Rabu, April 29, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
BerandaPariwisata dan HiburanDr. Yonathan Andre Baskoro Buka Arah Baru Pariwisata Bali, Dari Krisis Sampah...

Dr. Yonathan Andre Baskoro Buka Arah Baru Pariwisata Bali, Dari Krisis Sampah Menuju Sport Tourism Berkelas Dunia

Jakarta, PancarPOS | Bali kembali berada di persimpangan sejarah pariwisatanya. Pulau yang selama puluhan tahun dikenal sebagai ikon wisata budaya dan bahari dunia kini menghadapi tantangan serius, yakni persoalan sampah yang belum tuntas, tekanan lingkungan yang meningkat, serta tuntutan wisatawan global yang semakin selektif dan sadar kualitas. Namun di balik tantangan itu, peluang baru mulai terbuka. Sport tourism atau pariwisata berbasis olahraga muncul sebagai salah satu jawaban strategis untuk menjaga relevansi Bali di tengah perubahan tren global.

Gagasan besar ini mengemuka dalam diskusi mendalam antara Dr. Yonathan Andre Baskoro, S.H., LL.M., M.AP dengan Wakil Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Ni Luh Puspa, di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, Kamis (29/1/2026). Pertemuan tersebut bukan sekadar makan siang biasa, melainkan ruang dialog strategis yang membedah masa depan pariwisata Bali secara jujur, kritis, dan progresif.

Dr. Yonathan Andre Baskoro yang saat ini menjabat sebagai Anggota Komisi I DPRD Kota Denpasar, Anggota Badan Pembentukan Peraturan Daerah DPRD Kota Denpasar dari Fraksi Partai Golkar, sekaligus dikenal sebagai pejuang hak asasi manusia dan pemerhati hukum, menegaskan bahwa Bali membutuhkan lompatan paradigma dalam mengelola pariwisata. Tidak cukup hanya menjual keindahan alam dan budaya, Bali harus berani masuk ke ekosistem pariwisata berkualitas yang berbasis kesehatan, kebugaran, dan gaya hidup berkelanjutan.

1th#ik-039.1/12/2025

Salah satu isu krusial yang menjadi topik utama diskusi adalah persoalan sampah di Bali. Menurut Dr. Yonathan, mustahil membicarakan pariwisata kelas dunia jika masalah sampah masih menjadi pemandangan sehari-hari di destinasi wisata. “Kita sepakat bahwa sampah harus segera dituntaskan di Bali. Ini bukan hanya isu lingkungan, tetapi isu martabat pariwisata Bali di mata dunia,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa kebersihan tidak boleh berhenti pada slogan. Kebersihan harus hadir secara nyata di ruang-ruang publik, terutama di kawasan wisata dan fasilitas pendukung seperti toilet umum. Toilet yang kotor, menurutnya, bisa meruntuhkan citra pariwisata kelas dunia hanya dalam hitungan menit.

Tagline Bali sebagai destinasi pariwisata kelas dunia harus diwujudkan melalui standar kebersihan yang konsisten dan menyeluruh. Wisatawan mancanegara tidak hanya menilai keindahan pantai dan pura, tetapi juga memperhatikan detail-detail kecil yang mencerminkan keseriusan sebuah daerah dalam mengelola pariwisatanya.

Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa yang berdarah Bali juga menyampaikan komitmen kuat terhadap upaya menjaga kebersihan Pulau Dewata. Menurutnya, gerakan menjaga kebersihan harus dimulai dari rumah tangga, kemudian diperkuat di tingkat desa, kecamatan, hingga kabupaten/kota.

Pendekatan berjenjang ini dinilai penting agar pengelolaan sampah tidak lagi bersifat reaktif, melainkan menjadi bagian dari budaya hidup masyarakat Bali itu sendiri. Pariwisata yang berkualitas hanya bisa lahir dari masyarakat yang memiliki kesadaran lingkungan tinggi.

1th#ik-001.1/1/2026

Di luar isu kebersihan, diskusi juga mengerucut pada fenomena penting yang tengah terjadi di sektor pariwisata global, yakni pergeseran tren dan perilaku wisatawan. Wisatawan masa kini, baik lokal maupun mancanegara, semakin sadar akan pentingnya kesehatan dan keseimbangan hidup.

Bali, menurut Dr. Yonathan, berada pada posisi yang sangat strategis untuk menangkap tren ini. Selama ini Bali dikenal dengan wisata budaya, wisata alam, wisata bahari, dan kuliner. Namun kini, wellness tourism dan sport tourism mulai menjadi magnet baru yang tak bisa diabaikan. “Masyarakat sekarang datang ke Bali bukan hanya untuk liburan, tetapi juga untuk menjaga kesehatan, berolahraga, dan mencari kualitas hidup,” katanya.

Fenomena ini terlihat dari semakin tumbuhnya fasilitas-fasilitas olahraga dan kebugaran di Bali. Salah satu yang paling mencolok adalah olahraga padel yang sedang mengalami lonjakan popularitas. Lapangan padel bermunculan di berbagai wilayah Bali, menghadirkan pengalaman bermain olahraga modern dengan nuansa tropis khas Pulau Dewata.

Padel tidak hanya diminati wisatawan mancanegara, tetapi juga wisatawan domestik dan masyarakat lokal. Kombinasi antara olahraga, gaya hidup, dan lanskap Bali yang eksotis menjadikan padel sebagai daya tarik baru yang unik dan berkelas. “Ini kekuatan Bali. Bermain olahraga modern, tapi dengan sentuhan tropis dan budaya Bali. Tidak semua daerah di dunia bisa menawarkan pengalaman seperti ini,” ujar Dr. Yonathan.

