Usmantari Gerakkan Penanaman Massal Pendamping Beras, Spirit Made Urip Hidupkan Kedaulatan Pangan di Tabanan

Tabanan, PancarPOS | Gerakan kedaulatan pangan pendamping beras kembali ditegaskan di Bali. Kali ini, semangat itu menyala dari Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, melalui sosialisasi, konsolidasi, sekaligus penanaman 10 jenis tanaman pendamping beras yang digerakkan oleh kader-kader PDI Perjuangan bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) se-Kabupaten Tabanan, pada Minggu (19/4/2026).
Kegiatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan langkah konkret yang sarat makna ideologis. Ia lahir dari instruksi langsung Ketua Umum Megawati Sukarnoputri dan arahan Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali, Wayan Koster, sekaligus Gubernur Bali sebagai bagian dari strategi besar menjaga kedaulatan pangan di tengah ketidakpastian global.
Acara dibuka oleh Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali Bidang Pertanian, Kehutanan, Kelautan dan Lingkungan Hidup, Ni Made Usmantari, yang juga merupakan anggota DPRD Provinsi Bali dari daerah pemilihan Tabanan. Sosok yang dikenal sebagai “Srikandi Banteng” ini tampil penuh energi, mengonsolidasikan kader sekaligus menyuntikkan kesadaran ideologis tentang pentingnya pangan sebagai pilar kedaulatan bangsa.
Dalam pengantar pembukaannya, Usmantari menegaskan bahwa program penanaman 10 jenis tanaman pendamping beras merupakan mandat langsung partai yang tidak boleh dipandang sebagai program biasa. “Sesuai dengan instruksi DPP PDI Perjuangan, Ibu Ketua Umum Ibu Megawati Sukarnoputri, dan arahan bapak Ketua DPD PDI Perjuangan Bali, seluruh kader partai baik yang berada di eksekutif, legislatif maupun struktural partai wajib menanam 10 jenis tanaman pendamping beras. Ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi gerakan ideologis,” tegas Usmantari.

Ia menjelaskan bahwa langkah perdana di Kabupaten Tabanan ini dipilih bukan tanpa alasan. Tabanan dikenal sebagai lumbung pangan Bali, sehingga memiliki posisi strategis dalam menjaga ketahanan pangan daerah. Usmantari, yang juga kader asal Desa Cau Tua, Kecamatan Marga, Tabanan, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat bahwa pangan tidak boleh bergantung hanya pada beras.
“Pangan itu tidak hanya beras. Ada umbi-umbian, kacang-kacangan, serta berbagai pangan lokal lainnya yang bisa menjadi substitusi. Kita harus mulai membangun kesadaran itu dari sekarang,” ujarnya. Dalam sambutannya yang penuh semangat ideologis, Usmantari juga mengingatkan kembali ajaran Soekarno tentang pentingnya pertanian. “Bung Karno pernah mengatakan bahwa pertanian adalah soal hidup matinya suatu negara. Maka dari itu, PDI Perjuangan sebagai partai wong cilik harus selalu hadir di tengah masyarakat untuk memperjuangkan nasib petani,” ucapnya lantang, disambut tepuk tangan kader.
Lebih jauh, Usmantari juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran PDI Perjuangan Kabupaten Tabanan sebagai tuan rumah yang telah mempersiapkan kegiatan dengan maksimal. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada fraksi, pengurus PAC, serta para ibu-ibu KWT yang menjadi ujung tombak gerakan pangan ini.
Namun, dinamika acara tidak berhenti di situ. Sosialisasi ini juga menghadirkan dua narasumber utama yang memiliki kapasitas kuat di bidang pertanian, yakni Drs I Made Urip, M.Si., dan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, Ir. I Gusti Putu Ekayana. Nama Made Urip bukanlah sosok asing. Ia dikenal luas sebagai “bapak sejuta traktor”, figur yang selama ini konsisten memperjuangkan modernisasi pertanian di Indonesia. Dalam konteks Bali, ia kini dipercaya menjadi bagian dari tim percepatan pembangunan Provinsi Bali di bidang pertanian.
Dalam pemaparannya, Made Urip menyampaikan pandangan strategis yang jauh melampaui sekadar program tanam. Ia mengaitkan isu pangan dengan kondisi global yang semakin tidak pasti, mulai dari perubahan iklim hingga ketegangan geopolitik dunia. “Kita harus jujur melihat realitas. Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang, krisis energi, dan ketidakstabilan ekonomi global akan berdampak langsung pada sektor pangan. Kalau kita tidak siap dari sekarang, kita akan menghadapi krisis,” ungkapnya.
Ia menekankan bahwa ketergantungan terhadap satu komoditas, yakni beras, adalah kerentanan yang harus segera diatasi. Oleh karena itu, program 10 tanaman pendamping beras menjadi sangat relevan sebagai langkah mitigasi. “Bayangkan kalau terjadi musim kemarau panjang. Produksi padi bisa terganggu. Tapi kalau kita punya alternatif pangan seperti ubi, jagung, kacang-kacangan, kita tidak akan goyah. Ini soal ketahanan, bahkan kedaulatan,” tegasnya.
Made Urip juga mengajak seluruh kader dan masyarakat untuk tidak hanya menanam, tetapi juga mengembangkan pola pikir baru dalam konsumsi pangan. “Kita harus ubah mindset. Jangan merasa belum makan kalau belum makan nasi. Itu harus diubah pelan-pelan. Kita punya kekayaan pangan lokal yang luar biasa,” katanya. Ia bahkan menyoroti bahwa Bali memiliki potensi besar dalam mengembangkan pangan lokal berbasis kearifan lokal, yang tidak hanya sehat tetapi juga berkelanjutan.

