuat pengunjung melihat lebih dekat kehidupan flora dan faunanya. Letak Tahura Ngurah Rai sendiri ada di tengah kawasan wisata utama, yakni Nusa Dua, Sanur dan Kuta. Secara administratif, Tahura yang punya beberapa pintu masuk itu berada di Kecamatan Kuta dan Kuta Selatan, Kabupaten Badung seluas 627 hektare dan di Kota Denpasar yaitu Kecamatan Denpasar Selatan dan Pulau Serangan dengan luas 746,5 hektare.

Pusat konservasi pesisir ini dikelola oleh Unit Pelaksana Teknis Tahura Ngurah Rai dan sejak 2010 terbuka untuk umum. Lokasi itu dapat dikunjungi setiap hari pukul 8.00 WITA sampai 17.00 WITA dan membayar retribusi sebesar Rp10 ribu per orang. Melihat posisi pentingnya sebagai konservasi pesisir dan pariwisata berkelanjutan di Bali, Presiden Joko Widodo atau Jokowi meminta para menteri terkait untuk membantu penataan ulang kawasan tempat bertelur dan berkembangbiaknya aneka jenis ikan dan burung tersebut. Adapun penataan Tahura Ngurah Ria Bali untuk KTT G20 mencakup pembangunan gerbang masuk, area drop off, wantilan, tracking mangrove dan area pembibitan dan persemaian yang mampu menampung 6 juta bibit bakau. Kemudian membangun area penerima (lobby, ticketing, kantor penerima), menambah menara pandang khususnya ke arah Teluk Benoa, dan penataan area parkir VVIP khusus kepala negara di atas lahan seluas 2,6 ha di sekitar Waduk Muara yang sudah dipelaspas dan diresmikan langsung oleh Presiden Jokowi didampingi Gubernur Bali, Wayan Koster pada Purnama Sasih Kalima, Anggara Pon, Wuku Ukir, Selasa 8 November 2022.
Kata Kastawan sapaan akrab Dosen Tetap Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Udayana ini, untuk Showcase Mangrove ini akan menjadi area Mangrove Information Center (MIC), sekaligus museum yang melingkupi bangunan area ticketing, track pejalan kaki, menara pandang, dan viewing deck Tanjung Benoa. “Ini ke depan akan menjadi daya tarik wisata baru di Bali, selain sebagai sarana edukasi dan rekreasi serta bisa meningkatkan retribusi pendapat asli daerah (PAD) dari parkir dan tiket masuk,” beber Kastawan yang berpraktek sebagai Architect, Urban Designer, Planner dan Researcher dengan mendirikan Studio KASTAWAN Architect and Partners yang bergerak pada bidang konsultansi perancangan arsitektur, perancangan kota dan perencanaan kawasan yang juga pernah mengabdi sebagai Anggota Kelompok Ahli Pembangunan Pemerintah Kabupaten Bangli ini, seraya mengungkapkan sudah ada rencana pemerintah untuk membangun Showcase Mangrove ini, sebagai Museum Sumber Daya Alam yang dijadikan tempat menunjukan pengelolaan ekosistem alam Bali dalam konsep Sat Kerthi Loka Bali.

“Wana Kerthi bagaimana? Danu Kerthi bagaimana? Segara Kerthi bagaimana? Di samping juga bicara Atma, Jana dan Jagat, sehingga Sat Kerthi dan Tri HIta Karananya juga ada dalam satu ekosistem yang digali, dilestarikan, menjaga, memanfaatkan dan mengembangkan sumber daya alam yang ada secara bertanggungjawab bagi generasi mendatang. Sehingga dengan adanya museum baik di indoor, maupun Showcase Mangrove menjadi outdoor museum sebagai ekosistem alam,” pungkasnya. tim/ama/ksm









