Politik dan Sosial Budaya

Dari Desa Taman Bali, Kesuma Kelakan Kobarkan Nasionalisme Berbasis Empat Pilar di Tengah Tantangan Zaman


Bangli, PancarPOS | Di tengah tantangan kebangsaan yang kian kompleks akibat globalisasi, derasnya arus informasi digital, serta menguatnya potensi konflik sosial berbasis perbedaan, Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) kembali menegaskan pentingnya penguatan nilai-nilai kebangsaan hingga ke tingkat desa. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang digelar di Desa Taman Bali, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Sabtu (21/12/2025).

Kegiatan ini menghadirkan Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan sekaligus Anggota Badan Pengkajian MPR RI, I.G.N. Kesuma Kelakan, S.T., M.Si. Sosialisasi diikuti oleh tokoh adat, tokoh masyarakat, perangkat desa, kaum perempuan, hingga generasi muda, yang sejak awal hingga akhir kegiatan tampak antusias mengikuti paparan dan dialog kebangsaan yang berlangsung secara terbuka dan partisipatif.

Dalam penyampaiannya, Kesuma Kelakan menegaskan bahwa semangat nasionalisme merupakan fondasi utama yang menjaga keberlangsungan bangsa Indonesia. Nasionalisme, menurutnya, tidak hanya dimaknai sebagai rasa cinta terhadap tanah air, tetapi juga sebagai komitmen kolektif untuk menjaga persatuan, menghormati keberagaman, serta berpartisipasi aktif dalam pembangunan nasional. “Nasionalisme itu bukan sekadar slogan atau simbol. Nasionalisme adalah sikap hidup yang harus tercermin dalam keseharian kita sebagai warga negara,” ujar politisi senior yang sempat menjabat Wakil Gubernur Bali dan anggota DPD RI Perwakilan Bali itu.

Warga Desa Taman Bali, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli tampak antusias mengikuti Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan MPR RI yang digelar pada Sabtu (21/12/2025). (foto: ama)

Ia menjelaskan, Indonesia sebagai negara kepulauan dengan keragaman etnis, budaya, bahasa, dan agama membutuhkan landasan kebangsaan yang kokoh agar perbedaan tidak berubah menjadi sumber konflik. Dalam konteks itulah Empat Pilar Kebangsaan Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika menjadi pedoman utama dalam menjaga jati diri dan karakter bangsa.

Pancasila sebagai pilar pertama disebut Kesuma Kelakan sebagai ideologi bangsa yang mengandung nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial. Nilai-nilai tersebut, katanya, bukan hanya dasar normatif negara, tetapi juga panduan etis dalam berperilaku. “Kalau Pancasila benar-benar kita pahami dan kita hayati, maka sikap toleransi, saling menghargai, dan gotong royong akan tumbuh dengan sendirinya,” ucapnya.

Menurutnya, penguatan Pancasila menjadi sangat penting di tengah masuknya berbagai nilai baru akibat globalisasi dan perkembangan teknologi informasi. Tanpa fondasi ideologis yang kuat, masyarakat mudah terombang-ambing oleh pengaruh luar yang tidak selalu sejalan dengan kepribadian bangsa. “Empat Pilar ini adalah alat kontrol moral agar kita tidak kehilangan arah sebagai bangsa,” tegasnya.

1th#ik-033.11/10/2025

Lebih lanjut, Kesuma Kelakan menekankan peran Undang-Undang Dasar 1945 sebagai pilar kedua yang memberikan kerangka hukum dan konstitusional dalam kehidupan bernegara. Pemahaman terhadap konstitusi dinilai penting agar masyarakat mengetahui hak dan kewajibannya secara seimbang. “Nasionalisme juga berarti taat pada konstitusi, patuh pada hukum, dan ikut menjaga ketertiban sosial,” katanya.

Ia menambahkan, kesadaran berkonstitusi akan mendorong masyarakat untuk berpartisipasi secara sadar dan kritis dalam kehidupan demokrasi. Partisipasi dalam pemilu, keterlibatan dalam pembangunan, serta kepedulian terhadap kebijakan publik merupakan wujud nyata nasionalisme dalam praktik kehidupan bernegara.

Pilar ketiga, Negara Kesatuan Republik Indonesia, ditegaskan sebagai bentuk final negara yang harus dijaga bersama. Kesuma Kelakan mengingatkan bahwa ancaman terhadap keutuhan NKRI masih terus ada, baik dalam bentuk konflik horizontal, provokasi politik, hingga penyebaran hoaks dan ujaran kebencian di ruang digital. “Sekarang ancaman persatuan tidak selalu datang secara fisik. Banyak yang datang lewat media sosial dan informasi yang menyesatkan,” ujarnya.

1th#ik-039.1/12/2025

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya literasi digital dan ketahanan ideologi masyarakat agar tidak mudah terprovokasi. Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, menurutnya, merupakan modal utama untuk mencapai kesejahteraan dan kemajuan nasional.

Sementara itu, Bhinneka Tunggal Ika sebagai pilar keempat dipandang sebagai kekuatan utama bangsa Indonesia dalam mengelola keberagaman. Kesuma Kelakan menegaskan bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan kekayaan bangsa yang harus dihargai dan dirawat. “Kita berbeda-beda, tetapi tetap satu. Itulah kekuatan Indonesia,” katanya.

Dalam konteks kehidupan masyarakat Bali yang plural, semangat Bhinneka Tunggal Ika dinilai sangat relevan untuk menjaga harmoni sosial. Toleransi, dialog, dan saling menghormati menjadi kunci agar perbedaan tidak berkembang menjadi konflik sosial yang merugikan semua pihak.

1bl#bn-026.12/5/2024

Kesuma Kelakan juga menyoroti peran strategis pendidikan, keluarga, dan lingkungan sosial dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan sejak dini. Menurutnya, nasionalisme tidak lahir secara instan, tetapi dibentuk melalui proses panjang yang berkelanjutan. “Kalau nilai kebangsaan ditanamkan sejak kecil, maka ketika dewasa mereka akan punya rasa memiliki terhadap bangsa dan negara,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan bukan sekadar kegiatan formal, melainkan momentum untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat. Ketika masyarakat memahami bahwa nasionalisme berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari dari menjaga kerukunan, taat hukum, hingga peduli lingkungan sosial, maka Empat Pilar tidak lagi menjadi konsep abstrak, tetapi nilai yang hidup.

Masyarakat Desa Taman Bali menyambut positif kegiatan tersebut. Warga menilai sosialisasi ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang pentingnya menjaga persatuan di tengah perubahan zaman yang cepat. Dialog yang terbangun juga membuka ruang diskusi terkait tantangan nyata yang dihadapi masyarakat dalam kehidupan sosial dan kebangsaan.

1bl#ik-042.19/9/2024

Melalui kegiatan ini, MPR RI berharap semangat nasionalisme dapat tumbuh secara berkelanjutan dan diwujudkan dalam tindakan nyata. Ketika Pancasila menjadi pedoman moral, UUD 1945 menjadi landasan hukum, NKRI menjadi komitmen bersama, dan Bhinneka Tunggal Ika menjadi semangat hidup berdampingan, maka bangsa Indonesia diyakini akan mampu menghadapi berbagai tantangan zaman dengan kokoh, percaya diri, dan bermartabat. ama/ksm



MinungNews.ID

Saluran Google News PancarPOS.com

Baca Juga :



Back to top button