Di sisi lain, ia juga memperkuat narasi tersebut dengan pendekatan teknis. Ia menjelaskan bahwa diversifikasi pangan merupakan salah satu strategi utama pemerintah dalam menghadapi perubahan iklim. Menurutnya, Kabupaten Tabanan telah memiliki berbagai program yang mendukung diversifikasi pangan, termasuk penguatan kelompok tani dan pemanfaatan lahan pekarangan.
“Kami sangat mendukung program ini. Ini sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan. Kolaborasi dengan partai politik seperti ini sangat positif,” ujarnya. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Wakil Bupati Tabanan, I Made Dirga, yang memberikan dukungan penuh terhadap gerakan ini. Selain itu, hadir pula seluruh pengurus DPC PDI Perjuangan Kabupaten Tabanan, anggota fraksi DPRD Kabupaten Tabanan, pengurus PAC, serta KWT dari seluruh wilayah Tabanan.
Suasana kegiatan berlangsung dinamis. Di sela-sela sosialisasi, para peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga terlibat dalam diskusi aktif. Banyak pertanyaan muncul, terutama terkait implementasi program di tingkat desa. Puncak acara ditandai dengan penanaman simbolis 10 jenis tanaman pendamping beras. Kegiatan ini menjadi simbol komitmen bersama untuk membangun kedaulatan pangan dari bawah.
Lebih dari sekadar kegiatan partai, apa yang terjadi di Penebel hari itu adalah refleksi dari pergeseran paradigma pembangunan. Dari yang semula berorientasi pada produksi tunggal, menuju sistem pangan yang lebih beragam, resilien, dan berkelanjutan. Dalam konteks Bali, langkah ini juga memiliki dimensi kultural yang kuat. Pangan tidak hanya dilihat sebagai kebutuhan biologis, tetapi juga bagian dari identitas dan tradisi.
Gerakan yang dipimpin oleh Usmantari dan diperkuat oleh gagasan Made Urip ini menunjukkan bahwa politik tidak harus selalu identik dengan kekuasaan. Ia bisa menjadi alat untuk membangun kesadaran, menggerakkan masyarakat, dan menghadirkan solusi nyata. ama/ksm









