Ekonomi dan Bisnis

Sorotan GUPBI Bali Tak Beralasan, Belum Ada Daging Babi “Sampah” Masuk Bali


Denpasar, PancarPOS | Sorotan yang dilontarkan Ketua Gabungan Usaha Peternakan Babi Indonesia (GUPBI) Provinsi Bali, I Ketut Hari Suyasa yang menyebutkan adanya kiriman daging babi “sampah” yang mengandung penyakit atau terdampak wabah ASF masuk ke Bali dibantah dengan tegas oleh Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Ir. Ida Bagus Wisnuardhana, M.Si., saat dikonfirmasi Senin (8/2/2021). Menurutnya daging babi yang dikatakan mengandung penyakit dan sengaja diselundupkan dari daerah Jawa seperti dari Solo, Jawa Tengah, sehingga membanjiri stok daging babi di Bali sangat tidak beralasan. Apalagi ada daging babi indukan yang dituding berpenyakit dikirim ke Bali dengan harga sangat murah ke tukang potong dengan harga tidak lebih dari Rp29 ribu per Kg, tapi di pasaran becek tetap dijual dengan harga Rp 90 ribu per Kg.

1bl-bn#7/1/2020

Birokrat asal Tabanan itu, mengklarifikasi sorotan Ketua GUPBI Bali bahwa tidak benar ada daging babi sampah dan permainan perjualan babi. Menurutnya, semenjak munculnya virus flue babi atau wabah ASF pada akhir tahun 2019, semua sentra produksi babi, seperti di Medan, NTT, dan Jateng termasuk Bali mengakibatkan banyak babi yang mati. Malah di Medan sampai tembus 3 juta ekor babi yang mati dan menurut data populasi babi di Bali sekitar 630 ribu yang terbanyak berada di kabupaten Buleleng dan Gianyar. Namun yang mati hanya 40 persen atau sekitar 300 ribuan babi yang mati. “Syukurnya di Bali tidak banyak mati, sehingga diberi apresiasi dari Pak Dirjen. Apalagi sekitar Maret 2020 tidak ada lagi yang mengeluh babi mati, bahkan bulan Mei sudah nol. Tapi kita ada kebijakan sementara jangan dulu isi kandang, terutama yang pernah terkena ASF. Tapi sekarang karena sudah aman mulai diisi babi,” jelasnya.

Masalah harga babi naik, memang diakui karena stok babi berkurang di sentra produksi babi, sedangkan kebutuhan daging babi tetap konstan, terutama di Bali yang harganya paling mahal. Karena tingginya harga daging babi di Bali inilah yang memicu ada pihak yang memanfaatkan babi maupun dagingnya diselundupkan. “Sudah ada ketentuan sejak tahun 2005 baik babi atau dagingnya dilarang masuk ke Bali, karena takutnya kena virus ASF. Memang terakhir ada kasus babi diselundupkan dari NTB masuk Bali lewat laut, namun sudah ditangkap Pol Air. Dan Penyelupan daging babi dari Jawa juga ditangkap. Tapi itu kewenangan pihak pelabuhan dan karantina,” tandasnya, seraya meminta tuduhan adanya daging babi sampah yang mengandung virus masuk ke Bali harus bisa dibuktikan terlebih dahulu. Karena pelakunya sudah ditangkap dan diamankan dan daging babi yang dicek kesehatannya lewat Balai Besar Veteriner Denpasar tidak ada mengandung virus ASF atau penyakit. “Kalau ada penyelundupan masuk Bali pasti sudah ditangkap dan jika ada penyakit sudah dicek veteriner,” tegasnya.

1th-ksm#5/2/2021

Bahkan, untuk mengatasi menurunkan populasi babi, pihaknya telah menyiapkan anggaran untuk membantu pengadaan sekitar 1.000 ekor babi, khususnya untuk peternak yang babinya mati. “Sementara dibatasi 1.000 ekor dulu, agar bisa berkembang dan nantinya bisa ditingkatkan lagi,” tutupnya, seraya meminta peternak harus tetap waspada terhadap wabah virus ASF dengan terus melakukan penyemprotan disinfektan. ama/ksm

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Website is Protected by WordPress Protection from eDarpan.com.

Close