Kamis, April 30, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
BerandaPolitik dan Sosial BudayaAdi Wiryatama Blusukan ke Sawah, Petani Heboh Panen Raya Harga Gabah Tembus...

Adi Wiryatama Blusukan ke Sawah, Petani Heboh Panen Raya Harga Gabah Tembus Rp7.000

Tabanan, PancarPOS | Rabu (24/9/2024) menjadi hari yang penuh semangat bagi petani di Subak Penarukan, Kerambitan, Tabanan. Dalam rangka menyambut Hari Tani Nasional, anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Nyoman Adi Wiryatama, benar-benar turun ke sawah dan menyatu dengan kehidupan para petani. Kehadirannya bukan sekadar seremonial, melainkan aksi nyata seorang wakil rakyat yang sudah lama dikenal dekat dengan dunia pertanian Bali.

Mantan Bupati Tabanan dua periode dan pernah menjabat sebagai Ketua DPRD Provinsi Bali ini datang dengan gaya sederhana. Ia tidak hanya berbincang dengan petani, tetapi juga ikut terjun langsung ke lumpur sawah. Dengan semangat, Adi Wiryatama ikut menyirami tanaman bunga pacah, yaitu tanaman sela antara padi dan padi berikutnya yang kini mulai dilirik sebagai komoditas alternatif. Menurut para petani, bunga pacah sangat mudah ditanam, cepat laku di pasaran, dan menjadi kebutuhan penting di Bali karena hampir setiap upacara adat memerlukannya.

Suasana semakin meriah ketika Adi Wiryatama bergabung dalam panen raya padi massal bersama krama subak. Senyum petani merekah lebar lantaran hasil panen kali ini cukup melimpah. Dari satu hektare sawah bisa menghasilkan 6 hingga 7 ton gabah. Lebih menggembirakan lagi, harga gabah di tingkat petani tembus Rp7.000 per kilogram. Angka ini jauh lebih tinggi dari Harga Eceran Tertinggi (HET) gabah kering giling pemerintah yang ditetapkan Rp6.500 per kilogram.

Adi Wiryatama duduk bersila bersama para pekaseh dan krama subak untuk mendengarkan aspirasi. (foto: ama)

“Hasilnya bagus, harga pun menggembirakan. Apalagi sekarang pupuk sudah lancar. Kami merasa lebih diperhatikan,” ungkap seorang pekaseh setempat. Ia menambahkan, para petani kini bisa bernafas lega setelah lama didera persoalan pupuk langka dan harga gabah yang tidak menentu.

Selepas panen, Adi Wiryatama duduk bersila bersama para pekaseh dan krama subak untuk mendengarkan aspirasi. Satu per satu usulan disampaikan dengan penuh harapan. Ada tujuh poin penting yang menjadi suara bersama: perbaikan irigasi subak yang rusak akibat banjir, permintaan bibit unggul, penyediaan alat berat berupa loader kecil untuk mengatasi pendangkalan irigasi, pembatasan alih fungsi lahan, pengembalian dana Bantuan Keuangan Khusus (BKK) subak ke angka Rp50 juta, pelaksanaan proyek irigasi dengan sistem swakelola atau padat karya, serta harapan agar tatap muka dengan wakil rakyat dilakukan secara rutin, bukan hanya saat momen tertentu.

Dengan tenang, Adi Wiryatama mendengarkan semua keluhan tersebut. Ia menegaskan komitmennya untuk membawa aspirasi petani Bali ke Senayan. “Petani adalah tulang punggung bangsa. Kalau petani sejahtera, Indonesia pasti bangkit. Saya akan kawal penuh semua kebutuhan ini, terutama soal irigasi, bibit unggul, dan menjaga lahan pertanian agar tidak terus berkurang karena alih fungsi,” ujarnya dengan lantang.

Pernyataan itu disambut tepuk tangan petani yang hadir. Mereka merasa tidak hanya didengar, tetapi juga diyakinkan bahwa suara mereka benar-benar diperjuangkan. Dukungan makin terasa ketika tokoh dari Pekaseh Subak Enggung (Katak), I Wayan Arba, turut angkat bicara. “Kami sangat bangga dengan Pak Adi. Beliau tidak hanya datang untuk diliput kamera, tapi benar-benar nyemplung ke sawah, ikut nyiram, ikut panen, dan mau duduk berlama-lama mendengar keluhan kami. Ini jarang sekali terjadi. Kami percaya aspirasi kami tidak akan sia-sia,” ujarnya penuh haru.

Sebagai bentuk kepedulian, Adi Wiryatama juga menyerahkan bantuan konsumsi seadanya kepada para petani serta membagikan kaos bertuliskan “Petani Maju, Indonesia Bangkit”. Kaos itu langsung dipakai oleh krama subak yang hadir, menjadi simbol semangat baru bahwa petani Bali tidak boleh ditinggalkan.

Momen Hari Tani Nasional di Subak Penarukan pun terasa istimewa. Petani tidak hanya merayakan panen yang melimpah dan harga gabah yang menguntungkan, tetapi juga merasakan kehadiran wakil rakyat yang benar-benar turun ke sawah, menyatu dengan mereka, dan mau memperjuangkan nasib petani secara nyata. ama/ksm

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular

spot_img
spot_img
spot_img