Minggu, April 5, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
BerandaTeknologi dan Otomotif"Sing Main-Main", Tri Hita Trans Siap Dilaunching di Delapan Desa Adat,

“Sing Main-Main”, Tri Hita Trans Siap Dilaunching di Delapan Desa Adat,

Badung, PancarPOS | Di tengah riuh polemik transportasi pariwisata yang tak kunjung menemukan titik temu, sebuah gagasan besar lahir dari akar lokal. Bukan sekadar aplikasi, melainkan gerakan ekonomi berbasis kearifan budaya Bali yang siap mengguncang dominasi platform global. PT Sentrik Persada Nusantara resmi menyiapkan peluncuran aplikasi transportasi “Tri Hita Trans”, sebuah sistem digital yang tidak hanya bicara teknologi, tetapi juga tentang keadilan ekonomi, kedaulatan desa adat, dan masa depan para driver lokal.

Langkah ini bukan tanpa alasan. Selama bertahun-tahun, sektor transportasi di Bali, khususnya di kawasan pariwisata seperti Canggu, menjadi arena tarik-menarik kepentingan antara driver lokal, transportasi online global, dan regulasi yang kerap tertinggal dari dinamika lapangan. Dalam situasi inilah, Tri Hita hadir sebagai solusi berbasis lokal yang mencoba merangkul semua pihak dalam satu sistem yang terintegrasi.

Owner PT Sentrik Persada Nusantara, I Made Sudiana, S.H., M.Si., menegaskan bahwa aplikasi ini dirancang bukan sekadar untuk bersaing, tetapi untuk menata ulang sistem transportasi secara menyeluruh. Ia melihat bahwa selama ini, potensi ekonomi di sektor transportasi belum sepenuhnya dinikmati oleh masyarakat lokal. “Kita ingin membalik keadaan. Jangan sampai yang menikmati kue ekonomi justru pihak luar, sementara masyarakat lokal hanya menjadi penonton di rumah sendiri,” tegasnya.

1bl#ik-004.1/3/2026

Tri Hita bukan hanya nama. Filosofi ini diambil dari konsep keseimbangan dalam budaya Bali, yakni hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan lingkungan. Nilai ini kemudian diterjemahkan ke dalam sistem operasional aplikasi, di mana seluruh elemen masyarakat desa dilibatkan secara aktif.

Dalam tahap awal, PT Sentrik Persada Nusantara akan memfokuskan koordinasi dengan delapan desa adat, dengan titik sentral pertemuan di Desa Adat Canggu pada pertengahan April 2026. Pertemuan ini bukan sekadar sosialisasi, melainkan langkah strategis untuk memastikan seluruh komponen memahami sistem yang akan dijalankan.

Empat pilar utama menjadi fondasi operasional Tri Hita di tingkat desa. Pertama adalah Pemerintah Desa atau Desa Adat sebagai pengambil kebijakan lokal. Kedua, BUPDA atau Badan Usaha Milik Desa Adat sebagai pengelola ekonomi. Ketiga, Pecalang sebagai pengawas keamanan di lapangan. Dan keempat, komunitas driver sebagai pelaku utama dalam sistem transportasi.

Sopir lokal Bali saat deklarasi dan bergabung dalam gerakan kebangkitan transportasi berbasis desa adat bersama Tri Hita Trans, yang memicu dukungan serta perdebatan luas di ruang digital. (foto: ist)

Sudiana menekankan bahwa keberhasilan aplikasi ini sangat bergantung pada kekuatan kolektif. Tidak ada ruang untuk ego sektoral. Semua pihak harus bergerak dalam satu visi yang sama. “Ini bukan proyek individu. Ini kerja besar yang melibatkan banyak pihak. Karena itu, kami siapkan SOP yang jelas agar setiap komponen tahu perannya masing-masing,” ujarnya.

Salah satu daya tarik utama Tri Hita adalah skema pembagian hasil yang dinilai jauh lebih adil dibandingkan aplikasi transportasi global. Dalam sistem ini, driver mendapatkan porsi terbesar, yakni 70 persen dari setiap transaksi. Angka ini menjadi angin segar bagi para sopir yang selama ini merasa tertekan oleh sistem potongan yang tinggi.

Tidak hanya driver, desa adat juga mendapatkan manfaat langsung. Sebanyak 20 persen dialokasikan untuk desa melalui BUPDA. Dari jumlah tersebut, 2 persen khusus diberikan untuk Pecalang sebagai bentuk apresiasi atas peran mereka dalam menjaga ketertiban, dan 3 persen untuk pengurus komunitas driver.

Sementara itu, 10 persen sisanya dibagi untuk koperasi Tri Hita sebesar 3 persen dan aplikator atau sentral sebesar 7 persen untuk kebutuhan operasional dan pengembangan sistem. Model ini disebut Sudiana sebagai bentuk nyata ekonomi gotong royong berbasis digital. Ia ingin memastikan bahwa setiap transaksi yang terjadi tidak hanya menguntungkan individu, tetapi juga memperkuat struktur sosial dan ekonomi desa.

