Daerah

Tinjau Awig-Awig Desa Adat Sukawati, MDA Bali Minta Ikuti Perkembangan Zaman


Gianyar, PancarPOS | Desa Adat Sukawati menyelenggarakan Pengayaan Khasanah dalam Wah-Wuh Awig-Awig Desa Adat Sukawati, pada Minggu 30 April 2023, bertempat di Pusdiklat BPR Kanti, Desa Batu Bulan, Kecamatan Sukawati, Gianyar. Pertemuan ini, untuk memperkuat pondasi dasar penguatan Desa Adat dalam mewujudkan pemerintahan Adat di Bali sebagaimana Visi Gubernur Bali “Nangun Sat Kerthi Loka Bali”, dengan menghadirkan Doktor Made Wena, Petajuh Bidang Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali. Pada kesempatan itu, juga hadir sekitar 99 undangan yang merupakan toko-tokoh masyarakat Sukawati yang sekiranya sudah terwakili seluruh lapisan masyarakat di Desa Sukawati.

1bl#ik-017.4/4/2023

Majelis MDA Provinsi Bali meminta agar Desa Adat Sukawati mengikuti perkembangan zaman, jika ingin menyesuaikan awig-awig saat kepengurusan bendesa adat yang baru. Hal ini disampaikan Patajuh Bendesa Agung MDA Provinsi Bali, I Made Wena yang menyarankan agar awig-awig Desa Adat Sukawati yang dipasupati pada 1991 dicermati terlebih dulu, apakah terdapat poin yang tidak sesuai dengan perkembangan zaman saat ini atau ada aturan yang bertentangan (bukan yang belum diatur). “Jika belum diatur maka lebih baik diatur dalam pararem pangele. Nanti kalau suatu saat di-awig-awigkan, baru tulis dalam awig-awig. Outputnya bisa dalam bentuk pararem, panyahcah, pangele,” ujarnya.

Dijelaskan hukum adat di Bali dari dulu sampai sekarang belum ada kepastian yang disepakati. Namun sejak 1986, Pemda Provinsi Bali lewat Majelis Pembina Lembaga Adat mendorong setiap komunitas adat, terutama desa adat membuat awig-awig (hukum adat tertulis). Wena menegaskan dalam proses pemutusan awig-awig di Bali dilakukan secara sekala dan niskala. Dibeberkan secara sekala disepakati oleh seluruh krama dan secara niskala, awig-awig tersebut dipasupati. “Ini adalah proses bersepakat secara niskala terutama pada Ida Bhatara yang malinggih di desa adat sehingga pelanggaran terhadap awig-awig, sanksi tertingginya berhadapan dengan Ida Bhatara,” ujarnya.

1bl#ik-003/31/1/2023

Dikatakan, MDA berdasarkan Peraturan Daerah No. 4 Tahun 2019 Tentang Desa Adat di Bali, sangat menghormati keragaman yang ada di 1.493 Desa Adat di Bali. Desa Adat yang otonom, juga harus menghormati hukum negara, dari tingkat yang paling tinggi hingga peraturan di daerah, karena berada dalam bingkai NKRI. “Jika saja Prajuru Desa Adat mau mendengarkan serta melaksanakan arahan serta berusaha mengakomodir hak-hak Krama Desa Adat, dengan semangat yang sama untuk mengembalikan Desa Drestha dan Kertha Samaya Desa, maka mestinya tidak akan ada permasalahan yang terjadi di desa adat,” tandasnya, karena MDA adalah pengayom Desa Adat dan Krama Desa Adat.

“Kami dengan tangan terbuka akan membantu segala proses dan prosedur di Desa Adat sesuai Perda 4 Tahun 2019 Tentang Desa Adat di Bali dan Peraturan Gubernur No. 4 Tahun 2020 Tentang Pelaksanaan Perda 4 Tahun 2019 Tentang Desa Adat di Bali, dengan semangat mengembalikan tata pelaksanaan Ngadegang Bandesa Adat/Kelian Adat/atau Sebutan lain di Desa Adat sesuai dengan Desa Dresta dan Kertha Samaya Desa yang berlaku di Desa Adat masing-masing di 1.493 Desa Adat di Bali,” paparnya. Di sisi lain, Bendesa Adat Sukawati Made Sarwa menjelaskan dalam setiap pergantian bendesa disertai dengan mapitegep awig-awig, rambu-rambu yang dipakai prajuru untuk menindaklanjuti program. “Sebelum diputuskan pitegepnya, dilakukan proses diskusi,” katanya.

1bl#ik-016.4/4/2023

Sementara itu, Saba Desa Desa Adat Sukawati yang juga menjabat sebagai Direktur Utama BPR Kanti Made Arya Amitaba, mengatakan tujuan dari kegiatan ini sangat penting kendati dalam skala kecil, guna menyelesaikan berbagai hal di Desa Adat melalui pedoman tata kelola Desa Adat di Sukawati khususnya dan Bali pada umumnya. Amitaba mengatakan, pada saat ini akan dilakukan peninjauan terhadap awig-awig Desa Adat Sukawati yang disertai peninjauan dan revisi dilakukan setiap 5 tahun. Ketika meninjau, akan melihat acuannya sesuai dengan mekanisme dan fokus perhatian dari MDA. Ia berharap dalam peninjauan awig-awig Desa Adat Sukawati ini mengacu pada ketentuan MDA. Maka dengan kehadiran patajuh MDA Bali, ia berharap dapat memberi pencerahan dan pemahaman.

Semua Awig-awig dan Perarem akan Diregistrasikan pada paruman tersebut terdapat sejumlah poin yang menjadi perhatian untuk didiskusikan, baik parahyangan, pawongan, palemahan menyesuaikan dengan kondisi saat ini. tim/ama/yar

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan


Back to top button
Website is Protected by WordPress Protection from eDarpan.com.