Politik dan Sosial Budaya

Adi Wiryatama Ajak Warga Bali Hentikan Penembakan Burung dan Rawat Alam Warisan Leluhur

Kembali ke Tanah Dewata, 40 Burung Perkici Dada Merah Dipulangkan dari Inggris


Denpasar, PancarPOS | Sebuah momen langka dan bersejarah terjadi di Bali. Sebanyak 40 ekor burung Perkici Dada Merah yang merupakan satwa endemik asli Bali dan Lombok resmi dipulangkan dari Inggris (UK) ke Pulau Dewata. Langkah monumental ini menjadi hasil kerja sama konservasi lintas negara antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Inggris, yang berkomitmen mengembalikan satwa-satwa khas Nusantara ke habitat aslinya setelah puluhan tahun hanya bisa disaksikan di luar negeri.

Prosesi seremonial pelepasliaran burung Perkici Dada Merah dilaksanakan secara khidmat di Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali, pada 27 Oktober 2025, dan dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, antara lain Gubernur Bali, Komisi IV DPR RI, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), serta berbagai lembaga konservasi baik dari tingkat pusat maupun daerah. Suasana haru dan bangga menyelimuti acara tersebut ketika 40 burung berwarna cerah dengan dada merah menyala itu terbang bebas kembali ke langit Bali, seolah menandai babak baru bagi upaya pelestarian fauna endemik di tanah kelahirannya.

Salah satu tokoh yang hadir dalam acara bersejarah ini adalah I Nyoman Adi Wiryatama, Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, yang dikenal luas sebagai mantan Bupati Tabanan dua periode dan mantan Ketua DPRD Provinsi Bali. Dalam kesempatan itu, Adi Wiryatama menyampaikan rasa haru dan kebanggaan mendalam karena satwa endemik yang menjadi bagian dari identitas dan kebanggaan masyarakat Bali akhirnya bisa kembali pulang setelah sekian lama hanya menjadi kenangan.

Seremoni pelepasliaran 40 burung Perkici Dada Merah hasil kerja sama konservasi antara Pemerintah Indonesia dan Inggris di BKSDA Bali, 27 Oktober 2025, yang dihadiri oleh Gubernur Bali, Anggota Komisi IV DPR RI I Nyoman Adi Wiryatama, Menteri Kehutanan, serta perwakilan lembaga konservasi pusat dan daerah. (foto: mas)

“Sebagai wakil rakyat Bali, saya menyambut gembira dan penuh syukur. Ini adalah kabar bahagia bagi seluruh masyarakat Bali karena warisan alam kita yang sempat punah kini kembali bisa kita nikmati dan lestarikan bersama. Ini bukan hanya soal burung, tetapi tentang martabat ekologi dan identitas budaya Bali,” ujarnya penuh semangat.

Ia kemudian menegaskan pentingnya tanggung jawab moral masyarakat Bali dalam menjaga keseimbangan alam yang menjadi dasar kehidupan Pulau Dewata. Adi Wiryatama juga mengajak seluruh lapisan masyarakat, terutama generasi muda, agar lebih peduli terhadap keberadaan satwa liar, tidak menjadikan perburuan atau penembakan burung sebagai hiburan, dan memahami bahwa setiap makhluk hidup memiliki peran penting dalam rantai ekosistem.

Dalam pesannya, Adi Wiryatama juga mendorong Pemerintah Provinsi Bali agar segera menyusun perangkat hukum berupa peraturan daerah yang melarang keras penembakan burung, khususnya satwa dilindungi. Ia menilai, tanpa regulasi yang tegas, upaya pelestarian hanya akan berhenti di seremoni simbolik. “Saya mengajak pemerintah daerah untuk menyiapkan aturan hukum yang jelas. Penembakan burung harus dilarang, terutama terhadap satwa yang dilindungi. Hanya jika populasinya berlebih dan menjadi hama bagi pertanian, barulah dapat diatur secara bijak,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa tindakan seperti penembakan burung, apalagi di tempat wisata, bisa menimbulkan citra negatif di mata wisatawan mancanegara. Adi Wiryatama bahkan menuturkan pengalaman pribadinya yang membekas. “Saya pernah melihat turis asing menangis melihat seekor burung kecil mati ditembak anak-anak. Ketika ditanya, ‘Apakah burung ini dimakan?’, anak itu menjawab tidak, hanya untuk mainan. Turis itu tidak habis pikir, dan itu sangat menyedihkan,” kisahnya.

1th#ik-039.1/10/2025

Menurutnya, Bali sebagai destinasi wisata dunia harus menjadi contoh harmoni antara manusia dan alam. Budaya Hindu yang menjadi jiwa Pulau Dewata juga menekankan prinsip Tri Hita Karana, yakni keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam. “Kalau kita benar-benar memahami nilai Tri Hita Karana, maka menembak burung atau merusak alam sama saja dengan melanggar keseimbangan hidup itu sendiri,” imbuhnya.

Adi Wiryatama pun mengajak seluruh masyarakat Bali untuk memandang pelestarian alam bukan sekadar tanggung jawab pemerintah, melainkan panggilan nurani setiap orang Bali yang diwarisi budaya luhur. “Mari kita jaga bersama kekayaan hayati kita. Burung-burung ini adalah bagian dari roh alam Bali. Jika kita rawat dan jaga, maka Bali akan tetap aman, indah, dan lestari sepanjang masa,” tutupnya.

Pemulangan burung Perkici Dada Merah dari Inggris ini menjadi simbol kebangkitan konservasi Bali, sekaligus pesan kuat bahwa upaya menjaga alam tidak bisa ditunda. Dari sayap-sayap kecil yang kembali mengepak di langit Pulau Dewata, masyarakat Bali diingatkan akan pentingnya merawat rumah besar mereka: alam Bali yang suci dan penuh kehidupan. mas/ama


Back to top button