WHDI Denpasar Turun ke Banjar, Ibu-Ibu Pegok Dilatih Bikin Banten Otonan

Denpasar, PancarPOS | Upaya menjaga warisan budaya dan tradisi Hindu Bali terus digencarkan Pemerintah Kota Denpasar bersama Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Kota Denpasar. Kali ini, pelatihan pembuatan Banten Otonan Ayaban Tumpeng Pitu digelar bagi ibu-ibu PKK di Banjar Pegok, Kelurahan Sesetan, Sabtu (9/5/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Balai Banjar Pegok tersebut diikuti lebih dari 20 peserta yang mayoritas merupakan ibu-ibu PKK setempat. Mereka tampak antusias mengikuti setiap tahapan pembuatan banten yang dipandu langsung narasumber dari WHDI Kota Denpasar.
Turut hadir dalam kegiatan itu Wakil Ketua WHDI Kota Denpasar, Ayu Kristi Arya Wibawa didampingi Ketua TP PKK Kecamatan Denpasar Selatan, Ida Ayu Alit Maharatni Purwanasara.
Dalam keterangannya, Ayu Kristi Arya Wibawa menjelaskan bahwa pelatihan tersebut digelar untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat, khususnya kaum ibu, mengenai makna, filosofi, hingga tata cara pembuatan Banten Otonan Ayaban Tumpeng Pitu sesuai sastra agama Hindu.
Menurutnya, Banten Otonan menjadi salah satu sarana upacara penting dalam kehidupan umat Hindu Bali karena digunakan setiap enam bulan sekali saat peringatan hari kelahiran secara adat dan agama.
“Pelatihan ini tidak hanya mengajarkan cara membuat banten, tetapi juga pemahaman filosofi dan tata cara penggunaannya sesuai sastra agama Hindu,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pelestarian tradisi Hindu Bali tidak cukup hanya diwariskan secara lisan, namun juga harus dibarengi edukasi langsung kepada generasi dan masyarakat di tingkat banjar.
Sementara itu, narasumber pelatihan dari WHDI Denpasar, Ni Wayan Sukerti menjelaskan bahwa Banten Otonan Ayaban Tumpeng Pitu memiliki banyak komponen penting yang sarat makna spiritual.
Beberapa unsur banten yang diajarkan dalam pelatihan tersebut antara lain Pejati, Gebogan, Pengambean, Peras Soda, dapetan pokok, Sesayut Pebersihan, Sesayut Sida Purna, Sesayut Pageh Urip, Tebasan Pemiak Kala, Segehan Manca Warna, Bayakaonan hingga Prayascita.
“Pelatihan ini sekaligus menjelaskan filosofi masing-masing komponen banten serta tata cara pengaplikasiannya dalam upacara otonan,” jelas Ni Wayan Sukerti.
Ia menambahkan, program pelatihan pembuatan banten telah menjadi agenda rutin tahunan WHDI Denpasar sebagai media edukasi sekaligus ruang bertukar pengetahuan antar masyarakat.
“Kegiatan ini juga menjadi media berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang pembuatan banten di tengah masyarakat,” tambahnya.
Salah satu peserta pelatihan, Nona Debby mengaku sangat terbantu dengan adanya pelatihan tersebut.
Menurutnya, kegiatan seperti ini penting karena masyarakat Bali tidak pernah lepas dari aktivitas adat dan keagamaan yang membutuhkan pemahaman tentang pembuatan sarana upacara.
“Kegiatan ini sangat membantu kami memahami tata cara pembuatan banten dan penerapannya dalam upacara,” ungkapnya.
Pelatihan berlangsung penuh keakraban dengan suasana edukatif khas budaya Bali. Kegiatan ini sekaligus menjadi bukti bahwa pelestarian tradisi Hindu Bali terus hidup dari banjar ke banjar melalui keterlibatan aktif kaum perempuan sebagai penjaga budaya dan spiritualitas Bali. mas/ama/*