Ia menegaskan bahwa Bali harus keluar dari ketergantungan pada konsep beach club semata. Diversifikasi produk pariwisata menjadi kunci agar Bali tidak terjebak dalam kejenuhan pasar dan persaingan harga yang tidak sehat.

Menurutnya, Bali adalah paket komplit. Adat dan budayanya indah, kulinernya kaya rasa, alamnya memesona, lautnya mendukung berbagai aktivitas water sport, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya menyimpan potensi wisata luar biasa. Ditambah dengan fasilitas olahraga yang semakin berkembang, Bali memiliki modal kuat untuk menjadi pusat sport tourism di kawasan Asia Pasifik.

1bl#bn-026.12/5/2024

Konsep bundling pariwisata menjadi salah satu ide konkret yang dibahas. Dr. Yonathan menggambarkan paket wisata tiga hari dua malam yang memadukan budaya, kuliner, dan olahraga. Hari pertama wisata budaya dan pertunjukan seni, hari kedua wisata kuliner dilanjutkan olahraga seperti padel dan water sport, dan hari ketiga belanja oleh-oleh khas Bali.

Model bundling ini dinilai mampu meningkatkan lama tinggal wisatawan sekaligus memperluas distribusi manfaat ekonomi ke berbagai sektor. Hotel-hotel yang tidak memiliki fasilitas olahraga juga bisa mengambil peran strategis dengan menjalin kerja sama dengan pengelola fasilitas olahraga di luar hotel.

Kerja sama ini tidak hanya menguntungkan wisatawan melalui harga yang lebih menarik, tetapi juga membantu pengusaha hotel lokal meningkatkan pendapatan tanpa harus melakukan investasi besar pada infrastruktur baru.

Namun demikian, Dr. Yonathan mengingatkan bahwa pengembangan sport tourism tidak boleh dilakukan secara asal-asalan. Fasilitas olahraga yang ditawarkan harus memenuhi standar kualitas internasional, baik dari sisi sarana prasarana, manajemen, maupun pelayanan terhadap tamu.

Treatment terhadap wisatawan yang datang untuk berolahraga harus profesional dan berkelas. Pengalaman yang buruk di satu fasilitas bisa berdampak besar pada citra Bali secara keseluruhan.

Ia juga menekankan pentingnya sentuhan budaya Bali dalam setiap fasilitas olahraga. Unsur arsitektur, keramahan khas Bali, hingga nilai-nilai lokal harus hadir sebagai pembeda yang tidak dimiliki destinasi lain. “Kalau ada nuansa Bali, itu akan menjadi unik. Itulah nilai jual kita,” katanya.

Dalam diskusi tersebut, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa juga memberikan dorongan kuat agar Bali mulai serius menggelar turnamen-turnamen olahraga berskala internasional. Menurutnya, Bali memiliki infrastruktur dan daya tarik yang memadai untuk menjadi tuan rumah event olahraga dunia.

Salah satu contoh konkret yang disampaikan adalah turnamen padel internasional. Hingga saat ini, Bali belum memiliki turnamen padel bertaraf internasional yang terkonsep dengan matang. Padahal, kualitas lapangan padel di Bali dinilai sudah sangat baik dan layak bersaing di level Asia bahkan dunia. “Kalau dikonsepkan dengan serius, kita bisa mulai dari level Asia, lalu naik ke level dunia. Lapangan-lapangan di Bali kualitasnya bagus,” ujar Ni Luh Puspa, perempuan kelahiran Buleleng 39 tahun silam itu.

Event olahraga internasional tidak hanya mendatangkan atlet dan ofisial, tetapi juga penonton, media, dan komunitas global yang akan memperpanjang eksposur Bali di mata dunia. Dampak ekonominya pun bersifat multiplikatif, mulai dari sektor perhotelan, transportasi, kuliner, hingga UMKM lokal.

Dr. Yonathan menilai bahwa sport tourism juga memiliki dimensi sosial dan budaya yang kuat. Olahraga bisa menjadi medium perjumpaan lintas bangsa yang sehat dan positif, sekaligus memperkuat citra Bali sebagai destinasi yang aman, ramah, dan berkelas.

Dari perspektif kebijakan, ia menekankan pentingnya dukungan regulasi yang adaptif dan progresif. Pemerintah daerah perlu hadir tidak hanya sebagai regulator, tetapi juga fasilitator dan katalisator bagi pengembangan sport tourism.

Sebagai anggota Badan Pembentukan Peraturan Daerah DPRD Kota Denpasar, Dr. Yonathan melihat peluang untuk mendorong kebijakan yang berpihak pada pariwisata berkualitas, berkelanjutan, dan berbasis nilai-nilai kemanusiaan.

Sport tourism, menurutnya, juga harus inklusif dan memberikan ruang bagi masyarakat lokal untuk terlibat dan mendapatkan manfaat nyata. Jangan sampai sport tourism hanya menjadi milik investor besar tanpa menyentuh ekonomi rakyat.

Jika dikelola dengan visi jangka panjang dan komitmen yang kuat, sport tourism diyakini mampu menjadi jendela baru pariwisata Bali. Jendela yang tidak hanya memperlihatkan keindahan alam dan budaya, tetapi juga kualitas hidup, kesehatan, dan peradaban Bali yang terus berkembang. “Kalau ini berjalan berkesinambungan, saya yakin sport tourism bisa memberikan kontribusi besar bagi pembangunan Bali ke depan,” tutup Dr. Yonathan dengan optimisme. ama/ksm

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular

spot_img
spot_img
spot_img