Ekonomi dan Bisnis

Awalnya Takut “Disuntik” KUR BRI, Kini Pedagang Loak di Pasar Kreneng Ketagihan


Denpasar, PancarPOS | Seorang laki-laki tampak duduk bersantai di depan salah satu lapak di Pasar Kreneng yang berlokasi di Jl. Kamboja, Banjar Kreneng Kaja, Desa Dangin Puri Kangin, Denpasar Utara, Kota Denpasar, Bali. Sebelum bisa menjumpai lapaknya, ia setiap harinya harus berjalan menyusuri sekitar 32 anak tangga hingga sampai di lantai 3 Pasar Kreneng yang memang tempatnya kurang strategis dan terlihat masih dalam kondisi non finishing. Dalam suasana hujan gerimis dan kurang lampu penerangan, laki-laki itu tampak masih menunggu kehadiran pembeli, namun sesekali sempat menawarkan dagangannya ke pengunjung pasar yang melintas di depan lapaknya. Sebenarnya, jika para pengunjung pasar tidak sangat membutuhkan barang yang dijualnya itu, akan memilih tidak sampai naik hingga ke lantai 3, sehingga menyebabkan lapaknya terlihat agak sepi setiap harinya. Laki-laki itu, bernama Rosidi yang mengaku kini sudah bisa bernafas lega setelah merasakan langsung pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI. Dagangan di lapaknya semakin komplit dan secara kuantitas semakin banyak. Pedagang asal Madura, Jawa Timur ini, merupakan pedagang pasar loak yang memasarkan berbagai jenis barang sparepart kendaraan. Di lapaknya yang ada berbagai jenis sparepart bekas, maupun baru yang ia tawarkan tentunya dengan harga yang tidak berat di kantong.

Rosidi ternyata juga Ketua Klaster Barang Bekas Sparepart Loak dengan 207 lapak di Pasar Kreneng yang sudah dibentuk selama 3 tahun dengan pembiayaan modal dari KUR BRI. Ia mengaku BRI memang sesuai slogannya melayani untuk rakyat dengan persyaratan yang sangat mudah, sehingga dari awal hanya berani menggunakan permodalan dari KUR BRI. Ia mengaku selama ini dberikan pelayanan sangat baik dan ramah, selain juga proses pencairan kredit lebih cepat dan tidak berbelit-belit. “Semua pelayanan dari BRI 100 persen bagi saya sudah sangat bagus serta tidak ada masalah,” ungkapnya, saat ditemui pada Selasa sore, 5 Maret 2024. Bahkan kini semua pedagang di pasar loak itu pun sudah mengambil KUR BRI. “Kalau saya pribadi Rp20 juta untuk tahap kedua, dan kalau tahap pertama sebelumnya sebesar Rp25 juta sudah lunas. KUR yang kedua saya ambil masih berjalan lancar sampai saat ini. Termasuk pedagang yang lain rata-rata mengambil KUR paling maksimal Rp50 juta untuk memutar modal usaha. Dana KUR kita kelola lagi, karena uang seperti itu gak diam dan terus muter itu lho,” jelas pelaku UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menangah) tersebut, seraya mengaku berani mengambil modal dari perbankan, setelah mendapat tawaran pihak Perusahaan Daerah (PD) Pasar Sewaka Darma selaku pengelola Pasar Kreneng yang bekerja sama dengan BRI Kantor Cabang Denpasar Gajah Mada.

1bl#ik-016.1/3/2024

Ia mengisahkan mau menggunakan KUR BRI dari sebelum masa pandemi Corona atau Covid-19 sekitar tahun 2019 lalu. Apalagi selama ini tidak pernah mendapat bantuan permodalan dari perbankan. Pertama kali ditawarkan KUR BRI bersama 202 pedagang lainnya untuk membentuk Klaster Barang Bekas Sparepart Loak, karena sebelumnya memang BRI belum pernah menyasar pedagang loak di lantai 3 Pasar Kreneng. Disardari tempat pasar loak yang baru ini belum banyak diketahui masyarakat Bali yang sebenarnya sudah selama 8 tahun dipindahkan dari pasar loak di Jalan Gunung Agung. “Mereka masih mencari barang loak di pasar loak yang lama di Jalan Gunung Agung, padahal sudah tutup sejak lama di sana. Jadi dikira tidak ada pasar loak di Pasar Kreneng ini, padahal sudah lama di sini atau hampir 8 tahun,” katanya. Dari awal ia membuka usaha memang untuk pertama kalinya hanya “disuntik” permodalan dari KUR BRI, karena sebelumnya tidak pernah memakai bantuan modal dari bank manapun. Untungnya, ia bersyukur tidak pernah ada masalah pembayaran pinjaman selama ini, karena juga sempat merasa takut dan khawatir tidak akan mampu membayar cicilan KUR. “Karena saya merasakan untuk pertama kali diberikan bantuan dari KUR BRI dan tidak pernah ada sangkut paut dengan perbankan, sehingga ada perasaan was-wasnya juga,” tegasnya.

