Politik dan Sosial Budaya

Nyambu Bangkitkan Spirit NKRI, Kesuma Kelakan Gaungkan Empat Pilar Nafas Tak Boleh Padam


Tabanan, PancarPOS | Gelombang semangat kebangsaan menggema kuat dari Desa Nyambu, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, saat Sosialisasi Empat Pilar MPR RI digelar pada 16 Maret 2026. Di tengah dinamika zaman yang semakin kompleks, forum ini menjelma bukan sekadar agenda formal, melainkan panggung ideologis yang menegaskan bahwa fondasi bangsa Indonesia tidak boleh goyah oleh arus globalisasi, disinformasi, dan polarisasi sosial.

Anggota MPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, I.G.N. Kesuma Kelakan, tampil lugas dan tajam dalam menyampaikan pesan kebangsaan. Di hadapan masyarakat yang terdiri dari tokoh adat, pemuda, dan perangkat desa, ia menegaskan bahwa Empat Pilar, Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar konsep normatif, melainkan “urat nadi kehidupan berbangsa yang harus terus mengalir dalam setiap tindakan masyarakat.”

“Jangan pernah kita anggap Empat Pilar ini hanya teori. Ini adalah nafas bangsa. Kalau nafas ini berhenti, maka bangsa ini juga akan kehilangan arah,” tegasnya dengan nada penuh tekanan.

Ia mengurai bahwa Indonesia berdiri di atas keberagaman yang luar biasa. Namun justru di situlah letak kerentanan jika masyarakat kehilangan pegangan nilai kebangsaan. Menurutnya, perbedaan bukan ancaman, tetapi bisa berubah menjadi sumber konflik jika tidak diikat oleh kesadaran kolektif. “Indonesia ini bukan negara yang seragam. Kita berbeda-beda, tetapi disatukan oleh nilai. Kalau nilai ini kita abaikan, maka perpecahan tinggal menunggu waktu,” ujarnya.

I.G.N. Kesuma Kelakan saat memberikan materi Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Desa Nyambu, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, 17 Maret 2026, dengan penekanan kuat pada pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia. (foto: kan)

Dalam pemaparannya, Kesuma Kelakan secara khusus menyoroti derasnya arus informasi digital yang kerap menjadi pemicu konflik horizontal. Ia menyebut media sosial sebagai “pedang bermata dua” yang bisa memperkuat persatuan, namun juga bisa menghancurkannya jika tidak disikapi dengan bijak.

“Hoaks, ujaran kebencian, provokasi—itu semua nyata. Dan kalau masyarakat tidak punya filter kebangsaan, maka kita akan mudah diadu domba,” katanya.

Ia pun mengajak masyarakat untuk kembali menjadikan Pancasila sebagai kompas moral dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, nilai-nilai dalam Pancasila tidak boleh berhenti di ruang kelas atau dokumen negara, tetapi harus hadir dalam praktik sosial.

“Kalau kita benar-benar menjalankan Pancasila, tidak akan ada saling benci. Tidak ada saling menjatuhkan. Yang ada adalah gotong royong dan saling menghargai,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya memahami Undang-Undang Dasar 1945 sebagai fondasi hukum negara. Tanpa kesadaran hukum, menurutnya, kehidupan berbangsa akan mudah terjerumus dalam kekacauan. “Hukum itu bukan untuk ditakuti, tetapi untuk dijalankan. Kalau semua taat, maka keadilan akan hadir,” ungkapnya.

1bl#ik-006.16/3/2026

Dalam konteks keutuhan wilayah, Kesuma Kelakan menegaskan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah harga mati yang tidak bisa ditawar oleh siapa pun. “Tidak ada ruang untuk memecah belah Indonesia. NKRI itu final. Siapa pun yang mencoba mengganggu persatuan, berarti berhadapan dengan seluruh rakyat Indonesia,” katanya dengan tegas.

Sementara itu, nilai Bhinneka Tunggal Ika menurutnya adalah ruh yang menjaga Indonesia tetap utuh di tengah keberagaman. Ia mengingatkan bahwa toleransi bukan sekadar slogan, tetapi harus diwujudkan dalam sikap nyata. “Berbeda itu bukan masalah. Yang jadi masalah adalah ketika kita tidak mau menghargai perbedaan,” ujarnya.

Dalam forum yang berlangsung dinamis tersebut, ia juga memberikan perhatian khusus kepada generasi muda. Ia menilai bahwa masa depan bangsa sangat ditentukan oleh sejauh mana generasi muda memahami dan menginternalisasi nilai kebangsaan. “Anak muda jangan sampai kehilangan jati diri. Mereka harus bangga jadi Indonesia, bukan justru terjebak dalam budaya luar tanpa filter,” katanya.

Ia bahkan menegaskan bahwa pendekatan sosialisasi harus berubah mengikuti perkembangan zaman. Generasi muda harus diajak dengan cara yang relevan dan komunikatif. “Kita tidak bisa lagi hanya ceramah. Harus dialog, harus interaktif. Gunakan media digital, karena di situlah mereka berada,” tegasnya.

Kegiatan ini pun mendapat respons antusias dari masyarakat Desa Nyambu. Diskusi berlangsung hidup, dengan berbagai pertanyaan kritis dari peserta terkait kondisi sosial saat ini, termasuk isu intoleransi, polarisasi politik, hingga tantangan menjaga persatuan di era digital.

1bl#ik-006.16/3/2026

Sosialisasi ini pada akhirnya melahirkan satu kesadaran kolektif bahwa menjaga Indonesia bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab seluruh rakyat. “Persatuan ini tidak datang begitu saja. Harus dijaga, dirawat, dan diperjuangkan setiap hari,” kata Kesuma Kelakan menutup sesi. ama/ksm/kel


Back to top button