Denpasar, PancarPOS | Bertepatan dengan peringatan Hari Pers Nasional, 9 Februari 2026, sebuah peristiwa sederhana namun sarat makna terjadi di Denpasar. Direktur Utama Rumah Sakit Puri Raharja, dr. Bagus Dharmayasa, M.M., M.Repro., menunjukkan cara berbeda dalam membangun relasi antarlembaga di Bali. Bukan dengan seremoni besar atau pidato panjang, melainkan melalui bahasa seni yang jujur dan personal. Tiga lukisan sketsa wajah hasil karyanya sendiri diserahkan kepada jajaran strategis pengelola Lembaga Perkreditan Desa Bali sebagai simbol apresiasi, persahabatan, dan sinergi lintas sektor.
Penyerahan lukisan sketsa tersebut berlangsung dalam suasana hangat dan akrab di Pandaloka Signature, Denpasar. Tiga tokoh yang menerima langsung karya seni itu adalah Ketua Badan Kerja Sama Lembaga Perkreditan Desa Provinsi Bali Drs. I Nyoman Cendikiawan, S.E., S.H., M.Si., Ketua Lembaga Pemberdayaan LPD Bali I Gusti Nyoman Rijasa, serta Kepala Bidang Audit dan Permasalahan LPD Ida Bagus Warnaya Putra. Kegiatan ini turut dihadiri Kepala Bank BPD Bali Cabang Renon I Ketut Bagus Ariana Putra, S.E., M.M., dan disaksikan oleh wartawan dari berbagai media.
Bagi dr. Bagus Dharmayasa, momen ini bukan sekadar penyerahan cenderamata. Ia menegaskan bahwa seni adalah medium komunikasi yang paling jujur untuk menyampaikan rasa hormat dan terima kasih. Menurutnya, hubungan antarlembaga tidak cukup dibangun hanya dengan kerja administratif dan kepentingan struktural, tetapi juga membutuhkan sentuhan kemanusiaan yang tulus.
Dalam refleksinya, dr. Bagus menyampaikan bahwa Bali memiliki kekuatan sosial yang unik. Ekonomi adat melalui LPD, layanan kesehatan melalui rumah sakit, perbankan daerah melalui BPD Bali, serta pers sebagai pilar demokrasi, semuanya saling terkait dan tidak bisa berjalan sendiri. Ia memandang Hari Pers Nasional sebagai momentum yang tepat untuk mengingat kembali pentingnya kolaborasi lintas sektor yang berangkat dari kepercayaan dan nilai budaya.
Dr. Bagus menuturkan bahwa lukisan sketsa yang ia buat bukan karya yang lahir secara instan. Setiap garis wajah yang ia goreskan adalah hasil pengamatan, perenungan, dan penghargaan terhadap peran masing masing tokoh dalam menjaga keberlanjutan LPD sebagai benteng ekonomi krama Bali. Baginya, wajah adalah representasi perjalanan pengabdian seseorang, dan seni sketsa menjadi cara untuk mengabadikan perjalanan itu.
Ia mengakui bahwa di tengah kesibukannya memimpin rumah sakit, melukis adalah ruang kontemplasi pribadi. Seni membantunya menjaga keseimbangan antara logika medis dan kepekaan sosial. Melalui seni pula, ia ingin menunjukkan bahwa pemimpin di sektor kesehatan tidak boleh terlepas dari nilai budaya dan kemanusiaan.
Menurut dr. Bagus, LPD bukan sekadar lembaga keuangan. LPD adalah simbol kedaulatan ekonomi desa adat yang telah terbukti bertahan di tengah berbagai krisis. Karena itu, ia memandang jajaran BKS LPD dan LP LPD Bali sebagai mitra strategis dalam membangun kesejahteraan masyarakat secara holistik, termasuk dalam aspek kesehatan.
Ia menekankan bahwa sinergi antara rumah sakit dan lembaga ekonomi adat sangat penting, terutama dalam menjawab tantangan pelayanan kesehatan masyarakat Bali ke depan. Kesehatan, menurutnya, tidak bisa dilepaskan dari stabilitas ekonomi keluarga dan komunitas. Ketika ekonomi desa kuat, maka akses terhadap layanan kesehatan juga akan semakin baik.
Dalam suasana Hari Pers Nasional, dr. Bagus juga memberikan penghormatan khusus kepada insan pers. Ia menyadari bahwa pers memiliki peran strategis dalam menjaga ruang publik yang sehat, mengawal kebijakan, serta menyuarakan kepentingan masyarakat. Kehadiran wartawan dalam acara tersebut dipandangnya sebagai bagian penting dari ekosistem demokrasi dan transparansi.
Ia menegaskan bahwa pers bukan sekadar peliput kegiatan, tetapi mitra kritis dalam pembangunan. Melalui pemberitaan yang berimbang dan tajam, pers membantu masyarakat memahami isu kesehatan, ekonomi, dan sosial secara lebih utuh. Oleh karena itu, ia memandang Hari Pers Nasional sebagai pengingat akan pentingnya menjaga kebebasan pers yang bertanggung jawab.
Dr. Bagus juga merefleksikan bahwa kegiatan sederhana seperti penyerahan lukisan ini adalah bentuk komunikasi nilai. Ia tidak ingin apresiasi hanya berhenti pada kata kata, tetapi diwujudkan dalam karya yang memiliki makna personal dan budaya. Seni, menurutnya, mampu menembus sekat birokrasi dan menghadirkan kedekatan yang tidak bisa diciptakan oleh dokumen resmi.
Ia berharap, melalui simbol seni ini, hubungan antara RS Puri Raharja, BKS LPD Bali, LP LPD Bali, Bank BPD Bali, dan insan pers dapat terus terjalin dalam semangat saling mendukung. Sinergi tersebut diyakininya akan memberikan dampak nyata bagi masyarakat Bali, terutama dalam menghadapi tantangan sosial ekonomi dan kesehatan di masa mendatang.
Bagi dr. Bagus, kepemimpinan bukan hanya soal pengambilan keputusan, tetapi juga soal keteladanan nilai. Ia ingin menunjukkan bahwa seorang pemimpin harus mampu hadir secara utuh sebagai manusia yang berpikir, merasa, dan peduli. Seni menjadi salah satu cara untuk mengekspresikan kepedulian itu.
Acara tersebut ditutup dengan sesi foto bersama. Para penerima lukisan tampak memegang karya sketsa wajah mereka masing masing dengan ekspresi bangga. Bagi dr. Bagus, momen itu menjadi pengingat bahwa kerja kolaboratif selalu berawal dari hubungan manusiawi yang tulus.
Ia menutup refleksinya dengan keyakinan bahwa Bali akan tetap kuat selama nilai gotong royong, budaya, dan kemanusiaan dijaga bersama. Rumah sakit, lembaga keuangan adat, perbankan daerah, dan pers harus terus berjalan beriringan, saling menguatkan, dan saling mengingatkan. Seni, dalam hal ini, menjadi jembatan sunyi yang menyatukan semua peran tersebut. ama/ksm