Selain itu, ia merasa khawatir tidak bisa membayar cicilan KUR, sehingga bisa dikejar-kejar tagihan bank. Apalagi sebelum dapat bantuan KUR BRI hanya bisa mengandalan pola saling pinjam di antara pedagang atau pihak keluarga, ketika mengalami kesulitan keuangan. “Paling terpaksa pinjam sama teman, atau keluarga, karena kita sistemnya gotong royong di sini bersama pedagang lainnya,” tegasnya, sekaligus mengakui saat ini malah ketagihan untuk melanjutkan KUR BRI, karena sangat terbantu dengan pendampingan dari tenaga pemasar mikro BRI yang akrab dikenal sebagai Mantri BRI yang memiliki peranan esensial untuk menghadirkan beragam layanan perbankan. Sebenarnya, istilah Mantri pada perbankan khususnya BRI Unit adalah petugas yang menangani kredit, atau yang lebih sering kita dengar dengan istilah Account Officer. Akhirnya, setelah menggunakan KUR BRI ternyata memupus semua kekhawatiran tersebut, karena usaha semakin berjalan dengan baik dengan pembayaran cicilan KUR yang tetap lancar selama ini. Setelah dibantu oleh KUR BRI usahanya juga semakin berkembang, karena semakin banyak pasokan dan pesanan barang yang datang baik dari Bali hingga luar Pulau Bali. Di samping itu, penjualan semakin lancar hingga ke luar pulau, bahkan juga menggunakan fasilitas penjualan secara online dengan berbagai marketplace sesuai dengan arahan dari pendampingan dari BRI. “Selain itu, juga ada pembeli dari Jawa yang datang langsung ke sini untuk membeli sparepart, karena harganya terbilang sangat murah dengan kualitas yang sangat bersaing, sehingga bisa juga dijual lagi ke luar Bali,” beber Rosidi.

Pedagang loak di lantai 3 Pasar Kreneng, Ahmad Iszudin, saat menunjukan salah satu sparepart yang telah selesai diservice dan siap dijual kembali kepada pelanggannya. (foto: ama)

Penjualan di pasar loak ini biasanya ramai pembeli selama tiga hari atau saat hari Jumat, Sabtu dan Minggu, sehingga omzet rata-rata pedangan sekitar Rp10 juta hingga Rp15 juta per bulan. Hal itu, diungkapkan Ahmad Iszudin yang juga ikut mengambil KUR BRI sejak tahun 2022 hingga telah memasuki masa pelunasan per 1 April 2024. Pedagang yang juga berasal dari Bangkalan, Madura itu, juga mengakui usahanya bisa berjalan lancar setelah diberikan suntikan modal usaha dari BRI. Sekitar 8 tahun berbisnis barang bekas khusus sparepart, setelah pindah dari Pasar Loak di Jalan Gunung Agung langsung menyewa salah satu lapak di Pasar Kreneng dengan biaya sewa Rp7.770 perhari. “Modal KUR dari BRI itu kita pakai muter usaha saja. Tidak berani kita pakai poya-poya bisa hancur. Apalagi cepat sekali pelayanan BRI cuma 1 atau 2 hari sudah cair ke rekening BRI. Bayar cicilannya juga sangat gampang dan langsung terpotong sendiri, karena pembayaran pakai aplikasi BRImo dari BRI,” terang Iszudin yang mengaku menjual semua perlengkapkan dari segala jenis sparepart kendaraan untuk roda dua dan roda empat dengan berbagai merek, baik bekas maupun baru semuanya ada, bahkan termasuk original (ori) juga dijualbelikan. Permintaan mayoritas paling banyak dari sparepart sepeda motor matic, karena di Bali kebanyakan yang menggunakan sepeda motor matic. Barang yang dijual kebanyakan disuplay dari luar Bali, khususnya sparepart varian baru serta variasi standar maupun khusus racing juga ada,” ungkap Iszudin yang sudah selama 28 tahun merantau di Bali.

