Ekonomi dan Bisnis

Nekat Terlilit Hutang Non Bank, Kini Kisah Petani Garam “Palungan”di Desa Les Kembali Bangkit Dibantu KUR BRI


Buleleng, PancarPOS | Sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1946 bagi umat Hindu, pada Senin, 11 Maret 2024 akan merayakan Hari Pangrupukan. Kebetulan hari itu, Minggu (10/3/2024), sebenarnya juga dijadikan hari libur di Bali, sehingga tidak ada salah salahnya sebelum pulang kampung ke Banjar Tengah, Desa Gobleg, Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali, juga sempat jalan-jalan mendaki bukit di wilayah Yangudi, sebagai sebuah dusun sepi di Desa Les, Kecamatan Tejakula, Buleleng. Pada saat itu, ternyata banyak turis terlihat, terutama dari Australia yang datang untuk menikmati suasana di sentra pembuatan garam lokal Bali atau biasa disebut Garam “Palungan” di dekat Pantai Desa Les. Dari lokasi pantai yang dekat dengan perbukitan itu, mereka mengamati petani yang sedang sibuk membuat garam melalui palung-palung dengan air laut yang berisi banyak sekali kristal-kristal garam putih bersih dan menggiurkan. Seperti diketahui, Desa Les yang merupakan salah satu dari sepuluh desa yang berada di Kecamatan Tejakula, memang sedang mengembangkan wisata alternatif berbasis masyarakat. Salah satunya, wisata jalan-jalan menyusuri ceruk-ceruk desa yang menawarkan pemandangan petani garam Bali yang bisa dilihat wisatawan domestik, maupun mancanegara.

Turis asing dan domestik sering datang ke sentra pembuatan Garam Palungan di dekat Pantai Desa Les. (foto: ama)

Desa Les sebenarnya sebagai desa pesisir yang menjadi tempat yang bagus untuk belajar tentang cara hidup berkelanjutan dari komunitas nelayan dan petani setempat. Perjalanan menuju Desa Les berjarak sekitar 89 km dengan waktu tempuh sekitar 3 jam dari Kota Denpasar, atau berjarak sekitar 42 km sebelah timur dari Pantai Lovina yang menjadi pusat wisata paling populer di Bali Utara, Buleleng. Selain memberikan pengalaman dalam berwisata, kegiatan wisata jalan-jalan di Desa Les ini, juga mampu membuka sebuah dogma baru dalam pengembangan wisata. Tidak hanya menghandalkan wisata alam yang telah dimiliki, seperti air terjun, tetapi wisata alam yang dikombinasikan dengan potensi lain, dari warga dan kreativitas masyarakat dengan membuat kelompok petani garam. Namun sayangnya, hujan lebat yang terus mengguyur wilayah Bali, termasuk di Kecamatan Tejakula beberapa bulan terakhir membuat petani garam tradisional meringis. Sama dengan yang dialami petani garam di Desa Les yang tidak dapat memproduksi Garam Palungan secara maksimal. Akibatnya, ada petani garam yang terpaksa menguras tabungan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari selama tidak dapat memproduksi garam.

Mirisnya lagi, sebelum memiliki tabungan ternyata para petani garam awalnya mulanya merasa sangat takut dan khawatir mengajukan kredit di bank, sehingga memilih melakukan pinjaman ke teman atau keluarganya, termasuk banyak rentenir dengan nilai bunga yang cukup pantastis. Hal itu, dirasakan langsung oleh salah satu petani garam, Yan Kinta sapaan akrabnya, karena meminta nama aslinya disamarkan, ketika kembali menerawang ingatan saat harus terlilit hutang piutang dengan pinjaman non bank dari Rp1 juta hingga Rp10 juta. Bahkan, sempat terpikir olehnya untuk mencoba pinjaman online (Pinjol) melalui handphone android murah miliknya, karena sedang menghadapi kebutuhan uang yang mendesak. Bukan masa yang mudah baginya saat itu, karena harus terus membanting tulang dan bekerja keras demi membayar pinjaman tersebut. Seiring berjalannya waktu 4 tahun silam, akhirnya Kinta nekat memberanikan dirinya untuk kembali bangkit mencoba mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau dikenal Bank BRI.

