Politik dan Sosial Budaya

Buka Bimtek Pengolahan Kakao di Jembrana, Made Urip Bagikan Bantuan Rp6,28 Miliar


Jembrana, PancarPOS | Usai Turba di Kabupaten Bangli dan Tabanan, kini Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Drs. I Made Urip, M.Si., terus roadshow bergerak melanjutkan Bimbingan Teknis atau Bimtek di Kabupaten Jembrana. Wakil Rakyat Sejuta Traktor yang akrab disapa M-U itu, kali ini membuka Bimtek Teknologi Penanganan dan Pengolahan Pasca Panen Kakao Berkualitas Ekspor di Nirwana Garden Bali, Dauh Waru, Jembrana, pada Jumat (28/7/2022). Made Urip yang juga Ketua DPP PDI Perjuangan membidangi Pertanian, Lingkungan Hidup dan Kehutanan itu, juga sempat membagikan secara simbolis bantuan Aspirasi Pertanian Kabupaten Jembrana Tahun 2021-2022 senilai total Rp6,28 miliar, berupa 150 ribu bibit kakao Rp3,75 miliar, 6 unit traktor roda dua Rp180 juta, program UPPO Rp1,2 miliar, mesin pengolahan pakan ikan Rp150 juta dan mesin pengolahan coklat Rp1 miliar. Bantuan diserahkan langsung bersama Direktur Jenderal Perkebunan yang diwakili oleh Koordinator Tanaman Penyegar, Gento Widayanto, S.Sos., MM., beserta Kabid Perkebunan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Dewa Ayu Budiasih, serta Ketua Komisi II DPRD Jembrana, i Ketut Suastika, S.Sos., MH., dan Kadis Pertanian dan Pangan Jembrana, I Wayan Sutama, SP., M.Si.

1th#ik-19/7/2022

Bimtek yang diikuti sekitar 75 orang peserta dari para kelompok tani penerimaan bantuan itu, menghadirkan narasumber dari Kepala Koperasi Kerta Semayasamania, Ketut Wiadnyana. Selaku Ketua Kelompok Tani Maju Jaya, Kadek Arnaya mengucapkan terima kasih atas berbagai program dan bantuan yang difasilitasi oleh Made Urip di Kementerian Pertanian. “Kami dari para petani di Jembrana sangat berterima kasih kepada Bapak Made Urip atas semua bantuannya. Kami ke depan berharap bisa dibantu lagi dan kami semua siap mendukung Bapak Made Urip,” ujarnya singkat. Sementara itu, Kadis Pertanian dan Pangan Jembrana, Wayan Sutama sangat berharap agar Made Urip selalu ingat dan terus membantu masyrakat Jembrana. Dikatakan Made Urip dari dulu terkenal dengan Bapak Sejuta Traktor dan selalu membantu pengembangan kakao di Jembrana. Karena itu, jika ada bantuan yang lebih besar lagi agar juga bisa dibawa ke Jembrana. Karena meskipun Jembrana kecil, tapi sudah mengakses pasar internasional, seperti manggis dan kakao termasuk Pisang Cavendish. “Karena Jembrana punya tagline Menuju Jembrana Emas Tahun 2026 yang berbasis kawasan sebagai one village one product. Ke depan harus seperti itu untuk menangkap peluang ke depan. Apalagi ada Tol pasti investasi datang ke Jembrana. Untuk itu suksma banget kepada Pak Made Urip yang jauh-jauh datang bawa bantuan dan menginisiasi kegiatan Bimtek di Jembrana,” paparnya.

