Denpasar, PancarPOS | Dalam debat ketiga Pemilihan Bupati (Pilbup) Tabanan 2024, pasangan calon nomor urut 1, I Nyoman Mulyadi dan I Nyoman Ardika, mengungkapkan rencana untuk meningkatkan pengelolaan pendatang di Bali, termasuk Tabanan, dengan sistem perizinan yang terintegrasi. Mereka menekankan pentingnya menciptakan satu sistem yang menghubungkan perizinan di level banjar, subak, desa pakraman, hingga perumahan untuk memfasilitasi pendatang yang datang ke Tabanan, seiring dengan berkembangnya sektor pariwisata di daerah tersebut.
“Kami akan memastikan bahwa semua pihak, baik pendatang dari luar Bali maupun dari luar Tabanan, bisa bergabung secara harmonis dalam masyarakat Tabanan. Kami akan buat sistem perizinan yang terhubung dan efisien, sehingga siapapun bisa datang, bekerja, dan tinggal dengan aman,” ujar Ardika, yang akrab disapa Sengap.
Menurut Sengap, meskipun banyak pendatang yang datang ke Tabanan, sebagai warga negara Indonesia, mereka berhak untuk tinggal di mana saja selama mengikuti aturan yang berlaku. Ia menegaskan bahwa masyarakat Tabanan akan selalu terbuka untuk pendatang, tanpa memandang asal daerah atau latar belakang mereka.
Mulyadi-Ardika berkomitmen untuk membangun sinergi antara pemerintah, aparat desa, adat, dan masyarakat untuk menciptakan Tabanan yang aman, damai, dan sejahtera. “Kami akan bekerja bersama semua elemen masyarakat, dengan tujuan agar semua warga Tabanan, baik yang asli maupun pendatang, bisa hidup dengan harmonis,” tambah Mulyadi.
Selain soal perizinan, pasangan ini juga menekankan pentingnya menjaga dan melestarikan budaya serta tradisi Tabanan. Mulyadi mengatakan bahwa mereka akan terus menyelenggarakan pesta kesenian tahunan dan mendukung seniman lokal untuk berkembang, tanpa mengubah nilai-nilai budaya yang telah ada. “Tabanan memiliki seniman yang luar biasa, dan kami akan terus mendukung mereka dengan menjaga tradisi yang ada,” katanya.
Sengap menambahkan bahwa sistem agraris yang masih kuat di Tabanan memberikan potensi untuk mengembangkan kesenian yang unik dan khas daerah. Oleh karena itu, mereka berencana untuk memperluas dukungan terhadap komunitas seni, tidak hanya di daratan tetapi juga di kawasan pesisir yang dihuni oleh nelayan.
Program-program seperti alokasi dana sebesar Rp 1 miliar untuk setiap desa adat dan pendampingan CSR dari pihak swasta juga telah dipersiapkan untuk mendukung kemajuan budaya dan ekonomi lokal. “Kami juga akan membangun rumah kreatif untuk menampung berbagai potensi lokal dan memperkenalkan Tabanan secara lebih luas,” tambah Sengap.
Dengan visi yang mencakup pembangunan berbasis kebudayaan dan sistem perizinan yang lebih efektif, Mulyadi dan Ardika berharap dapat membawa Tabanan menjadi daerah yang lebih maju, inklusif, dan sejahtera. tim/ama/ksm






