Politik dan Sosial Budaya

Gelontor Ratusan Paket Sembako, Ngurah Aryawan Ikut Rasakan Kesejahteraan Petugas Kebersihan Masih Minim Perlindungan


Denpasar, PancarPOS | Aksi sosial yang dilakukan Anggota DPRD Kota Denpasar dari Fraksi Partai Gerindra, Ngurah Aryawan, pada Sabtu (28/3/2026), tidak sekadar menjadi kegiatan berbagi bantuan, melainkan juga mengangkat isu krusial yang selama ini cenderung terpinggirkan dalam dinamika pembangunan kota. Bertempat di Lapangan Kompyang Sujana Buyung, kegiatan pembagian ratusan paket sembako kepada petugas kebersihan dan masyarakat menjadi panggung untuk menyuarakan realitas yang dihadapi para pekerja kebersihan di Kota Denpasar.

Sebanyak kurang lebih 400 paket sembako disalurkan melalui pola roadshow ke sejumlah titik di Kota Denpasar. Sasaran utama kegiatan ini adalah para petugas kebersihan yang setiap hari bekerja di garis depan menjaga kebersihan kota, serta masyarakat yang membutuhkan, khususnya menjelang Hari Raya Nyepi. Momentum ini dinilai tepat karena meningkatnya aktivitas masyarakat menjelang hari besar keagamaan kerap berdampak pada meningkatnya volume sampah dan beban kerja petugas kebersihan.

Namun di balik aksi sosial tersebut, Ngurah Aryawan menegaskan bahwa persoalan utama tidak berhenti pada bantuan sesaat. Ia secara terbuka menyampaikan bahwa kondisi kesejahteraan petugas kebersihan masih jauh dari ideal. Dalam pandangannya, terdapat ketimpangan antara beban kerja, risiko yang dihadapi, dan perlindungan yang diterima oleh para pekerja di sektor ini.

“Mereka bekerja setiap hari dalam kondisi yang tidak mudah. Bersentuhan langsung dengan limbah, menghadapi risiko kesehatan, bahkan keselamatan kerja. Tetapi dari sisi jaminan sosial, standar operasional, hingga penghasilan, masih belum maksimal,” ujarnya dengan nada tegas.

Sebagai anggota Komisi I DPRD Kota Denpasar, Ngurah Aryawan menilai bahwa pemerintah daerah perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem perlindungan dan kesejahteraan petugas kebersihan. Ia menekankan bahwa kebijakan tidak boleh hanya berhenti pada pengaturan teknis pengelolaan sampah, tetapi juga harus menyentuh aspek manusia yang menjalankan sistem tersebut.

Menurutnya, petugas kebersihan adalah bagian penting dari wajah Kota Denpasar. Kebersihan yang selama ini menjadi identitas kota tidak bisa dilepaskan dari kerja keras mereka di lapangan. Namun ironisnya, kontribusi besar tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan perhatian yang layak dari sisi kebijakan publik.

“Kita sering berbicara tentang kota bersih, pariwisata yang nyaman, dan lingkungan yang tertata. Tapi kita jarang bicara tentang siapa yang bekerja di balik itu semua. Mereka inilah yang sesungguhnya menjadi tulang punggung,” tegasnya.

Ia juga menyoroti perlunya standar operasional kerja yang jelas dan berpihak pada keselamatan petugas. Mulai dari penyediaan alat pelindung diri, jaminan kesehatan yang komprehensif, hingga sistem kerja yang manusiawi harus menjadi perhatian serius pemerintah. Tanpa itu, menurutnya, keberlanjutan sistem pengelolaan sampah akan menghadapi tantangan besar.

Lebih jauh, Ngurah Aryawan mengingatkan bahwa profesi petugas kebersihan tidak boleh dipandang sebelah mata. Dalam konteks kota modern, pekerjaan ini justru memiliki peran strategis dalam menjaga kualitas hidup masyarakat. Oleh karena itu, penghargaan terhadap profesi ini harus diwujudkan dalam bentuk kebijakan yang konkret, bukan sekadar retorika.

Dalam kegiatan tersebut, ia juga memanfaatkan kesempatan untuk berdialog langsung dengan para petugas kebersihan. Aspirasi yang disampaikan dari lapangan menjadi bahan penting untuk dibawa ke ruang legislatif. Ia menegaskan komitmennya untuk memperjuangkan suara para pekerja kebersihan agar mendapat perhatian yang lebih serius dalam perumusan kebijakan.

