Semangat Pahlawan dari Generasi Muda! Ida Ayu Gde Kiara Sashikirana Rai Raih Gelar Puteri Anak Indonesia Pariwisata 2025
Gaungkan Spirit Kepahlawanan dan Stop Bullying dari Bali untuk Indonesia

Denpasar, PancarPOS | Di tengah gema peringatan Hari Pahlawan Nasional 10 November 2025, semangat kepahlawanan ternyata tidak hanya hidup dalam kisah perjuangan masa lalu, tetapi juga menyala dalam hati generasi muda Indonesia. Salah satu sosok yang mencerminkan semangat itu adalah Ida Ayu Gde Kiara Sashikirana Rai, atau akrab disapa Sashi, gadis berusia 13 tahun asal Bali yang baru saja menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional.
Dara kelahiran Denpasar, 26 Januari 2012 ini sukses menyabet gelar Puteri Anak Indonesia Pariwisata 2025, setelah dinobatkan sebagai 1st Runner Up Puteri Anak Indonesia 2025 pada ajang Puteri Anak Indonesia 2025 yang berlangsung megah di Pusat Perfilman Gedung Umar Ismail, Jakarta, Sabtu (1/11/2025). Ia bersaing dengan puluhan finalis dari berbagai provinsi di Indonesia, dan tampil memukau dengan kecerdasan, keanggunan, serta advokasi sosial yang kuat.
Ajang bergengsi nasional yang diselenggarakan oleh Yayasan Puteri Anak Indonesia ini merupakan wadah untuk melahirkan generasi muda yang tidak hanya berprestasi dalam bidang akademik dan seni, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan semangat menginspirasi bangsa. Dalam kompetisi yang bertema “Empowering the Next Generation to Be Brave and Kind”, Sashi tampil percaya diri di hadapan dewan juri, menonjol berkat penguasaan panggung, kemampuan berbicara, dan advokasinya yang menyentuh hati.
Gelar yang diraihnya menjadi bukti nyata bahwa semangat pahlawan sejati tak selalu ditandai dengan angkat senjata, melainkan melalui keberanian menebar kebaikan dan memperjuangkan nilai kemanusiaan. “Persiapan untuk grand final ini sudah Sashi lakukan selama enam bulan. Kemudian ada masa karantina selama lima hari dan di sana Sashi belajar banyak hal tentang public speaking, catwalk, tata rias, dan lain-lain,” ujar Sashi kepada PancarPOS, pada Senin (10/11/2025).
Meski awalnya menargetkan posisi utama sebagai Puteri Anak Indonesia 2025, Sashi mengaku bangga atas pencapaiannya menjadi 1st Runner Up. Ia menilai bahwa perjuangan di ajang ini sudah menjadi kemenangan tersendiri karena dapat membawa nama Bali di kancah nasional.
Sebagai Puteri Anak Indonesia Pariwisata 2025, siswi SMP Raj Yamuna Denpasar ini kini mengemban tugas penting dalam memperkenalkan potensi budaya dan pariwisata Indonesia, khususnya Bali, ke tingkat nasional dan internasional. Namun, yang membuat langkahnya semakin bermakna adalah advokasi yang ia bawa sejak awal: gerakan “DI SINI” (Determination, Inclusion, Support, Ideas, Needs, and Impact) sebuah kampanye kesadaran untuk menghentikan bullying dan meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan mental anak-anak di Indonesia.
“Advokasi ini berangkat dari pengalaman pribadi Sashi. Adik Sashi pernah mengalami bullying di sekolah. Dari situ Sashi belajar bahwa banyak anak-anak lain di luar sana yang mungkin sedang terluka, merasa sendiri, dan butuh dukungan,” ungkap Sashi. “Stopping bullying bisa dimulai dari diri kita sendiri, dari lingkungan terdekat, dari DI SINI,” tambahnya penuh keyakinan.
Bagi Sashi, perjuangan melawan perundungan adalah bentuk nyata semangat kepahlawanan masa kini. Jika dulu para pahlawan berjuang melawan penjajahan fisik, maka kini generasi muda harus berani melawan penjajahan mental yang muncul dari diskriminasi, perundungan, dan rendahnya empati sosial. “Menjadi pahlawan tidak harus besar. Menjadi pahlawan bisa dimulai dari langkah kecil yang menumbuhkan keberanian dan kebaikan,” ujarnya dengan nada tegas.
Sebagai Puteri Anak Indonesia Pariwisata 2025, Sashi juga berkomitmen untuk mendukung sektor pariwisata dengan pendekatan edukatif dan humanis. Ia ingin menggabungkan nilai budaya lokal Bali dengan pesan universal tentang keberagaman dan toleransi. “Pariwisata tidak hanya soal keindahan alam dan budaya, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa menciptakan pengalaman yang inklusif, aman, dan nyaman untuk semua,” katanya.
Sashi pun menjadi simbol dari semangat pahlawan muda Bali yang mampu menjembatani nilai-nilai tradisi dan modernitas. Dengan advokasi DI SINI, ia menunjukkan bahwa generasi muda Bali bukan hanya cerdas dan berprestasi, tetapi juga memiliki jiwa sosial dan kepedulian tinggi terhadap sesama.
Perjalanan Sashi menuju panggung nasional tidaklah mudah. Ia harus melewati berbagai tahapan seleksi, pelatihan, dan proses panjang sejak menjadi wakil Bali 1 dalam ajang Puteri Anak Indonesia Provinsi Bali 2025. Di tingkat provinsi, ia bersaing bersama dua finalis lain, yakni Gusti Agung Ayu Ananda Triskajaya dan Ni Kadek Dipya Yusita Putri.
Namun kerja keras dan dedikasi Sashi membuahkan hasil. Ia kini menjadi inspirasi bagi banyak anak-anak dan remaja di Bali untuk berani bermimpi dan berjuang mencapai tujuan mereka. Prestasi ini juga menambah daftar panjang yowana Bali yang sukses menorehkan tinta emas di kancah nasional dan internasional.
Bertepatan dengan Hari Pahlawan 10 November, pesan yang dibawa Sashi terasa semakin relevan. Di tengah arus globalisasi dan digitalisasi yang kian pesat, semangat kepahlawanan perlu dimaknai ulang bukan sebagai perjuangan fisik, tetapi perjuangan untuk menjadi manusia yang berempati, berani membela kebenaran, dan menebar kebaikan.
“Pahlawan bagi Sashi adalah mereka yang berani melindungi sesama, tidak diam melihat ketidakadilan, dan tetap berbuat baik meski dalam hal kecil. Karena pahlawan masa kini adalah kita semua, yang peduli dan mau beraksi,” pungkasnya.
Melalui semangat itu, Ida Ayu Gde Kiara Sashikirana Rai bukan hanya membawa harum nama Bali, tetapi juga menyalakan obor semangat kepahlawanan di hati generasi muda Indonesia, bahwa perjuangan tidak pernah berhenti, hanya berganti bentuk. ama/kel