Sebenarnya untuk menjangkau bantuan permodalan UMKM, pemerintah bersama perbankan menggagas KUR dengan suku bunga yang lebih rendah. KUR singkatan dari Kredit Usaha Rakyat, merupakan program pemerintah yang memberikan pembiayaan atau kredit dengan suku bunga rendah kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Program ini dirancang untuk membantu UMKM, agar dapat mengembangkan usaha mereka. Pada tahun 2024, BRI memegang peran kunci dalam penyaluran KUR. Program KUR telah berjalan hampir 15 tahun yang digagas di era Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, dan diteruskan Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Program ini, ternyata telah banyak mengangkat derajat usaha UMKM, termasuk para pedangang loak di Pasar Kreneng. Secara terpisah, Yoggi Pramudianto Sukendro, selaku Pemimpin Cabang BRI Gajah Mada dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, pada Kamis (7/4/2024), menyebutkan dengan total anggota 202 pedagang telah membentuk kaster tersebut, sejak 11 Februari 2021 lalu. Terwujudnya klaster ini, tidak lepas dari upaya Mantri dalam meyakinkan pedagang, yaitu dengan mengumpulkan para pedagang untuk memberikan informasi terkait kelebihan jadi anggota klaster dan produk-produk BRI yang bisa dimanfaatkan anggota klaster baik dalam hal simpanan, pinjaman maupun produk lainnya. Dibeberkan produk BRI yang dimanfaatkan oleh anggota Klaster, antara lain KUR, KUPRA, KECE, dan KUPEDES, termasuk Simpanan, seperti Simpedes, Britama, Brimo dan Qris. Produk lain, berupa NewPasar.Id. “BRI selalu memberikan pelatihan pemasaran melalui aplikasi NewPasar.id dan pembukuan digital menggunakan stroberi kasir kepada anggota klaster untuk pengembangan usaha. Rata-rata pinjaman KUR mereka yang disalurkan sebesar Rp30 juta,” terangnya, sekaligus berharap pemberian kredit dengan jaminan pemerintah ini, diharapkan bisa membuat UMKM dari pedagang loak sparepart di Pasar Kreneng bisa lebih maju dan berkembang.

1th#ik-014.25/2/2024

Hadirnya bantuan KUR BRI, juga telah membuat para pelaku UMKM dapat berjalan dengan kepala tegak. Peluang memperoleh pinjaman semakin terbuka lebar, mengikis ketatnya persaingan pasar memasuki awal tahun 2024, karena perhatian para pelaku usaha akan terfokus pada program KUR. Antusiasme tinggi muncul dari mereka yang berharap mendapatkan KUR, terutama dari BRI. Kabar baiknya, pemerintah telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp47,78 triliun untuk mendukung program KUR pada tahun ini.

Ketentuan dan Syarat KUR Mikro Bank BRI
Ketentuan calon debitur:
– Individu (perorangan) yang melakukan usaha produktif dan layak.
– Telah melakukan usaha secara aktif minimal selama 6 bulan.
– Tidak sedang menerima kredit dari perbankan kecuali kredit konsumtif, seperti KPR, KKB dan Kartu Kredit.
– Memiliki persyaratan administrasi berupa KTP, Kartu Keluarga, dan Surat Ijin Usaha.

Persyaratan:
1. Maksimum pinjaman sebesar Rp100 juta per tahun.
2. Bisa memiliki jenis pinjaman, seperti Kredit Modal Kerja (KMK) maksimum selama 3 tahun dan Kredit Investasi (KI) dengan maksimal 5 tahun pinjaman.
3. Suku bunga 6% efektif per tahun.
4. Bebas biaya administrasi dan provisi.
5. Ketentuan dan Syarat KUR Kecil Bank BRI

Ketentuan dan Syarat KUR Kecil Bank BRI
Ketentuan calon debitur:
– Mempunyai usaha produktif dan layak.
– Tidak sedang menerima kredit dari perbankan kecuali kredit konsumtif seperti KPR, KKB, dan Kartu Kredit.
– Telah melakukan usaha secara aktif minimal 6 bulan.
– Memiliki Surat Izin Usaha Mikro dan Kecil (IUMK) atau surat izin usaha lainnya yang dapat dipersamakan.

Persyaratan:
1. Pinjaman Rp100-500 juta.
2. Bisa memiliki jenis pinjaman, seperti Kredit Modal Kerja (KMK) maksimum selama 4 tahun dan Kredit Investasi (KI) dengan maksimal 5 tahun pinjaman.
4. Suku bunga 6% efektif per tahun.
5. Agunan sesuai dengan peraturan bank. ama/ksm

Baca Juga :

Tinggalkan Balasan


Back to top button