Antisipasi Krisis Global, Adi Wiryatama Ajak Tanam Sukun Mentega Siapkan Pangan Masa Depan

Tabanan, PancarPOS | Kekhawatiran terhadap ancaman krisis pangan global mulai mendapat perhatian serius di berbagai daerah, termasuk di Bali. Salah satu langkah nyata dilakukan Anggota DPR RI Komisi IV, I Nyoman Adi Wiryatama bersama masyarakat Banjar Tegeh, Desa Angseri, Kabupaten Tabanan, Minggu (17/5/2026), melalui kegiatan penanaman bibit sukun mentega sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan masyarakat.
Kegiatan tersebut berlangsung sederhana namun penuh semangat gotong royong. Warga tampak antusias mengikuti penanaman bibit yang dipusatkan di lahan milik warga dan area pekarangan produktif di sekitar banjar. Sejumlah tokoh masyarakat, petani, pemuda hingga ibu-ibu PKK turut hadir membantu proses penanaman.
Dalam kesempatan itu, Adi Wiryatama mengatakan bahwa ketahanan pangan menjadi salah satu isu penting yang harus mulai diperhatikan masyarakat sejak sekarang. Menurutnya, situasi global yang tidak menentu, mulai dari konflik internasional, perubahan iklim, hingga gejolak ekonomi dunia dapat berdampak terhadap ketersediaan pangan di masa mendatang.
Karena itu, masyarakat perlu mulai memanfaatkan potensi pangan lokal yang selama ini belum banyak dikembangkan secara maksimal. “Bali punya banyak sumber pangan alternatif selain beras. Salah satunya sukun. Ini perlu mulai dikembangkan sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan masyarakat,” ujar politisi senior yang sempat menjabat Bupati Tabanan dua periode dan Ketua DPRD Bali ini.

Ia menjelaskan, penanaman sukun mentega tersebut juga sejalan dengan arahan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, yang mendorong kader partai agar ikut memperhatikan sektor pangan dan pengembangan pangan lokal di daerah masing-masing.
Menurutnya, ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada beras, tetapi juga perlu didukung diversifikasi pangan melalui pemanfaatan tanaman lokal yang memiliki nilai gizi dan nilai ekonomi. “Sukun ini salah satu tanaman yang potensial. Selain bisa dikonsumsi sendiri, nanti hasilnya juga bisa membantu ekonomi masyarakat,” katanya.
Adi Wiryatama menambahkan, bibit yang ditanam merupakan bibit unggul yang diharapkan dapat mulai berbuah dalam waktu sekitar lima tahun apabila dirawat dengan baik. Karena itu ia mengajak masyarakat menjaga dan merawat tanaman tersebut secara bersama-sama. Di sisi lain, masyarakat Banjar Tegeh menyambut positif program tersebut. Warga menilai penanaman pohon sukun bukan hanya bermanfaat untuk penghijauan lingkungan, tetapi juga dapat menjadi sumber pangan dan tambahan penghasilan di masa depan.

Selain penanaman bibit, kegiatan tersebut juga diisi dengan diskusi ringan mengenai pentingnya pemanfaatan lahan pekarangan dan penguatan pangan keluarga. Warga diajak mulai membiasakan menanam tanaman produktif yang dapat membantu kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Menurut Adi Wiryatama, desa memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Jika desa mampu mandiri dalam memenuhi sebagian kebutuhan pangannya, maka masyarakat akan lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan situasi ekonomi di masa depan.
Ia juga menilai Bali memiliki kekuatan budaya pertanian yang masih cukup baik dibanding sejumlah daerah lain. Tradisi gotong royong dan sistem pertanian masyarakat dinilai menjadi modal penting untuk menjaga keberlanjutan pangan lokal. “Yang paling penting sekarang bagaimana masyarakat mau mulai menanam dan menjaga potensi pangan yang ada di sekitar kita,” katanya.
Program penanaman sukun mentega tersebut diharapkan tidak berhenti hanya sebagai kegiatan seremonial, tetapi benar-benar dapat berkembang menjadi gerakan masyarakat dalam memanfaatkan tanaman pangan lokal secara berkelanjutan. wan/ksm/kel









