Dampak BMTH Kian Terasa, 2 Kapal Cruise Jumbo Kembali Sandar Bersamaan Di Pelabuhan Benoa

Denpasar, PancarPOS | Fenomena luar biasa kembali terjadi di Pelabuhan Benoa. Dua kapal pesiar raksasa kelas dunia, Viking Venus dan Silver Moon, bakal sandar bersamaan pada Jumat 15 November, mempertegas betapa dahsyatnya daya magnet Bali Maritime Tourism Hub (BMTH) sebagai pintu gerbang wisata laut internasional di Indonesia. Momentum ini bukan sekadar kedatangan kapal, melainkan penanda keras bahwa Benoa semakin menjadi rebutan operator cruise global.
Kedua cruise tersebut, yang tercatat sebagai kapal ke-50 dan ke-51 tahun ini, membawa lebih dari 2.300 orang wisatawan dan kru. Silver Moon mengangkut 950 orang, sementara Viking Venus membawa 1.377 orang. Lonjakan ini menjadi bukti nyata bahwa Pelindo Regional 3 mampu menangani arus kedatangan cruise internasional secara simultan dengan standar layanan global.
General Manager Pelabuhan Benoa, Anak Agung Gede Agung Mataram, mengungkapkan bahwa terminal internasional Pelabuhan Benoa saat ini telah memiliki kapasitas eksisting 3.000 orang dan fasilitas dermaga sepanjang 500 meter. Namun itu baru permulaan. Dermaga Benoa sedang disiapkan untuk diperluas hingga total 1.300 meter, memungkinkan empat kapal cruise super besar sandar sekaligus.
“Secara teknis kami sudah siap. Bahkan Februari lalu kami melayani tiga cruise sekaligus, dan terminal kami mampu menangani embarkasi dan debarkasi 3.000 orang dalam satu waktu. Dari sisi fasilitas dan layanan, kami siap menuju status home port tourism,” tegas Agung Mataram.
Ledakan kunjungan wisatawan asing yang masuk lewat Pelabuhan Benoa ini merupakan efek domino dari pembangunan masif BMTH. Sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN), kawasan ini ditata menjadi pusat wisata bahari terpadu dengan zona marine tourism, marina premium, entertainment area, hingga taman publik dan multipurpose zone.
Sub Regional Head Pelindo Bali Nusra, Fariz Hariyoso, memastikan bahwa progress pengembangan infrastruktur BMTH telah rampung seratus persen. Investor besar pun mulai masuk, salah satunya PT Marina Development Indonesia (MDI) yang tengah menggarap pengembangan area marina.
“Saat ini sedang dilakukan pembangunan kawasan marina di area pengembangan 1 melalui kerja sama PT SPSL dan PT MDI. Nantinya akan ada dermaga ponton berkapasitas sekitar 180 yacht. Ini salah satu manfaat berlipat dari BMTH untuk ekonomi Bali,” ujar Fariz.
Sementara itu, Senior Manager Hukum dan Humas Pelindo, Karlinda Sari, menambahkan bahwa efek BMTH tidak hanya terasa pada pelabuhan, tetapi juga langsung menggerakkan sektor wisata Bali. Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), Pelindo menggandeng berbagai stakeholder dan agen wisata untuk memastikan wisatawan cruise dapat terhubung dengan destinasi terbaik Bali.
“Salah satunya adalah Desa Wisata Panglipuran yang menjadi desa binaan kami. Setiap tahun, sekitar 400 wisatawan cruise dari Pelabuhan Benoa berkunjung ke sana,” ungkap Karlinda.
Tren kedatangan cruise di Pelabuhan Benoa menunjukkan grafik menanjak tajam. Pada 2023 tercatat 48 kunjungan dengan 78.241 penumpang. Tahun berikutnya melonjak menjadi 56 kunjungan dengan 107.717 penumpang. Hingga awal November 2025 saja, sudah 49 kapal bersandar membawa 96.013 penumpang, dan diprediksi total mencapai 66 kapal hingga akhir tahun. Bahkan lebih mengejutkan, tahun 2026 sudah ada 73 kapal yang terdaftar akan singgah di Benoa.
Dengan tren ini, Pelabuhan Benoa terbukti bukan lagi sekadar tempat singgah. Ia telah menjelma menjadi panggung besar persaingan industri cruise dunia, dan BMTH berdiri sebagai jantung barunya. Bali kini tak hanya memikat wisatawan, tetapi menjadi pusat perhatian industri maritim global. ojo/amq/kel









