Waspada Gagal Jantung Berat, Dirut RSU Puri Raharja Ungkap Gejala Hingga Penanganannya

Denpasar, PancarPOS | Direktur Utama RSU Puri Raharja, dr. Gede Bagus Darmayasa, M.M., Repro., yang akrab disapa dr. Bagus, mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada terhadap kondisi gagal jantung berat atau yang dikenal sebagai end stage. Hal ini disampaikannya di Denpasar, pada Kamis (20/3/2026), sebagai bentuk edukasi publik terhadap salah satu penyakit kardiovaskular paling mematikan.
Menurut dr. Bagus, masih banyak masyarakat yang belum memahami secara utuh apa yang dimaksud dengan Gagal Jantung berat. Padahal, kondisi ini merupakan tahap lanjut dari gangguan jantung kronis yang sangat berisiko dan membutuhkan penanganan medis segera.

“Gagal jantung berat adalah kondisi ketika otot jantung sudah tidak mampu lagi memompa darah secara optimal ke seluruh tubuh. Akibatnya, organ-organ vital tidak mendapatkan suplai oksigen yang cukup,” tegasnya.
Ia menjelaskan, pada fase ini, pasien umumnya mengalami berbagai gejala berat yang sangat mengganggu aktivitas, bahkan saat dalam kondisi istirahat. Salah satu gejala paling umum adalah sesak napas parah (dyspnea), yang bisa muncul saat berbaring maupun tanpa aktivitas fisik sama sekali.

Selain itu, penumpukan cairan atau edema juga menjadi tanda khas. Cairan dapat menumpuk di kaki, pergelangan kaki, hingga paru-paru. Pada kondisi yang lebih parah, pasien dapat mengalami batuk berdahak berbusa akibat edema paru.
“Kelelahan ekstrem juga sering terjadi karena tubuh tidak mendapatkan oksigen yang cukup. Bahkan aktivitas ringan bisa terasa sangat berat,” tambah dr. Bagus.
Gejala lain yang patut diwaspadai adalah peningkatan berat badan secara cepat akibat retensi cairan, serta jantung berdebar atau palpitasi yang ditandai dengan detak jantung tidak teratur.
Lebih lanjut, dr. Bagus mengungkapkan bahwa gagal jantung berat umumnya merupakan akumulasi dari berbagai penyakit kronis yang tidak tertangani dengan baik. Di antaranya adalah riwayat serangan jantung, penyakit jantung koroner, tekanan darah tinggi (hipertensi) yang tidak terkontrol, serta gangguan otot jantung atau kardiomiopati. “Ini bukan penyakit yang muncul tiba-tiba. Biasanya merupakan tahap akhir dari perjalanan penyakit jantung yang sudah lama,” jelasnya.

Terkait penanganan, ia menegaskan bahwa terapi gagal jantung berat bersifat komprehensif dan harus dilakukan secara berkelanjutan. Pengobatan umumnya melibatkan pemberian obat-obatan seperti diuretik untuk mengurangi penumpukan cairan, beta-blocker untuk mengontrol detak jantung, serta ACE inhibitor untuk membantu kerja jantung.
Selain terapi farmakologis, perubahan gaya hidup juga menjadi kunci utama. Pasien dianjurkan menjaga pola makan sehat, rutin berolahraga sesuai kemampuan, serta mengelola stres dengan baik.
Dalam beberapa kasus, tindakan medis lanjutan seperti pembedahan mungkin diperlukan, terutama untuk memperbaiki atau mengganti katup jantung yang mengalami kerusakan. Bahkan, penggunaan alat bantu seperti pacemaker atau defibrillator juga bisa menjadi solusi untuk menjaga ritme jantung tetap stabil.
“Penanganan harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Karena itu, konsultasi rutin dengan dokter sangat penting,” tegasnya.
Di sisi lain, dr. Bagus juga menekankan pentingnya langkah pencegahan sejak dini. Mengontrol tekanan darah, menjaga kadar kolesterol, rutin berolahraga, serta menghindari kebiasaan merokok menjadi upaya utama untuk menekan risiko terjadinya gagal jantung.

Ia mengingatkan bahwa meskipun gagal jantung merupakan kondisi serius, namun bukan berarti tidak bisa dikelola. Dengan penanganan yang tepat dan disiplin menjalani pola hidup sehat, kualitas hidup pasien masih dapat dipertahankan. “Jangan abaikan gejala sekecil apa pun. Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang untuk memperlambat progres penyakit,” pungkasnya. ama/ksm









