Dr. IB ASTINA CEO & Owner Biwi Group Soroti Arah Baru Poltekpar: Ada Indikasi Perubahan Besar?

Tabanan, PancarPOS | CEO & Owner Biwi Group, Dr. Ida Bagus Putu Astina, S.H., M.H., MBA., CLA., yang juga Managing Partner Astina Law Firm & Partner, menanggapi hangat isu perubahan arah pengelolaan Politeknik Pariwisata (Poltekpar) yang kini berada di bawah Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Menurutnya, jika ke depan Poltekpar dialihkan ke Kementerian Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, itu memang sudah seharusnya sejak awal dan linier secara fungsi.
“Yang dipakai sebagai tolok ukur kan STP Nusa Dua yang kini sudah menjadi Poltekpar di bawah kementerian. Kalau pun nantinya berada di bawah Kementerian Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, itu jalurnya sudah sangat tepat,” ujar pengacara dan pengusaha yang juga dikenal sebagai tokoh pendidikan di Tabanan ini, Jumat (26/7/2025). Dr. Astina juga pernah menjabat sebagai Ketua Kadin Tabanan dua periode dan kini menjabat sebagai Ketua Umum PPS SMI Tabanan.

Ia turut menyinggung pernyataan rekannya, Dr. Parwata, yang memiliki pandangan berbeda terkait isu tersebut. Menurutnya, sah-sah saja menyampaikan opini karena ini bagian dari dinamika. Namun, perlu dipahami bahwa saat ini kekuasaan nasional didominasi oleh Partai Gerindra, sehingga kemungkinan munculnya kebijakan baru adalah hal yang wajar.
“Karena yang menjabat sekarang memiliki pandangan yang cerdas, paham, dan berani berpendapat. Artinya, penyampaian mereka sudah bisa dipertanggungjawabkan. Mereka tahu fokus dan tugas dari masing-masing kementerian,” tegas Dr. Astina.
Ia menjelaskan, Kemenparekraf bertanggung jawab atas pengembangan dan pengelolaan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, seperti perfilman, musik, fesyen, dan lainnya. Tugasnya juga mencakup perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pariwisata, promosi destinasi wisata, pengembangan produk pariwisata, serta peningkatan daya saing sektor ini.

Sementara itu, Kementerian Kebudayaan, Riset, dan Teknologi memiliki cakupan yang lebih luas, yakni mengurusi bidang kebudayaan, riset, dan teknologi, termasuk pendidikan nasional. Tugas pokoknya meliputi pelestarian dan pengembangan nilai-nilai budaya, mendorong kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pengelolaan sistem pendidikan nasional. “Jadi dari fokus dan tugas kementerian ini, cakupannya lebih luas,” jelas Ketua Umum Masyarakat Pemerhati Lingkungan & CSR Provinsi Bali ini.
Baginya, yang paling penting adalah orientasi pada penciptaan sumber daya manusia (SDM) pariwisata yang berkualitas. Ia merespons pernyataan Ketua DPRD Bali, Nyoman Adi Parwata, yang menyebut isu ini sebagai pemicu perubahan besar di sektor pariwisata. Namun, menurut Dr. Astina, terlalu dini jika langsung menyimpulkan demikian.
“Kalau Parwata bilang ini ‘trigger’ akan ada peralihan besar di bidang pariwisata, saya kira terlalu jauh. Kenapa juga harus menterinya dari Bali? Artinya, kita enggak usah alergi. Apa pun bentuk aturan yang mereka buat nanti, itu hasil kesepakatan mereka,” paparnya.

Dr. Astina adalah alumni BPLP Nusa Dua yang kemudian berubah menjadi STPND dan kini menjadi Poltekpar Nusa Dua. Dari kampus inilah ia mengawali karier hingga bisa berkeliling dunia bekerja di kapal pesiar. Berbekal pengalaman tersebut, ia kini dikenal sebagai figur multitalenta—pengacara sekaligus pengusaha sukses. Lulusan diploma pariwisata ini kemudian banting setir mengambil jurusan hukum dan menjadi salah satu putra terbaik Bali yang meraih gelar doktor dengan IPK cum laude. Ia juga memiliki keahlian di bidang pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun yang ramah lingkungan. tim/ama/ksm