Road To Launch Tri Hita Trans di Badung, Kamis (26/2/2026), dengan komitmen kemitraan strategis berbasis desa adat bersama koperasi dengan peningkatan kualitas SDM pengemudi. (foto: ist)

“Selama ini, tidak ada aplikasi yang memberikan kontribusi langsung ke desa adat. Di Tri Hita, setiap perjalanan memiliki dampak sosial,” jelasnya. Tak hanya soal ekonomi, aspek keamanan juga menjadi perhatian utama. Tri Hita dilengkapi dengan teknologi barcode dan sistem pemindaian wajah untuk memastikan keaslian identitas driver. Setiap pengemudi wajib terdaftar secara resmi dan diverifikasi sebelum bisa beroperasi.

Langkah ini diambil untuk menjawab kekhawatiran maraknya penyalahgunaan identitas atau praktik driver ilegal yang sering meresahkan wisatawan maupun masyarakat lokal. Dengan sistem ini, transparansi menjadi kunci utama. Bahkan, bagi driver dari luar wilayah, terdapat aturan ketat yang harus dipatuhi. Mereka wajib mendapatkan rekomendasi dari Bendesa Adat setempat sebelum diizinkan beroperasi. Hal ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan sosial serta menghindari konflik horizontal di lapangan.

Peran Pecalang juga diperkuat dalam sistem ini. Mereka tidak hanya menjadi simbol keamanan adat, tetapi juga bertindak sebagai pengawas aktif yang memastikan seluruh aktivitas transportasi berjalan sesuai aturan. Jika terjadi pelanggaran, Pecalang memiliki kewenangan untuk melakukan penindakan di wilayahnya. “Ini adalah kolaborasi antara teknologi modern dan sistem sosial tradisional. Kita tidak meninggalkan adat, justru menguatkannya dengan teknologi,” kata Sudiana.

Sopir lokal Bali gunakan Tri Hita Trans di area penjemputan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung, Kamis (26/2/2026). (foto: tra)

Antusiasme terhadap aplikasi ini mulai terlihat. Hingga saat ini, sekitar 200 driver telah mendaftar untuk bergabung dalam sistem Tri Hita. Angka ini diprediksi akan terus bertambah seiring dengan intensifnya sosialisasi yang dilakukan. PT Sentrik Persada Nusantara menargetkan seluruh persiapan dapat rampung pada April 2026. Jika tidak ada kendala berarti, peluncuran resmi akan dilakukan pada awal Mei 2026. Momentum ini diharapkan menjadi titik awal perubahan besar dalam sistem transportasi lokal Bali.

Tidak hanya menyasar driver, pihak perusahaan juga akan mengajak pelaku industri pariwisata untuk ikut terlibat. Hotel, restoran, dan vila akan diberikan pemahaman mengenai sistem Tri Hita agar mereka dapat memanfaatkannya sebagai layanan transportasi bagi tamu. Langkah ini dinilai penting untuk menciptakan ekosistem yang utuh. Tanpa dukungan dari sektor pariwisata, aplikasi ini akan sulit berkembang secara maksimal. Oleh karena itu, pendekatan kolaboratif menjadi strategi utama.

Sudiana optimistis bahwa dengan dukungan semua pihak, Tri Hita dapat menjadi solusi atas berbagai persoalan transportasi yang selama ini terjadi, terutama di kawasan padat wisata seperti Canggu. “Kita ingin mengakhiri praktik rebutan penumpang yang tidak sehat. Dengan sistem yang rapi dan transparan, wisatawan juga akan merasa lebih nyaman,” ujarnya. Lebih jauh, kehadiran Tri Hita juga diharapkan mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Bali. Keterlibatan pemerintah dinilai penting sebagai bentuk legitimasi sekaligus penguatan regulasi.

Momentum Soft Launching Tri Hita Trans menjadi penanda awal penguatan peran BUPDA dalam pengelolaan transportasi digital di Bali. (foto: tra)

Digitalisasi transportasi berbasis kearifan lokal menjadi isu strategis yang tidak bisa diabaikan. Di satu sisi, teknologi terus berkembang dengan cepat. Namun di sisi lain, nilai-nilai lokal harus tetap dijaga agar tidak tergerus arus globalisasi. Tri Hita mencoba menjembatani dua dunia tersebut. Ia hadir sebagai simbol bahwa modernisasi tidak harus mengorbankan identitas budaya. Justru sebaliknya, budaya bisa menjadi fondasi kuat dalam membangun sistem yang berkelanjutan.

Bagi Bali, ini bukan sekadar soal transportasi. Ini tentang bagaimana masyarakat lokal mengambil kembali kendali atas ruang ekonominya. Tentang bagaimana desa adat tidak hanya menjadi penjaga tradisi, tetapi juga pemain aktif dalam ekonomi digital. Jika berhasil, Tri Hita bisa menjadi model nasional, bahkan global, tentang bagaimana teknologi dapat dikembangkan dengan pendekatan berbasis komunitas. Sebuah konsep yang mungkin selama ini terabaikan di tengah dominasi korporasi besar. ama/ksm

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments