Politik dan Sosial Budaya

Limbah Covid-19 Tak Terkontrol, Gus Adhi Desak Pengelolaan Sampah Medis dan B3 Secara Mandiri


Badung, PancarPOS | Anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, AA. Bagus Adhi Mahendra Putra, SH., MH., MKn., mendesak Pemda Kabupaten/Kota dan Pemprov Bali segera melalukan pengelelolaan sampah maupun limbah medis dan bahan berbahaya dan beracun (B3) secara mandiri, karena mulai dirasakan tak terkontrol. Upaya itu agar mencegah sampah B3 tercecer dan merusak lingkungan hidup. Oleh karena Bali sebagai destinasi pariwisata Bali. “Kalau kita mau kelola sampah, saya yakin tidak ada masalah, negara-negara maju, seperti Singapura sudah terapkan teknologi, bahkan diolah sudah mulai dari mobil pengangkut sampah,” kata Gus Adhi sapaan akrab politisi muda itu saat ditemui di Puri Amatra, Kerobokan, Badung, Sabtu (23/10/2021).

1bl#ik-21/8/2021.

Menurutnya, sampah B3 semakin meningkat akibat pandemi Covid-19. Bahkan Persatuan Rumah Sakit Indonesia (PERSI) memperkirakan secara nasional penambahan volume timbulan limbah medis di masa pandemi Covid-19 sekitar 30% dari jumlah normalnya. Bila dibandingkan, pembuangan limbah medis di China di saat normal adalah 4.900 ton/hari, dan di masa pandemi bisa mencapai 6.070 ton/hari, kenaikannya hampir 2.000 ton/hari. Untuk itu, pihaknya menegaskan Pemerintah Provinsi Bali melalui dinas/instansi terkait untuk membangun satu sentra penanganan pengolahan limbah rumah sakit khususnya sampah (B3). “Saya lebih cenderung membangun pengolahan itu dekat dengan sumbernya yakni rumah sakit,” ujar Ketua Depidar Soksi Bali itu.

Putra Sang Patriot Politik, IGK Adhi Putra itu, seraya mengingatkan Pemerintah Bali agar segera mengatasi jumlah timbulan sampah atau limbah sebanyak itu, dapat menjadi sumber masalah baru. Apalagi di tengah pandemi, khawatir menjadi media baru dalam penyebaran covid-19 apabila tidak ditangani dengan serius, profesional, terukur, terarah, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. “Limbah ini kalau tidak ditangani dengan benar maka akan mencemari lingkungan dan mengancam kesehatan,” imbuh Gus Adhi yang juga Ketua Depidar XXI SOKSI Provinsi Bali. Dalam UU Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pun menyebut limbah B3 adalah zat, energi, atau komponen lain yang karena sifat, konsentrasi atau jumlahnya baik secara langsung maupun tidak, dapat mencemarkan, merusak dan membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, dan kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya.

Ik#1th-10/10/2021

Pemusnahan limbah B3 infeksius Covid-19 secara tepat dan benar sangat penting untuk memutus mata rantai penularan Covid-19. Saat ini, limbah medis Covid-19 tak hanya berasal dari rumah sakit dan rumah sakit darurat Covid-19, namun juga bersumber dari rumah tangga Orang Dalam Pengawasan (ODP) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) seperti limbah masker bekas, alat pelindung diri bekas. aya/ama/ksm

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Back to top button
Website is Protected by WordPress Protection from eDarpan.com.

Close