Garam lokal di Desa Les yang biasa disebut Garam “Palungan”. (foto: ama)

Dia mulai mengenal KUR BRI sejak tahun 2020 lalu, lewat Agen BRILink yang mengajak salah satu Mantri BRI yang pada perbankan khususnya BRI Unit, adalah petugas yang menangani kredit, atau Account Officer. Awalnya pria yang berbadan cukup kekar berusia 42 tahun ini, menjadi petani garam pertama di kelompoknya yang mengajukan pinjaman KUR mikro di BRI dengan nilai kredit sebanyak Rp25 juta dengan tenor tiga tahun. Pinjaman yang prosesnya dirasakan ternyata sangat mudah dan cepat itu, diarahkan untuk digunakan membeli alat-alat memproduksi garam, seperti pompa air dan bahan terpal untuk menjemur garam. “Sisanya masih sedikit saya tabungkan di rekening Bank BRI. Karena nantinya bisa saya gunakan untuk keperluan lain yang mendesak,” kata Kinta yang kini sudah memiliki dua anak itu, sambil mengelap keringatnya dengan sebelah telapak tangannya. Usaha keras yang dilakukan oleh Kinta akhirnya berujung dengan berbuah manis, karena semua tagihannya waktu itu bisa lunas lebih awal. “Sebelumnya buat makan saja sangat susah, karena harus bayar hutang sana-sini. Jadi menyesal tidak mau dari awal mencoba KUR BRI,” sebutnya.

Setelah itu, ia mengaku langsung berani mengajukan kredit dua kali lipat, sehingga saat ini sedang menuntaskan pinjaman KUR BRI yang kedua senilai Rp50 juta dengan tenor lima tahun, sehingga berencana mengajukan kompensasi kredit dalam waktu dekat. Sebelumnya, memang semua petani garam menilai proses meminjam uang di bank dirasakan akan sangat sulit dan berbelit-belit, sehingga akhirnya ia bersama Mantri BRI berusaha meyakinkan para petani garam lainnya, bahwa mengajukan pinjaman KUR BRI tidak serumit yang mereka bayangkan selama ini. “Setelah KUR pertama saya lunas, saya juga ikut mendorong agar petani lainnya juga mencoba mengajukan kredit, karena hanya cukup menyetorkan KTP dan kartu keluarga (KK, red) sebagai syarat awal pengajuan kredit,” ujarnya, seraya terus mendampingi langsung petani mengurus surat keterangan usaha di kantor desa setempat sebagai syarat pengajuan KUR di BRI. “Bapak dari petugas (Mantri, red) BRI kemudian mengawal pengajuan pinjaman ke BRI Unit Tejakula (di bawah BRI Kantor Cabang Singaraja, red),” terangnya. Namun yang tidak disangka, ternyata sekitar sepekan pinjaman sudah cair, sehingga para petani bisa mengakses KUR dengan bunga pinjaman sangat rendah, atau hanya 6 persen per tahun.

Kristal Garam Pulungan di Desa Les. (foto: ama)

Sejak masa inilah, berangsur-angsur kepercayaan petani garam Bali terhadap layanan perbankan, khususnya BRI mulai tumbuh dengan pesat. Setelah itu, tidak pernah muncul lagi lintah darat atau rentenir yang datang menagih hutang kepada petani garam yang telah merasakan dampak positif memanfaatkan fasiltas kredit dari BRI. “Sekarang semua petani garam di sini kan sangat gampang dan mudah, karena tinggal bayar kredit KUR lewat BRILink terdekat di desa ini,” bebernya. Kini berkat pinjaman KUR mikro dari BRI, mereka bisa membeli berbagai peralatan untuk meningkatkan produksi garam. “Kalau dulu kita jangankan ada uang untuk ingin menabung. Uang untuk makan saja kita pas-pasan. Tapi berkat dukungan Bank BRI kami bisa terus melanjut usaha kami yang sudah turun temurun,” kenangnya, sekaligus mengisahkan sudah menggeluti profesi sebagai petani garam sejak usia masih belia. Bersama keluarganya sampai kini masih mengelola 8 petak lahan seluas 4 are untuk membuat Garam Palungan. Petak lahan yang selalu basah dengan air laut itu, ternyata milik keluarganya yang dikelola secara turun temurun sampai ke generasi kelima saat ini.