Salah satu suara yang mencuat adalah dari Gek Kolin, seorang petugas kebersihan yang sehari-hari bekerja di lapangan. Ia mengungkapkan bahwa tantangan kerja yang dihadapi semakin kompleks, terutama dengan adanya kebijakan pemilahan sampah yang belum sepenuhnya diimbangi dengan fasilitas yang memadai.

“Kami bersyukur sekali atas bantuan ini, sangat membantu. Tapi di lapangan kami juga menghadapi kesulitan. Sekarang harus memilah sampah, sementara alatnya masih terbatas,” ujarnya.

Menurutnya, kebijakan pemilahan sampah memang penting untuk menjaga lingkungan, namun implementasinya di lapangan membutuhkan dukungan sarana dan prasarana yang memadai. Tanpa itu, beban kerja petugas justru semakin berat.

Ia mencontohkan, adanya pembatasan pengangkutan jenis sampah tertentu seperti sampah daun membuat proses kerja menjadi lebih rumit. Di sisi lain, fasilitas pendukung untuk pengolahan atau pemilahan sampah belum sepenuhnya tersedia.

“Kami harus menyesuaikan dengan aturan, tapi kondisi di lapangan tidak selalu mendukung. Itu yang membuat pekerjaan jadi lebih berat,” katanya.

Selain itu, Gek Kolin juga menyinggung harapan terkait peningkatan kesejahteraan. Ia berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah, baik dalam bentuk peningkatan penghasilan maupun fasilitas kerja yang lebih layak.

“Kami hanya berharap tetap diperhatikan. Kalau bisa ada peningkatan lagi ke depan, tentu kami sangat berharap,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Ngurah Aryawan menegaskan bahwa seluruh aspirasi yang disampaikan akan menjadi catatan penting untuk diperjuangkan di DPRD. Ia menilai bahwa kebijakan pengelolaan sampah harus dirancang secara komprehensif, tidak hanya fokus pada output, tetapi juga memperhatikan kondisi pekerja di lapangan.

Menurutnya, keberhasilan program kebersihan kota sangat bergantung pada kesejahteraan dan kinerja petugas kebersihan. Jika aspek ini diabaikan, maka program sebaik apa pun tidak akan berjalan optimal.

“Denpasar bisa bersih karena kerja mereka. Jadi sudah seharusnya ada perhatian yang lebih serius dan konkret,” tegasnya.

Kegiatan pembagian sembako ini, lanjutnya, merupakan bentuk kepedulian awal yang diharapkan dapat meringankan beban para petugas kebersihan. Namun ia menekankan bahwa solusi jangka panjang tetap harus melalui kebijakan yang berkelanjutan.

Ia juga mengajak seluruh pihak, termasuk pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat, untuk bersama-sama memberikan perhatian terhadap para petugas kebersihan. Menurutnya, persoalan ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tanggung jawab kolektif sebagai warga kota.

Di tengah dinamika pembangunan kota yang semakin kompleks, isu kebersihan dan pengelolaan sampah menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan. Denpasar sebagai kota yang berkembang pesat membutuhkan sistem yang kuat dan berkelanjutan untuk menjaga kualitas lingkungannya.

Namun di balik sistem tersebut, terdapat peran manusia yang tidak boleh dilupakan. Petugas kebersihan bukan sekadar pelaksana teknis, tetapi bagian integral dari keberhasilan pembangunan kota. Oleh karena itu, perhatian terhadap kesejahteraan mereka menjadi hal yang tidak bisa ditunda.

Aksi yang dilakukan Ngurah Aryawan ini menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak hanya soal infrastruktur dan kebijakan makro, tetapi juga tentang keberpihakan terhadap kelompok pekerja yang selama ini berada di garis depan namun sering kali luput dari perhatian.

Momentum menjelang Hari Raya Nyepi juga memberikan makna tersendiri dalam kegiatan ini. Nilai-nilai refleksi dan penyucian diri yang terkandung dalam perayaan tersebut seolah menjadi pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan, tidak hanya dalam hubungan manusia dengan alam, tetapi juga dalam hubungan sosial.

Dalam konteks ini, perhatian terhadap petugas kebersihan menjadi bagian dari upaya menjaga harmoni tersebut. Mereka adalah pihak yang setiap hari berkontribusi menjaga kebersihan lingkungan, yang pada akhirnya berdampak pada kualitas hidup seluruh masyarakat.

Ke depan, diharapkan kegiatan serupa tidak hanya menjadi agenda rutin, tetapi juga diikuti dengan langkah-langkah konkret dalam perumusan kebijakan. Aspirasi yang telah disampaikan harus diterjemahkan menjadi program nyata yang dapat dirasakan langsung oleh para pekerja kebersihan. ana/ama/kel


Back to top button