Politik dan Sosial Budaya

Ksatria Bali Sedang Diuji, Ismaya: Generasi Tersandra akan Menjadi Tumbal



Denpasar, PancarPOS | Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Denpasar, tampaknya membuat sosok I Ketut Ismaya, eks Sekretaris Jenderal Ormas Laskar Bali makin bijaksana dan dewasa. Menyikapi pro kontra pelaporan anggota DPD RI dua periode, Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa atau AWK ke Polda Bali, KERIS sapaan akrab I Ketut Ismaya Jaya menyebut masyarakat Bali sedang diuji untuk menjadi ksatria yang sesungguhnya. “Kalau ksatria itu apa yang diucapkan harus dipertanggungjawabkan. Ksatria itu harus berani ngomong. Ketika kini banyak yang berani berbicara, mengeluarkan pendapat, seorang ksatria harus berani bicara. Jangan lari. Bila lari tentu sangat disayangkan,” ucapnya. Sikap ksatria orang Bali juga akan menghadapi ujian berat saat mereka yang “dianggap” tokoh Hindu, baik terlapor maupun pelapor masuk penjara. Namun, karena kebernaran atau dharma harus ditegakkan, maka sepahit apapun ujian tersebut harus diterima dengan lapang dada.

1bn-ik#24/1/2020

KERIS mengungkapkan kebenaran dharma harus ditegakkan. Tidak membeda-bedakan orang. Seperti apapun perjuangan atau cita-cita perjuangan seorang tokoh, tetap dharma yang utama. “Mari berpikir dan menyikapi semua masalah dengan dharma. Kalau menutupi kebohongan atau kepalsuan, siapapun dia, jelas melakukan adharma. Apakah tetap akan mengatakan ya? Apakah akan tetap dibela? Tuhan pun akan marah.” tegasnya. Seorang pemimpin, terang Ismaya harus menyuarakan dharma demikian juga dengan para pengikutnya. Lebih-lebih tanah Bali sangat keramat. Jadi, pantang untuk main-main. Siapapun yang berani berbohong atau sengaja melakukan kesalahan, diyakini akan menerima akibatnya. “Saya tidak membela siapapun. Saya hanya ingin kebenaran ditegakkan. Ketika saya di penjara, proses hidup dan proses alam membuat saya lebih paham apa yang dimaksud ksatria. Pikiran, ucapan, dan perilaku seorang ksatria haruslah sama,” jelasnya. Dharma harus dijunjung tinggi agar zaman tidak menjadi kaliyuga.

Baca | Mantan Sekjen Ormas di Bali Minta Tokoh Bali Jangan “Berperang”

Para sulinggih, tokoh, budayawan, praktisi, akademisi tegas Ismaya harus berani mengatakan salah untuk sesuatu yang salah dan sebaliknya berkata benar untuk segala sesuatu yang benar. Bila mereka tersandera, maka generasi berikutnya yang akan menjadi tumbalnya. “Semeton Hindu, betul-betulah pakai hatimu untuk melihat kebenaran. Jangan melihat sosok. Jangan melihat figur. Ketika salah ya tetap katakan salah. Masyarakat harus paham banyak yang berjuang untuk tanah Bali di dunia nyata dan memilih tidak pamer di dunia maya. Buktinya, dari dulu sampai saat ini tatanan adat dan budaya Bali tetap ajeg,” tandasnya. Kepada para ksatria yang berjuang atau merasa berjuang dan suka koar-koar, Keris mengajak untuk berpikir bijaksana dan mulat sarira. Jika salah lebih baik mengakui kesalahan dan bukan malah mencari pembenaran. “Lambat laun kebusukan apapun akan tercium, terbuka, dan terbongkar. Saran saya, para tokoh mari duduk bersama. Ini penting agar tidak terjadi kesalahan persepsi. Generasi muda kita jelas bisa jadi tumbal keegoisan kita. Jangan sampai generasi muda Bali, khususnya yang beragama Hindu dibawa ke jalan tidak benar,” tandasnya. tim/ija/ama/jmg

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Back to top button
Website is Protected by WordPress Protection from eDarpan.com.

Close