Selama beberapa generasi menggeluti profesi sebagai petani garam, sudah banyak suka maupun duka yang telah dirasakan bersama petani lainnya. Tak terkecuali bagi Nyoman Madiasa yang tidak jauh bernasib serupa. Ketua Kelompok Petani Garam Desa Les ini, mengakui awalnya juga selalu kesulitan permodalan untuk meningkatkan produksi garam, sebagai usaha keluarganya selama ini. Ia membenarkan sejak lama petani garam kerap mencari pinjaman di lembaga keuangan non bank. Apalagi, dalam pikiran petani berurusan dengan perbankan harus melalui jalur birokrasi yang panjang dan rumit, sehingga akhirnya mengajukan pinjaman dari lembaga keuangan non bank, seperti Pinjol yang tidak diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). “Kami pikiran, kan bank itu kesannya berbelit-belit dan persyaratannya juga banyak. Akhirnya cari pinjaman di luar bank, tapi masalahnya bunganya besar. Kalau kita mau bayar bunga saja kira-kira dari 20 sampai 30 persen setahun,” beber Madiasa yang ikut menceritakan harus bisa menghadapi banyak persoalan demi tetap mempertahankan usaha leluhur di Desa Les yang juga dikenal dengan Garam Palungan, karena proses pembuatannya menggunakan cara tradisional dengan bidang jemur, berupa palungan atau batang kelapa yang sudah berumur ratusan tahun.

Proses pembuatan Garam Palungan yang menggunakan cara tradisional dengan bidang jemur, berupa palungan atau batang kelapa yang umurnya sudah ratusan tahun. (foto: ama)

Misalnya, menghadapi ulah para pengepul atau tengkulak garam yang kerap mempermainkan harga, terutama saat produksi garam melimpah di musim kemarau. Biasanya para petani akan memasang harga jual Rp13 ribu hingga Rp15 ribu per kg, namun tega ditawar sampai seharga Rp4 ribu atau Rp5 ribu per kilogram oleh tengkulak. “Makanya, kalau harga garam sampai jatuh, maka kami akan memilih untuk menimbun garam, agar harganya berangsung-angsur bisa naik. Apalagi saat musim hujan seperti sekarang ini, harga garam akan naik dengan drastis,” ungkap Madiasa yang juga Ketua Koperasi Garam Tasik Segara Lestari ini, sembari menjelaskan proses pembuatan Garam Palungan dengan metode teknik kuno hanya bisa dilakukan saat musim kemarau. Setidaknya butuh sekitar empat petak tanah untuk memproduksi garam. Proses tersebut dilakukan secara berulang sebanyak tiga kali. Setelah kering, tanah dikerik hingga menjadi butiran-butiran kecil untuk kemudian dimasukkan ke dalam saringan yang disebut tinjungan. Sebelum itu, tinjungan terlebih dahulu dilapisi dengan daun lontar, kerikil, dan pasir yang berfungsi sebagai penyaring alami, antara tanah dengan air laut. Tanah kering yang telah dimasukkan ke dalam tinjungan kemudian diratakan dan disiram lagi dengan air laut, agar menjadi nyah.

Selanjutnya, nyah yang berada di dalam gerombong itu, kemudian dijemur di tempat penjemuran yang bernama palungan. Proses inilah yang nantinya akan menjadi butiran garam. Setiap pagi, air yang ada di dalam gerombong harus dipindahkan ke palungan. “Lama proses penjemuran tergantung pada cuaca, kalau bagus maka proses penjemuran bisa lebih cepat, dan biasanya memakan waktu tiga hari,” katanya. Dalam seminggu para petani garam hanya bisa panen sebanyak dua kali, sementara saat musim hujan, mereka tidak bisa memproduksi garam sama sekali. Para petani garam di Desa Les kebanyakan memasarkan Garam Palungan dengan menjualnya secara langsung ke pengepul. Selain itu, Garam Palungan juga dipasarkan oleh BUMDes setempat yang penjualannya sudah merambah hingga ke luar Bali. Garam Palungan yang sudah dikemas siap dijual dengan harga Rp15 ribu sampai 20 ribu. “BUMDes memasarkan sudah sampai Jawa Barat, dan pada saat ada wisatawan yang berkunjung, kami kasih paket yang salah satu isinya itu garam,” katanya. Guna meningkatkan variasn garam yang dipasarkan, BUMDes juga mendorong petani garam untuk berinovasi, termasuk dengan memproduksi Garam Palungan aneka rasa, mulai dari rasa daun kelor, jeruk limau, cabai, bawang putih, hingga rosemary. “Garam yang original ditambahkan dengan saripati campuran rasanya, itu ditambahkan pada saat berupa garam,” tandasnya.

