Politik dan Sosial Budaya

“Diusir” Secara Halus, Wayan Muntra Mundur dari Golkar Bali


Denpasar, PancarPOS | Kabar mengejut dari internal Partai Golkar di Bali, karena mantan Ketua DPD II Golkar Badung, I Wayan Muntra akhirnya mengibarkan bendera putih. Tiga kali disakiti induk partainya, politisi muda kelahiran Sawangan, Desa Adat Peminge, Kuta Selatan, Badung, 23 November 1971 itu masih bisa bertahan. Bahkan bersedia menjalankan amanat sebagai Ketua Badan Hukum dan Hak Asasi Manusia (Bakum HAM) DPD I Golkar Bali. Namun, cobaan keempat kali ini membuatnya memutuskan untung hengkang dari partai berlambang pohon beringin itu. Nasib Muntra begitu tragis bahkan skenario gelap internal partai memaksanya digusur dari jabatannya dan digantikan Dewa Ayu Putu Sri Wigunawati yang sebelumnya menduduki posisi Wakil Sekretaris Bidang Hukum DPD I Golkar Bali. Sri Wigunawati dikukuhkan oleh Ketua DPD I Golkar Bali, I Nyoman Sugawa Korry sebagai Ketua Bakum HAM DPD I Golkar Bali di sela-sela acara Temu Kader dengan Ketua Umum DPP Golkar Airlangga Hartarto di Hotel Merusaka, Kawasan ITDC Nusa Dua, Kelurahan Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Badung, Minggu (30/5/2021) sore.

1bl#ik-29/5/2021

“4-0 untuk Golkar Bali. Dalam karier politiknya bersama Golkar, total 4 kali Muntra didzolimi. 4 kali disakiti induk partainya sendiri, Partai Golkar. Pertama, di Plt-kan sebagai Ketua DPD Golkar Badung; Kedua, digagalkan menjadi calon dalam Musda Golkar Badung; Ketiga, digagalkan menjadi Calon Wakil Bupati Badung oleh Partai Golkar; Keempat, digusur sebagai Ketua Bakum HAM DPD I Golkar Bali. Saya sendiri sebenarnya sudah menebak dan cukup paham isi hati Pak Muntra. Terutama terkait isi pemberitaan kemarin yang menegaskan Beliau sudah diganti sebagai Ketua Bakum HAM Golkar Bali. Tidak ada koodirnasi sebelumnya. Kesimpulkannya, Bapak Muntra merasa diusir secara halus,” beber mantan Ketua Sentra Organisasi Karyawan Swadiri (SOKSI) Kabupaten Badung, Wayan Sumantra Karang yang diberi mandat khusus membawa surat pengunduran diri Muntra ke Sekretariat DPD 1 Golkar Bali, Rabu (2/6/2021) siang.

1bl#ik-5/3/2021

Uniknya surat pengunduran diri itu hanya diterima oleh salah satu pengurus DPD Partai Golkar Bali, Muammar Kadafi tanpa ada satupun pengurus lainnya. Tidak mau berbicara banyak, Kadafi hanya bisa menerima surat pengunduran diri tersebut tanpa mau membuka isinya. “Saya terima surat ini, tapi sesuai kapasitas saya dan nanti biar pimpinan yang membuka dan memberi keputusan,” katanya singkat. Di sisi lain, ketika dikejar kenapa Muntra tidak membawa langsung surat pengunduran dirinya? Sumantra menegaskan bahwa dirinya adalah staf sekaligus loyalis Muntra. “Karena memang dirasa tidak perlu lagi Beliau hadir di sana (Sekretariat Golkar Bali, red). Saya loyalis Muntra. Kebetulan juga staf Beliau. Surat pengunduran diri dari Partai Golkar itu Beliau buat sendiri. Pure, murni keputusan dia. Sudah lelah katanya “dizolimi”, ungkap Sumantra Karang. Disinggung apakah tidak ada upaya mendekati sosok I Wayan Muntra sebelum sekaligus membahas mengenai posisinya sebagai Ketua Bakum HAM DPD I Golkar Bali, Sumantra menegaskan tidak ada upaya itu. Meski demikian dirinya tidak menampik ada sejumlah kader Golkar yang beberapa kali tampak mendekati Muntra.

1bl-bn#7/1/2020

“Ada utusan yang dikirim entah oleh siapa. Kami loyalis Muntra berpikir sederhana saja. Kenapa tidak ada pembicaraan dari hati ke hati? Duduk berdua? Tentu kalau itu dilakukan akan ada sejuta cerita ini,” ungkapnya sembari menunjukkan surat pengunduran diri Muntra kepada sejumlah awak media. Sampai berita ini diturunkan belum ada keterangan dan sikap resmi dari Wayan Mutra. Sayangnya ketika dihubungi belum dijawab baik lewat pesan WhatsApp maupun telepon. ija/ama

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Back to top button
Website is Protected by WordPress Protection from eDarpan.com.

Close