Di sisi lain, mewakili Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Kabid Perkebunan Dewa Ayu Budiasih menyampaikan perekonomian Bali yang bertumpu di sektor pariwisata sangat rentan terhadap gejolak, seperti bom Bali 1 dan 2 serta pandemi Covid-19, sehingga pertumbuhan ekonomi Bali sempat menyentuh minus 12 persen. Namun sektor pertanian telah terbukti masih mampu bertahan dan tumbuh positif selama pandemi dibanding sektor jasa pariwisata. Kondisi tersebut menyadarkan Pemerintah Provinsi Bali melakukan transformasi perekonomian Bali dengan menempatkan sektor pertanian menjadi pundamental ekonomi ke depan. Karena itu, pihaknya berharap agar Made Urp terus mendukung pembangunan pertanian khususnya sub sektor perkebunan dari hulu maupun hilir termasuk pemasarannya. Ia juga berterima kasih kepada Made Urip yang terus mengalokasikan bantuan kepada petani termasuk di Jembrana. “Bimtek seperti ini agar bisa terus berlanjut untuk menambah wawasan petani untuk meningkatkan produksi pertanian yang berkualitas ekspor,” tandasnya. Pada kesempatan itu, Koordinator Tanaman Penyegar, Gento Widayanto mengungkapkan sudah sekian kalinya Made Urip terus datang langsung membuka Bimtek bersama Direktorat Jenderal Perkebunan. Kehadiran Made Urip sangat penting, karena tidak saja memberikan bantuan fisik, namun juga menggelar Bimtek guna meningkatan kapasitas SDM pertanian. Selain itu, untuk menyamakan persepsi pengolahan pasca panen kakao berkualitas ekspor, karena Indonesia telah menjadi negara pengolahan dan produsen kakao terbesar ketiga dunia dengan luas 1,75 juta Ha.

1bl#ik-1/6/2022

Apalagi nilai ekspor kakao di masa pandemi tidak mengalami penurunan, sehingga diharapkan terus meningkat baik dari kualitas dan volumenya. Untuk itulah, tahun mendatang tidak saja benih kakao, namun alat pengolahannya bisa dibantu oleh Made Urip. “Berkaitan bantuan modal saat ini memang sangat memprihatinkan, karena keterbatasan APBN. Karena itu kami juga berharap Bimtek seperti ini bisa terus berlangsung,” jelasnya. Mewakili Ketua DPRD Jembrana, Ketut Suastika menyampaikan selama pandemi Covid-19 perekonomian Jembrana tetap tegak lurus bergerak, karena potensinya sektor pertanian. Hal ini juga berkat bantuan aspirasi yang luar biasa dari Made Urip baik berupa bibit, maupun alat pertanian sebelum dan setelah pasca panen, sehingga kakao menjadi kualitas unggulan di Jembrana. Terbukti tahun ini dikucurkan bantuan 150 ribu bibit kakao agar Jembrana bisa menjadi sentra kakao. “Kami berharap tahun depan bisa dialokasikan 300 ribu bibit kakao, karena potensi dan kebutuhan coklat pasarnya sangat besar. Kami memohon bantuan bibit ini kepada Pak Made Urip, karena bantuan lain tidak perlu kami diberikan. Cukup bibit kakao saja. Agar masyarakat tidak lagi mau menjadi pegawai kontrak yang hanya digaji Rp2 jutaan per bulan. Kalau jadi petani milenial kan hasilnya jauh lebih banyak dari itu,” sentilnya.

Dari arahan Made Urip mengakui pelaksanaan Bimtek atas kerja sama Komisi IV DPR RI dengan Kementerian pertanian secara serentak di Indonesia untuk meningkatkan kapasitas dan wawasan SDM pertanian yang kali ini mengambil tema terkait kakao atau coklat yang sangat terkenal di Jembrana. Kegiatan ini juga untuk membantu kaum marhaen sebagai kaum wong cilik yang memang harus dibantu dari APBN. Apalagi sekarang terkena dampak Covid-19 yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi turun drastis sehingga banyak yang kembali pulang kampung sebagai petani. Maka itu sektor pertanian harus diperkuat, sebagai sektor unggulan, salah satunya dengan perwilayahan komoditas pertanian. Selama 5 periode di Komisi IV DPR RI dengan 255.130 suara terbanyak Dapil Bali dan ranking 7 nasional itu, bersama pemerintah sudah mengambil berbagai kebijakan, agar sektor pertanian makin tangguh, karena mampu memberikan pertumbuhan ekonomi nasional terutama di sub sektor perkebunan. Bahkan telah memberikan nilai tambah bagi devisa kepada negara, seperti kakao karena kebutuhan globalnya sangat luar biasa. Namun banyak tantangan ke depan, terutama terkait alih fungsi lahan yang harus dicegah dengan terus melindungi lahan produktif, karena kebutuhan coklat di dunia sangat luar biasa. “Asal coklatnya dari mana? Kan dari kita asal coklatnya. Namun ke depan dari sisi pengolahan dan pemasaran harus terus diperbaiki, sehingga melalui Bimtek ini sangat penting untuk mencari kelemahan yang bisa didiskusikan bersama. Termasuk akses penguatan modal dan program dari sisi pemasaran dan pengolahan kakao untuk petani di Jembrana,” pungkas M-U. ama/ksm


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button