Garam Palungan yang dipasarkan oleh BUMDes di Desa Les yang dikemas dan siap dijual seharga Rp15 ribu sampai 20 ribu. (foto: ama)

Secara terpisah, Pemimpin Cabang BRI Singaraja, Panji Kurniawan berharap KUR yang telah disalurkan dapat memberi dampak ekonomi bagi masyarakat, termasuk para petani garam yang ada di Desa Les, Kecamatan Tejakula, Buleleng. Ia menegaskan BRI terus berupaya memberi kemudahan kepada nasabah, baik dalam hal pengajuan kredit maupun pembayaran angsurannya. “Para petani garam di sana bisa mengajukan KUR lewat agen BRILink terdekat. Jadi kan mereka sebenarnya tidak harus datang ke bank lagi. Dan prosesnya sangat mudah dan cepat, karena tidak perlu berlit-belit, seperti dipikirkan oleh petani, maupun masyarakat lainnya selama ini,” ungkapnya. Apalagi KUR BRI, adalah program pinjaman dari BRI yang ditujukan untuk membantu UMKM, termasuk di Kabupaten Buleleng dalam memperoleh modal usaha dengan bunga yang rendah dan proses pengajuan yang mudah. Untuk mengajukan KUR BRI dapat dilakukan dengan cepat, dengan calon debitur wajib datang langsung ke kantor BRI terdekat. Tapi sebelumnya, calon debitur sebaiknya mengetahui syarat pengajuan KUR BRI, besaran suku bunga pinjaman BRI tanpa jaminan, dan tabel angsuran KUR BRI yang terbaru. “Syarat pengajuan KUR BRI di Kabupaten Buleleng cukup mudah, calon debitur hanya perlu memenuhi persyaratan umum, seperti memiliki usaha kecil atau menengah, memiliki usia usaha minimal 6 bulan, dan berdomisili di wilayah yang menjadi target KUR BRI. Selain itu, calon debitur juga diwajibkan untuk menyediakan dokumen pendukung seperti KTP, NPWP, dan surat izin usaha,” jelasnya.

KUR BRI untuk pinjaman tanpa jaminan memiliki batas limit di bawah Rp100 juta. Di mana, suku bunga KUR BRI plafon Rp10 juta hingga Rp100 juta adalah 6 persen per tahun atau 0,28 persen per bulan tetap hingga pelunasan. Sementara itu, bagi pinjaman KUR BRI dengan limit di bawah Rp10 juta atau disebut Super Mikro, suku bunga yang dikenakan sangat rendah, yaitu 3 persen per tahun hingga lunas tanpa agunan. Namun, penting untuk dicatat bahwa suku bunga dapat berubah sesuai kebijakan bank. Untuk mengajukan pinjaman KUR BRI dengan suku bunga 6 persen per tahun, hanya berlaku untuk nasabah baru. Sedangkan bagi debitur yang sudah pernah mengajukan KUR BRI di pengajuan keduanya, akan mendapatkan bunga sebesar 7 persen per tahun. “Bagi mereka yang telah meminjam tiga kali, suku bunga yang dikenakan akan menjadi 8 persen, dan untuk pengajuan terakhir, suku bunga menjadi 9 persen. KUR BRI juga memberikan manfaat lain bagi debitur, seperti asuransi jiwa dan kecelakaan, serta bebas biaya administrasi. Dalam hal ini, BRI bertujuan untuk memberikan perlindungan dan keamanan bagi para debitur,” jelasnya lagi.

Kantor BRI Cabang Singaraja siap melayani nasabah, termasuk mengajukan KUR BRI. (foto: ist)

Pada dasarnya, KUR BRI adalah program pinjaman tanpa jaminan yang disediakan oleh BRI untuk membantu UMKM dengan memberikan akses pembiayaan yang mudah dan terjangkau, agar bisa memulai usaha atau mengembangkan usahanya. Suku bunga yang dikenakan juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti risiko kredit, persyaratan jaminan, dan sebagainya. Namun, yang perlu diingat, adalah suku bunga yang diberikan oleh BRI merupakan suku bunga tetap, artinya tidak akan berubah selama masa pinjaman. Selain suku bunga yang kompetitif, pengajuan KUR BRI juga memiliki persyaratan yang cukup mudah. “Calon debitur hanya perlu memenuhi beberapa persyaratan, seperti memiliki usaha yang sudah berjalan minimal selama 6 bulan dan memiliki omzet yang stabil, serta memiliki rekening tabungan di BRI. Selain itu, Calon debitur dapat memilih jangka waktu pinjaman yang diinginkan, dari 1 hingga 5 tahun. KUR BRI juga memberikan kemudahan dalam pembayaran angsuran, di mana debitur dapat membayar secara bulanan atau sesuai dengan kebijakan bank,” pungkas Panji. ama/ksm

Baca Juga :

Tinggalkan Balasan


Back to top button