Daerah

Ngurah Harta Bongkar Fakta Sejarah, Pura Belong Batu Nunggul Bukan Bagian dari Pura Ulun Suwi Jimbaran


Denpasar, PancarPOS |Isu keterkaitan antara Pura Belong Batu Nunggul di Lingkungan Buana Gubug, Jimbaran, dengan Pura Ulun Suwi maupun Pura Luhur Uluwatu kini mencuat dan jadi bahan perbincangan hangat masyarakat. Di tengah simpang siur informasi tersebut, tokoh masyarakat Bali sekaligus trah Kerajaan Mengwi, Badung, I Gusti Ngurah Harta, akhirnya angkat bicara. Ia menegaskan dengan tegas dan lugas bahwa Pura Belong Batu Nunggul tidak memiliki kaitan sejarah, geografis, maupun spiritual dengan Pura Ulun Suwi ataupun Pura Luhur Uluwatu.

Menurut Ngurah Harta, dalam purana dan prasasti peninggalan leluhurnya, I Gusti Agung Maruti, pendiri Pura Ulun Suwi tidak pernah disebutkan adanya hubungan apa pun dengan Pura Belong Batu Nunggul. Hal itu menegaskan bahwa setiap pura memiliki akar sejarah dan kedudukan spiritualnya masing-masing yang tidak bisa diklaim sepihak.

“Dalam prasasti peninggalan leluhur kami, I Gusti Agung Maruti, tidak ada satu pun yang menyebutkan Pura Belong Batu Nunggul. Pura Ulun Suwi berdiri dengan sejarahnya sendiri, demikian juga pura-pura lain di wilayah Jimbaran. Jadi, tidak benar kalau dikatakan memiliki keterkaitan,” tegas Ngurah Harta kepada awak media di Denpasar, Rabu (5/11/2025).

Ia menambahkan, membangun atau merenovasi pura bukan sekadar urusan material, tetapi menyangkut kesucian dan tanggung jawab spiritual. Apalagi jika pembangunan dilakukan dengan bantuan dana pemerintah, maka kejelasan status lahan dan legalitas hukumnya wajib dikedepankan.

“Kalau menggunakan dana APBD, tanahnya harus benar-benar sah milik pura tersebut, bukan masih dalam sengketa atau atas nama pribadi. Karena pura adalah tempat suci, tak boleh dibangun di atas dasar yang abu-abu,” ujarnya tegas.

Ngurah Harta juga menyoroti pentingnya menjaga taksu dan kesucian pura dengan kejujuran dan ketulusan. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terseret isu atau provokasi yang dapat memecah belah keharmonisan antar pura di Bali.

“Setiap pura punya roh dan sejarahnya sendiri. Jangan sampai ada klaim sepihak yang justru menimbulkan kebingungan dan perpecahan. Kita harus kembali belajar dari lontar dan prasasti, bukan dari asumsi,” pesannya.

Lebih jauh, Ngurah Harta menilai munculnya klaim atau tafsir liar terhadap sejarah pura menunjukkan kurangnya pemahaman terhadap warisan leluhur. Karena itu, ia mendorong agar segala polemik disikapi dengan penelitian mendalam dan dialog adat yang berlandaskan dharma.

“Pelestarian pura bukan hanya soal bangunan, tetapi juga soal nilai dan kebenaran. Kita wajib menjaga tatanan yang diwariskan leluhur agar tidak ternoda oleh kepentingan pribadi atau politik,” ungkapnya. Sebagai penutup, Ngurah Harta mengajak seluruh umat Hindu di Bali untuk menjaga kesucian pura dengan hati yang bersih dan pikiran yang jernih.

“Pura bukan tempat politik, bukan pula simbol perebutan wilayah. Pura adalah pusat penyucian diri dan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Mendirikan pura harus dengan niat suci dan cinta pada dharma, bukan karena gengsi atau klaim,” tegasnya lagi.

Pernyataan Ngurah Harta ini diharapkan dapat menjadi penyejuk di tengah panasnya isu seputar keberadaan Pura Belong Batu Nunggul, serta menjadi pengingat bahwa kesucian pura dan keharmonisan masyarakat Bali jauh lebih berharga daripada perdebatan tentang asal-usul dan klaim spiritualitas yang tak berdasar. tim/ama/ksm



MinungNews.ID

Saluran Google News PancarPOS.com

Baca Juga :



Back to top button