Pariwisata dan Hiburan

Jelang Akhir Tahun 2021, Disel Minta Rem dan Gas Diseimbangkan


Denpasar, PancarPOS | Harapan masa depan Bali bergantung pada sektor pariwisata. Apalagi seiring pembukaan Bandara Internasional Ngurah Rai, sejak 14 Oktober 2021, menjadi harapan kebangkitan perekonomian Bali kembali bergeliat, setelah dua tahun terdampak pandemi Covid-19. Namun, kondisi ini berpeluang kembali menghadapi tantangan berat lantaran Pemerintah Provinsi Bali melarang pesta kembang api untuk merayakan Tahun Baru 2022. Kebijakan ini sebagai respons pelarangan pelaksanaan Natal dan Tahun Baru 2022 oleh pemerintah pusat guna mencegah peningkatan kasus Covid-19.

1bl#ik-4/11/2021

Menyikapi kondisi ini, Wakil Ketua Komisi IV DPRD Bali, I Wayan Disel Astawa menegaskan rem dan gas antara sektor kesehatan dan ekonomi harus diseimbangkan. “Harus bisa menyeimbangkan antara sektor kesehatan dan ekonomi. Kalau ekonomi tidak sehat bagaimana masyarakat berpikir sehat? Meski demikian saya mengucapkan terima kasih kepada pemerintah pusat, Pemprov Bali, Pemkab Badung, dan stakeholder terkait atas upaya pencegahan penyebarluasan pandemi Covid-19,” ucap sosok kharismatik yang juga mengemban amanah sebagai Bendesa Adat Ungasan itu, saat ditemui, Senin (29/11/2021).

1bl#ik-4/11/2021

“Saya berterima kasih kepada pemerintah dalam rangka penerapan prokes. Kita sudah 2 tahun menghadapi permasalahan yang sama. Kita berharap khusus untuk Bali ada kebijakan sendiri. 2 tahun pegawai hotel sudah tidak bekerja. Pariwisata tidak berjalan, otomatis semuanya tidak berjalan,” ungkapnya. Disel merinci dalam posisi kasus aktif hingga 28 November 2021 berjumlah 174 kasus, RS rujukan (55/ 31,61%), isolasi terpusat (90/ 51,72%), isolasi mandiri (29/16,67%) tempat isolasi terpusat kapasitas 883 bed (terisi 90 bed, 10,19 %), tersisa 793 bed (89,81%). Terdapat 175 tempat isolasi terpusat tersebar di seluruh kabupaten/kota dan Provinsi Bali. Dengan kata lain, Bali sejatinya siap membuka diri untuk masyarakat internasional seiring penerapan protokol kesehatan yang super ketat.

1bl#ik-8/11/2021

“Dalam kondisi vaksinasi yang sukses digelar, prokes ketat, CHSE diterapkan pengusaha, aplikasi Peduli Lindungi menjadi syarat wajib dan ada di tiap objek pariwisata, serta persyaratan transportasi udara dan laut ketat, biarkan saja pariwisata berjalan sesuai prokes ketat seharusnya cuma kegiatan saja yang dibatasi. Jangan sampai pergerakan ekonomi juga dibatasi. Jadi perayaan Natal dan malam pergantian Tahun Baru 2022 idealnya tetap bisa dilaksanakan, namun dengan pembatasan-pembatasan dan protokol kesehatan ketat,” terangnya. Dengan terisinya akomodasi pariwisata disertai pembatasan ketat, maka imbas positifnya akan dirasakan oleh masyarakat terbawah, khususnya travel, guide, dan sejenisnya. “Ini adalah harapan yang harus dimanfaatkan. Turis domestik adalah peluang bagi masyarakat Bali untuk mencari sesuap nasi di masa sulit ini. Kita harus bersyukur geliat ekonomi mulai tumbuh meski masih jauh dari kata normal,” terangnya.

1bl#ik-8/11/2021

Khusus harapan terhadap kehadiran turis asing, Disel menegaskan harapan itu tentu ideal, namun dirinya sadar wabah pandemi Covid-19 adalah masalah yang mendunia sehingga apa yang sudah ada di depan mata, yakni turis domestik yang harus dimaksimalkan. “Dalam keadaan saat ini, negara-negara lain di dunia semuanya menghadapi masalah yang sama. Turis domestik menjadi tumpuan saat ini agar petani dan peternak serta UMKM kita tetap bertahan hidup. Kita tidak seperti Surabaya yang ditopang industri. Kita di Bali hanya mengandalkan pariwisata. Kalau pariwisata rontok ya semuanya terimbas. Untuk level 3 yang akan diberlakukan secara nasional, saya menilai yang penting dilakukan adalah pengetatan prokes dan masyarakat tetap beraktivitas seperti sedia kala,” tutupnya. sur/ama

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Back to top button
Website is Protected by WordPress Protection from eDarpan.com.

Close